Tangan Dingin di Balik Kelahiran Pesawat N-219 Karya Anak Bangsa

Foto: Riana Setiawan

Foto: Riana Setiawan

Bentuk sayap dibuat lebar dan lurus dengan posisi ditempel di atas fuselage. Bentuk seperti itu memungkinkan N-219 bermanuver lincah di ketinggian dan kecepatan rendah. Selain itu, sayap di atas memungkinkan luasnya ground clearance antara propeler dan permukaan tanah.


Palmana menyebutkan, ada berbagai opsi bentuk dan letak sayap. Namun, jika sayap diletakkan di bawah badan, otomatis roda pendaratan harus dibuat lebih tinggi untuk memperluas ground clearance dengan tanah. Konsekuensinya, setiap penumpang harus naik ke pesawat dengan tangga. “Ini tidak efisien untuk operasi di bandara-bandara perintis yang minim ground service,” katanya.

Purwarupa pesawat pertama N219 lepas landas saat “flight test” untuk kedua kalinya, di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Jalan Padjajaran, Kota Bandung, Rabu (23/8). Foto: Riana Setiawan

Untuk tenaga, N-219 dilengkapi sepasang mesin Turboprop Pratt and Whitney PT6A-42 dengan daya dorong masing-masing 850 tenaga kuda. Mampu mendorong N-219 melaju 210 knots. Kecepatan jelajah terbaik di kelasnya.

Kedua mesin dihidupkan dengan baterai elektrik. Pada posisi diam di bandara, pilot cukup menekan tombol untuk menghidupkan mesin. Tidak dibutuhkan bantuan auxiliary power unit (APU) atau generator eksternal. “Kalau mesin mati, bisa juga restart di udara,” ujarnya.

Namun, tidak ada yang lebih dibanggakan daripada kemampuan mendarat dan tinggal landas yang singkat. N-219 hanya membutuhkan 435 meter dalam kondisi penuh muatan dan 375 meter jika tanpa muatan. Untuk mendarat, hanya dibutuhkan 509 meter. Sepanjang 192 meter di antaranya digunakan untuk menggelinding di tanah.

Kemampuan itu dihasilkan berkat perhitungan aerodinamika yang teliti. N-219 juga sangat fleksibel untuk berbagai misi. Selain mengangkut 19 penumpang, kabin bisa diatur sebagai rumah sakit terbang, pengangkut tentara, dan bahkan kargo.

Loading...

loading...

Feeds