Suami-Istri Ini Kompak Membangun Madrasah di “Kampung Prostitusi”

Suami istri Ubun dan Ai Komalasari, pendiri MDT Muhammad Alfatih. Foto: Kim/Radar Bandung

Suami istri Ubun dan Ai Komalasari, pendiri MDT Muhammad Alfatih. Foto: Kim/Radar Bandung

“Ada anak yang mengaku kalau orang tuanya adalah pemandu lagu di karaoke yang berjarak 500 meter dari MDT ini. Tapi itu tidak dipermasalahkan bagi kami, karena tujuan kami adalah memperbaiki generasi penerus,” ujarnya.


Di gedung MDT yang hanya berbentuk bangunan semi permanen dengan luas 8×10 meter itu, Ubun dan istrinya ikhlas melakukan pengajaran kepada 100 anak yang dibagi dalam beberapa kelas.

Baginya kebenaran harus terus disampaikan dalam kondisi apa pun. Ia berharap, imbalan dari usahanya ialah lahirnya generasi yang lebih baik di masa depan.

Baca Juga:

Penggerebekan “Prostitusi Gay” Dinilai Merendahkan Martabat Minoritas

Mayoritas ABG, Ada 6.300 Pelanggan Prostitusi di Kota Ini

Kepada Pemerintah setempat ia berharap madrasahnya diperhatikan. Dengan kondisi saat ini ia mengaku kesulitan melakukan KBM. Jika turun hujan, madrasah akan bocor. Proses KBM pun terganggu.

“Sudah mengajukan proposal kepada camat, namun belum ada tanggapan sama sekali,” ujarnya.

Ai Komalasari menambahkan, didirikannya MDT sebagai langkah mengembalikan tatanan kampung yang terjerat prostitusi. Akan tetapi seiring waktu, stigma buruk tersebut diharapkan sirna.

“Warga sekitar pun pernah bercerita terganggu dengan adanya karaoke, tetapi saat ada madrasah ini warga merasa senang,” tandasnya.

(kim)

Loading...

loading...

Feeds