Ujung Berung Gudangnya Musik Cadas. Cuek pada YouTube, Tetap Produksi Kaset dan CD

Man Jasad (bertopi) bersama anak-anak band metal di Extend Studio, Ujung Berung. Foto: FOLLY AKBAR/JAWA POS
TERUS EKSIS

Man Jasad (bertopi) bersama anak-anak band metal di Extend Studio, Ujung Berung. Foto: FOLLY AKBAR/JAWA POS TERUS EKSIS

SIKAP berani lapar dengan tidak menghamba pada industri menjadi kunci band-band beraliran metal di Ujung Berung menjaga konsistensi. Hal itu juga memupuk fanatisme penggemar yang menjadi fondasi militansi.


====================

FOLLY AKBAR, Bandung

====================

Tak ada ada kesan kawasan metal saat Jawa Pos berkunjung ke Ujung Berung, Bandung, Jumat (3/11/2017). Meski melahirkan ratusan band metal, di wilayah di Bandung Timur tersebut malah sama sekali tak ada simbol musik cadas.

”Keseharian di sini sama saja kayak umumnya,” kata Muhamad Rohman, vokalis Jasad, saat ditemui di Extend Studio.

Jasad merupakan salah satu band metal Ujung Berung yang sudah mendunia. Selain itu, ada nama-nama tenar lainnya. Mulai Burgerkill, Forgotten, Beside, hingga Disinfected.

Meski kampung Ujung Berung terlihat biasa, aktivitas musik –khususnya metal– tak pernah mati. Setiap hari selalu ada anak-anak band yang berlatih atau sekadar berkumpul. Sebuah rutinitas yang berlangsung sejak akhir 1980-an.

Baca Juga:

Agnez Mo Kenalkan Video Klip Anyar, Ada ‘Adegan’ di Atas Ranjang

Setelah 7 Tahun Vakum, Ini Kabar Gembira dari Padi

Saat ini ada tiga studio yang menjadi jantung seniman metal bermusik sekaligus nongkrong di wilayah tersebut. Yaitu, Pieces Music Studio, Extend Music Studio, dan Rooms Music Studio.

Dari perkumpulan dan nongkrong bareng itulah, proses regenerasi berjalan turun-temurun. Ya, meski band underground di sana menjamur sejak tiga dekade lalu, tidak pernah ada proses formal dalam perjalanannya. Semuanya mengalir.

”Kita alamiah saja. Kalau formal jadi kayak ormas,” seloroh Man Jasad, sapaan akrabnya. Kalaupun ada komunitas bernama Ujung Berung Rabels, wadah tersebut sebatas membahas sejumlah acara yang digelar bersama.

Ameng, vokalis Disinfected yang juga salah seorang pentolan generasi awal Ujung Berung, menambahkan bahwa regenerasi di sana terbangun melalui relasi pertemanan.

Biasanya, ketertarikan untuk bermusik muncul karena komunikasi yang intens. ”Orang bawa teman ke sini, ngobrol-ngobrol. Lama-lama tertarik, jadi main,” terangnya.

Bahkan, kata Ameng, tidak sedikit pula di antara pelaku musik metal di Ujung Berung yang bermula dari coba-coba. Salah satu contohnya adalah Diaz yang kini merupakan gitarisnya.

”Dia awalnya utak-atik gitar,” ujarnya.

Dalam proses informal itu, semua saling berbagi. Tak melulu soal teknis bermusik, pengalaman dan nilai-nilai yang harus dimiliki seniman –khususnya pemusik cadas– pun terus ditransformasikan kepada mereka yang baru bergabung.

Man Jasad menceritakan, eksisnya musik metal di Ujung Berung saat komunitas serupa di kota lain seperti Jogjakarta ataupun Malang mulai redup bukanlah tanpa alasan.

Dalam survei internal, pada 2010 ada sekitar 140 band serumpun seperti metal, death metal, grindcore, hingga heavy metal di Bandung. Mayoritas ada di Ujung Berung.

Baca Juga:

Rocket Rockers, Band Punk Bandung yang Torehkan Nama di Mancanegara

XL Axiata dan Yonder Music Sukses Hadirkan Iwan Fals dan Kotak

Pria kelahiran Cimahi itu menyebutkan, kunci eksistensi adalah sikap berani lapar yang terus dijaga kawan-kawannya. Man mengklaim, meski tidak semua, banyak band metal di tempatnya yang masih kukuh memegang prinsip tersebut.

Dalam praktiknya, prinsip itu ditunaikan dengan cara bermusik yang tidak menghamba pada pemodal ataupun sponsor. ”Kita kalau ada sponsor syukur, kalau tidak ada, jalan sendiri,” tutur pria 39 tahun tersebut.

Uniknya, meninggalkan cara-cara industrialisasi musik mainstream justru membuat Ujung Berung semakin kuat.

Jasad, misalnya, berdiri sejak 1990-an hingga kini tetap eksis dan digandrungi penggemarnya. Sebuah capaian yang sulit didapat band-band yang mengikuti pola industri musik mainstream.

Dengan tidak menghamba pada industri mainstream, militansi dan fanatisme di kalangan para penyukanya justru menjadi fondasi yang kukuh bagi Ujung Berung.

Loading...

loading...

Feeds