Cerita Non Muslim di Reuni 212, Begini Dia Diperlakukan

Facebook

Facebook

Tak tanggung-tanggung, sepanjang jalan bermacam2 nasi bakar, roti, kue kue dan jeruk, kurma, anggur… inilah yang rasanya berbagi kesuka citaan dalam memberi karna hati2 mereka yg perhitungan yg memberi itu kepada Allah. (amal ibadah).


Saya membayangkan teringat dalam tradisi kristen di Manado – Sulawesi Utara dengan ucapan syukur yg dimana sepanjang rumah di kampung nenek saya semua menyiapkan makanan yg tumpah ruah bersuka cita karna telah diberkati Tuhan. Betapa indahnya diberkati untuk memberkati..

Melihat situasi yg ada dalam berbagi.. inikah datang reuni karna ada dapat uang bayaran 100 ribu atau 500 ribu ?!? atau bisakah 2 kejadian tersebut diatas dapat dibilang mengharapkan nasi bungkus ???

Menuding tanpa perhitungan.. bila kita ambil kalkulasi yg ada, contoh : melihat perjalanan pulang pergi rombongan dari sumatera (padang, medan, lampung dll), Sulawesi (makasar, palu dll), Kalimantan yg mana datang naik pesawat terbang, apakah itu “hanya” mengejar sebuah nasi bungkus dan air minum..?

Yang dari bali, jawa timur, madura, jawa tengah, jawa barat yang naik mobil, naik bus bahkan ada yang dari Bogor bersama sama naik sepeda ontel, dari Banyumas jalan kaki.. (salut untuk hal ini).. Berapa uang bensin, tiket bus, makan dijalan yang dikeluarkan untuk ini serta tenaga yang berlelah-lelah hanya untuk nasi bungkus..? Atau hanya untuk uang bayaran ??

ITU TIDAK SEBANDING DENGAN PENGELUARAN DAN PENGORBANAN YANG ADA.

*ayolah ini kenyataan.

Oooh kawan, itu tidak masuk akal, sesadar sadarnya manusia itu mustahil, tapi bila itu karna gerakan hati dari kebersamaan “spiritual” mereka yg menggerakan mereka untuk berkumpul silaturahmi sesuai agama dalam reuni aksi kali ini.. itu bisa jadi benar.

Marilah kita meletakkan dengan porsi pemikiran dan hati yang benar.. jangan dengan hati yang kotor dan keluar dengan mulut penuh dusta untuk menuding yang tidak pada tempatnya.

Loading...

loading...

Feeds