Ini Tips Membantu Anak Saat Menghadapi Hari Pertama Sekolah

Kecemasan terhadap anak, ungkapnya, akan gugur oleh sudut pandang anak itu sendiri seiring dengan proses pembelajaran di sekolah. Menurutnya yang lebih penting menyiapkan kebiasaan-kebiasaan baru untuk mendukung proses sekolah anak.


“Misalnya dengan membuat waktu belajar khusus dengan anak, tujuannya agar terbiasa untuk belajar. Terapkan saja 10-15 menit sudah cukup. Kalau bisa dalam kondisi yang menyenangkan sebab nanti si anak akan membangun kesepakatan pembelajaran dengan si orang tua,” ungkapnya.

Kendati demikian pendampingan dari orangtua tetap diperlukan. Selain agar anak tidak merasa sendirian, anak juga perlu merasa bahwa orang tua terlibat langsung dalam proses pembelajaran mereka.

Selain itu, menurutnya, kecemasan orang tua juga bisa muncul dari kekhawatiran kompetitif. Mereka ingin anaknya menjadi unggul dibandingkan dengan anak-anak yang lain kecenderungan ini seringkali membuat orangtua memaksakan proses belajar kepada anak yang tidak sesuai dengan usia kematangannya.

Usia 7 tahun, menurutnya secara kognitif sudah dikatakan matang dan mampu merespon situasi akademis. Meski di usia yang sama minat dan bakat anak-anak akan berbeda. Maka, ia mengingatkan orang tua fokus pada keunggulan anak dan meningkatkannya.

“Jangan khawatir yang berlebihan terhadap akademis anak, orangtua harus lihat keunggulan bukan pada kelemahannya. Cenderung jaman sekarang kelemahan terus dipaksakan sesuai dengan keinginan orang tua. Lebih baik mengembangkan keunggulan si anak, agar menjadi alternatif yang bisa berimbang dengan akademis,” kata dia yang juga ikut aktif di konsultan anak Dreamkids  Development di Bandung.

Terkait kekhawatiran orangtua di hari pertama sekolah, sebaiknya orangtua memberikan kepercayaan yang lebih terhadap anak agar mampu bertahan dan bersosialisasi.  Mengenalkan lingkungan sekolah baru juga dapat menjadi cara orangtua mengurangi tingkat kecemasan anak. Sehari sebelum masuk sekolah dan melihat-lihat.

“Selain bercerita, orang tua juga harus bisa meyakinkan si anak bahwa masa-masa sekolah bisa membuat nyaman karena ada orang tua, guru dan kawan-kawanya,” tutupnya.

(elg)

Loading...

loading...

Feeds