Dunia Bakal Dikuasai Mesin, Namun Riset Robot Indonesia Minim

Tim robotika Universitas Gadjah Mada menjadi juara umum dalam ajang Kontes Robot Indonesia (KRI) 2017 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. FOTO: IMAN H

Tim robotika Universitas Gadjah Mada menjadi juara umum dalam ajang Kontes Robot Indonesia (KRI) 2017 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. FOTO: IMAN H

Setelah robot hasil riset jadi dibikin, selanjutnya diperlukan perawatan yang lagi-lagi perlu dana. Dalam mengikuti kompetisi robot, tim ITB harus pandai-pandai menyiasati kendala modal yang minim ini. Di sisi lain, dana dari kampus sangat terbatas.


“Paling kami optimasi di software/program,” ujarnya. Sedangkan hardware yang dipakai memakai komponen robot dari kompetisi tahun sebelumnya.

Sebagai gambaran, biaya membuat robot pemadam api mencapai Rp20 juta. Komponen paling mahal ialah servo motors yang fungsinya agar robot bisa bergerak fleksibel seperti manusia.

“Harga servo motors Rp4 jutaan. Sedangkan satu robot membutuhkan lebih dari satu servo motors,” sebutnya.

Sementara Citra Larasati, leader sekaligus programmer Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI) 2017 dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (Pens), juga yakin bahwa teknologi robot bakal menjadi masa depan dunia.

Perkembangan robot dalam negeri sendiri mampu bersaing dengan robot-robot luar negeri. “Kita bisa melihat kualitas robot kita di KRI ini, berani bersaing dengan robot luar negeri,” kata Citra Larasati yang bersama tim robotnya bernama Erisa keluar menjadi juara dua KRSTI 2017.

Baca Juga:

Pertarungan Robot Tingkat Nasional di UPI Bandung, Ini Hasil Lengkapnya

Hebat, Siswa SMK di Cimahi Bikin Robot dan Bakal Diikutkan Lomba di Jepang

Walah, Robot Penjelajah NASA Mogok di Mars

Hanya saja memang, pengembangan robot di Indonesia terkendala dana yang berimbas pada lemahnya riset. Terlebih biaya riset robotika amat mahal. Robot Erisa sendiri membutuhakan dana Rp65 juta.

Dengan biaya itu, robot Erisa bisa menari mengikuti musik. Untuk menyiasati bengkaknya biaya, tim robotika Erisa memakai cara mencicil. Misalnya, tahun ini membuat satu robot, tahun depan membuat satu robot lagi.

“Harapan kami pemerintah lebih memerhatikan lagi dana riset robotika ini,” ujar mahasiswi telekomunikasi itu. Jika tidak ada perhatian, ia khawatir masa depan robot Indonesia tidak berkembang dan kalah bersaing dengan robot luar negeri.

(men/pojokbandung)

Loading...

loading...

Feeds