Awas… Lagu Bernuansa Vulgar Kian Marak, Keluarga Harus Makin Mawas Diri

Netty Prasetyani saat menjadi pembicara dalam Workshop Peningkatan Pemahaman Literasi Media Penyiaran Bagi Lembaga Pendidikan dengan tema

Netty Prasetyani saat menjadi pembicara dalam Workshop Peningkatan Pemahaman Literasi Media Penyiaran Bagi Lembaga Pendidikan dengan tema "Gerakan Menciptakan Media yang Ramah Anak", di Hotel Apita Jl. Tuparev No. 323 Cirebon.

POJOKBANDUNG.com- SEMAKIN maraknya lagu-lagu bernuansa vulgar dan berbau pornografi di kalangan anak muda, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat Netty Heryawan menanggapinya dengan kritis.


Ia mendorong keluarga dan sekolah tidak memandang enteng dampak negatif yang boleh jadi diterapkan lewat lagu-lagu yang kurang layak bagi anak.

Sebut saja lagu Despacito milik Luis Fonsi atau lagu Shape of You yang dipopulerkan penyanyi kawakan Ed Sheeran, Netty mengungkapkan lirik lagu yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia tersebut sarat akan intimasi dan pornografi.

Hal ini tentu berdampak negatif pada pola pikir anak-anak muda. Namun sayangnya banyak orangtua yang tidak paham dan berbalik bangga bila anaknya mampu berbahasa asing.

“Keluarga itu tidak boleh merasa tenang apabila anak menyenandungkan lagu-lagu yang kita anggap, wah ini anak kita modern nih, bahasa Inggrisnya sudah lancar, padahal ternyata isi dari lagu-lagu itu menggambarkan intimasi atau hal-hal yang berbau pornografi,” ujar Netty selepas acara Workshop Peningkatan Pemahaman Literasi Media Penyiaran Bagi Lembaga Pendidikan dengan tema “Gerakan Menciptakan Media yang Ramah Anak”, di Hotel Apita Jl. Tuparev No. 323 Cirebon, belum lama ini.

Tontonan, lanjut Netty, sangat mempengaruhi pola pikir, gaya hidup, bahkan sikap dan perilaku. Tak terkecuali lagu-lagu bernuansa vulgar, tidak menutup kemungkinan dapat menjadi pemicu khususnya bagi anak-anak di bawah umur yang dalam masa pubertas, untuk mencoba meniru apa yang disimaknya dan berperilaku menyimpang.

Guna menghindari hal tersebut, Netty menegaskan instansi keluarga dan sekolah untuk berperan aktif dalam upaya literasi media bagi anak. Tentunya, kata Netty, literasi media ini bukan hanya sekedar kita melarang menonton ini dan itu, tapi juga menawarkan alternatif seperti mengurangi paparan media yang negatif dengan kebiasaan membaca maupun beraktivitas di organisasi.

“Tentu keluarga harus bekerja keras untuk meningkatkan pengetahuan, memperbaiki keterampilan dalam menyelenggarakan parenting, dan sekolah juga mulai harus terlibat dalam upaya literasi media ini,” tutur Netty.

“Saya sangat berharap konsep sekolah ramah anak berbasis bebas kekerasan di Jawa Barat ini bisa diimplementasikan agar salah satu materi yang harus disampaikan sekolah kepada peserta didik adalah literasi media,” harapnya.

(mun)

Loading...

loading...

Feeds