Pidato Perdana Gubernur Anies Singgung Soal Pribumi dan Kolonial

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno saat sumpah jabatan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI di Istana Negara. Foto: M Fathra Nazrul Islam/jpnn.com

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno saat sumpah jabatan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI di Istana Negara. Foto: M Fathra Nazrul Islam/jpnn.com

POJOKBANDUNG.com – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan setelah dilantik Senin sore (16/10) langsung mendatangi Balai Kota yang kini menjadi kantornya. Usai melaksanakan serah terima jabatan (sertijab), dia menyampaikan pidato politik perdananya di hadapan warga Jakarta.


Anies berbicara soal perjuangan pribumi atau penduduk asli dalam melawan kolonialisme. Menurutnya, warga pribumi sudah sepatutnya menjadi tuan rumah di Indonesia.

“Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya di tengah-tengah masyarakat pendukungnya di Balai Kota, Senin (16/10).

Baca Juga:

Cagub DKI Anies Baswedan Kok Kunjungi Aher, Ada Apa?

Anaknya Tak Lulus SNMPTN, Mendikbud Anies Baswedan Malah Komentar Begini ….

Dia menilai, Jakarta merupakan satu dari sedikit tempat di Indonesia yang merasakan hadirnya penjajah dalam kehidupan sehari-hari selama berabad-abad lamanya.

“Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh tapi di Jakarta bagi orang Jakarta yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari,” timpal Anies.

Kemudian, dengan tegas pasangan Wakil Gubernur DKI Jakarts Sandiaga Uno itu mengingatkan, jangan sampai terjadi di Jakarta ini apa yang dituliskan dalam pepatah Madura: “Itik se atellor, ajam se ngeremme”.

Baca Juga:

Menang di Pilkada DKI, Gerindra Makin Pede Usung Prabowo Jadi Capres, Berpasangan dengan Anies Baswedan?

Usai Kompetisi, Anies Baswedan ke Kantor Gubernur untuk Menghadap Ahok

“Itik yang bertelur, ayam yang mengerami. Seseorang yang bekerja keras, hasilnya dinikmati orang lain,” tukasnya.

Lebih lanjut, Anies menyebut, Jakarta juga memiliki makna pentingnya dalam kehidupan berbangsa. Sebab, tekad menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat diproklamirkan ke seluruh dunia.

“Di kota ini, tekad satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa persatuan ditegakkan oleh para pemuda. Di kota ini pula bendera pusaka dikibartinggikan,” timpal Gubernur DKI Jakarta ke-19 itu.

(cr3/JPC)

Loading...

loading...

Feeds