Tak Terkendala Usia, BJ Habibie Bikin Pesawat Hemat Energi R80

BJ Habibie (depan dua kiri) di kediamannya, Kuningan, Jakarta

BJ Habibie (depan dua kiri) di kediamannya, Kuningan, Jakarta

MESKI sudah menginjak usia senja, mantan Presiden RI Baharuddin Jusuf  (B.J.) Habibie, 78, tak pernah berhenti melahirkan inovasi-inovasi baru di dunia dirgantara. Salah satu inovasi terbarunya adalah pesawat jenis R80. Seperti apa?


=====================

Yudha Krastawan, Jakarta

=====================

“Saya sampaikan, kalau naik mobil dari Jakarta ke Pemalang (Jawa Tengah, Red) bisa satu hari, naik pesawat kan hanya satu jam. Naik pesawat makin lama makin murah, apalagi kalau pesawatnya milik sendiri,” ujar B.J. Habibie saat berbincang dengan awak media tentang inovasi dan penggalangan dana pesawat R80 di kediamannya, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (28/9/2017) lalu.

Presiden Ketiga itu meyakini pesawat R80 akan mampu bersaing dengan Boeing 777. Apalagi pesawat tersebut memiliki sejumlah kelebihan, salah satunya hemat bahan bakar dan perawatannya yang terbilang lebih murah.

“Produk pesawat dalam negeri ini cocok untuk penerbangan antarkota dan pulau. Ini bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk rakyat sendiri,” ujar Habibie.

Belajar dari pengalaman masa lalu, Menteri Riset dan Teknologi era 1978-1998 pada Kabinet Pembangunan III hingga IV ini sebelumnya juga memiliki rancangan pesawat lain yang sempat mendunia.

Salah satunya pesawat jenis N-250. Sayangnya, pesawat itu gagal diproduksi masal karena alasan utang yang menggunung di era pemerintah Orde Baru. Padahal, selain pesawat terbang, Habibie juga merancang kereta cepat dan kontainer modern. “Tapi sudah dibubarkan,” keluhnya.

Untuk mencegah terulangnya sejarah kelam itu, Habibie berharap agar pesawat R80 mendapat dukungan dari berbagai pihak. Meski sudah didukung oleh pemerintah melalui keluarnya penetapan program pesawat R80 sebagai Program Strategis Nasional, namun masih dibutuhkan dana yang besar untuk pembuatan protipe pesawat tersebut.

Dana yang dibutuhkan mencapai lebih dari Rp 200 miliar. Sementara untuk keseluruhan pengembangan usaha sebesar USD 1,5 miliar atau sekitar Rp 20 triliun. Uang sebesar ini sedang digalang baik secara langsung melalui investment bankers maupun dicarikan oleh pemerintah dalam hal ini Bappenas.

Direktur Utama (Dirut) PT Regio Aviasi Industri (RAI) Agung Nugroho dalam kesempatan yang sama mengumumkan bahwa pihaknya membuka kesempatan bagi publik, untuk menjadi bagian dalam program pengembangan prototipe pesawat R80 melalui crowdfunding.

“Secara resmi RAI menjalin hubungan kerja sama dengan Kitabisa.com, selaku platform crowdfunding, sehingga publik bisa ikut menjadi bagian dan mendukung program pesawat R80, dengan mengakses Kitabisa.com/pesawat R80,” ujarnya.

Keterlibatan publik dalam crowdfunding selain untuk membantu engineer men-develop pesawat R80, juga merupakan bentuk kampanye agar masyarakat luas mengetahui upaya pembangunan industri dirgantara nasional.

Menurut Program Manager Kitabisa.com, Djordy Iskandar, setiap dukungan dari masyarakat Indonesia akan menaikkan kemungkinan RAI untuk mendapat investasi dan dukungan pemerintah.

Dan tentunya setiap Rupiah, kontribusi publik juga akan dipakai oleh tim engineer untuk men-develop prototipe R80. Rencananya, prototipe akan diujiterbangkan pada 2022. Setelah melewati proses sertifikasi, R80 baru akan diproduksi secara masal pada 2025 dan akan melayani penerbangan jarak pendek-menengah.

“Dukungan publik sangat dibutuhkan, agar rencana ini terwujud dan bisa berjalan sesuai dengan rencana,” tambahnya.

(ydh/indopos)

Loading...

loading...

Feeds