Ujung Berung Gudangnya Musik Cadas. Cuek pada YouTube, Tetap Produksi Kaset dan CD

Man Jasad (bertopi) bersama anak-anak band metal di Extend Studio, Ujung Berung. Foto: FOLLY AKBAR/JAWA POS
TERUS EKSIS

Man Jasad (bertopi) bersama anak-anak band metal di Extend Studio, Ujung Berung. Foto: FOLLY AKBAR/JAWA POS TERUS EKSIS

”Kalau mainstream tidak ada sponsor tidak manggung. Kita mah tetap manggung meski kecil-kecilan,” kata pria berkumis itu.


Meski demikian, tidak berarti Ujung Berung antiindustri. Hanya, mereka lebih suka membangun industri sendiri daripada mendompleng ke label tertentu.

Nyatanya, saat ini semua yang berkaitan dengan produksi (baik CD maupun merchandise), distribusi seperti distro, hingga publikasi media dibangun mereka sendiri.

”Industri mainstream penjualan sudah dimonopoli label. Kita jalan seadanya,” katanya.

Kukuhnya kesetiaan para penggemar juga tidak terlepas dari cara Ujung Berung dalam mendidiknya.

Baca Juga:

Rocket Rockers, Band Punk Bandung yang Torehkan Nama di Mancanegara

XL Axiata dan Yonder Music Sukses Hadirkan Iwan Fals dan Kotak

Dalam memproduksi karya, cara manual tapi bermartabat dengan membuat kaset atau CD terus ditanamkan. Maka jangan heran, segurem apa pun band metal di sana, semuanya memiliki CD. Sebab, Ujung Berung meyakini, cara produksi memengaruhi pola pikir konsumennya.

Mereka tidak sepakat dengan pola musisi sekarang yang mulai memanfaatkan internet seperti YouTube atau portal-portal musik. Menurut Man, cara tersebut sama saja dengan membodohi konsumen.

Dia menilai, mengakses karya seorang seniman tidak layak dilakukan dengan cara sembrono seperti mengunduh di situs atau menonton di YouTube.

”Itu cara yang zalim. Di balik proses produksi kan ada perut-perut yang harus diisi makanan, ada senar yang harus dibeli,” kata lulusan STM itu.

Sebaliknya, dengan cara bermartabat, akan terjadi ikatan saling menghargai antara seniman dan penggemar.

Selain itu, koleksi yang tampak secara fisik jauh memiliki nilai lebih. Bukan hanya sejarah. Melainkan juga keuntungan ekonomi. Biasanya, semakin jadul sebuah CD, semakin mahal nilai ekonominya.

Diakui, walau jumlah penikmatnya nanti tidak sampai puluhan juta seperti viewer klip video beberapa musisi di YouTube, Man yakin para penyukanya memiliki kesetiaan yang lebih dalam. ”Yang sekarang naik daun di YouTube paling sekilas saja,” guraunya.

Meski demikian, dia tidak terlampau risau jika ada oknum-oknum yang membajak karyanya. Sebab, para penggemarnya tetap akan membeli produk yang resmi. Karena pola itulah yang sudah dibangun selama puluhan tahun.

Nah, kini semangat itu pula yang terus ditanamkan kepada para adik-adiknya di Ujung Berung. Hanya dengan cara itu, Ujung Berung sebagai entitas musik metal tidak terjerembap pada kemunduran.

Tapi, diakui, proses transformasi tersebut tidak selalu berjalan mulus. Sebab, ada saja kelompok yang salah menerjemahkan nilai-nilai tersebut. Dalam menggelar acara, misalnya, mulai muncul beberapa kelompok di kalangan generasi baru yang gila popularitas.

Baca Juga:

Agnez Mo Kenalkan Video Klip Anyar, Ada ‘Adegan’ di Atas Ranjang

Setelah 7 Tahun Vakum, Ini Kabar Gembira dari Padi

”Mulai manja. Kalau bikin acara pengin diliput media mainstream, pengin ada sponsor,” kata dia.

Saat ditanya solusinya, Man mengaku hanya bisa berupaya tampil maksimal dan sesuai prinsip yang dipegang. Bagi seorang musisi, kampanye terbaik yang bisa dilakukan adalah memberikan contoh baik.

Dia enggan seperti politikus yang banyak bermain dengan kata-kata, tapi minim bukti. Toh, pada perjalanannya, waktu pula yang akan menjawab. Apakah sebuah band bisa tetap eksis atau justru masuk ke lubang kematian.

”Nanti berproses alami, yang oportunis akan mati dengan sendirinya,” kata pria yang bergabung dengan Jasad pada 1999 itu.

(*/c10/oki)

Loading...

loading...

Feeds