Senioritas di Balik Kisah Pilu Meninggalnya Dokter Muda Saat Piket Lebaran. Benarkah?

Dr Stefanus Taofik SpAn semasa berdinas sebagai spesialis anestesi di RS Pondok Indah Bintaro Jaya di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.

Dr Stefanus Taofik SpAn semasa berdinas sebagai spesialis anestesi di RS Pondok Indah Bintaro Jaya di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.

Berdasar informasi dari kalangan keluarga, pada Senin (26/6/2017) sekitar pukul 09.00, Stefanus sempat menghubungi keluarga dan mengaku merasa kelelahan.


Keesokan harinya, Selasa (27/6/2017) pukul 18.33 WIB, Stefanus ditemukan meninggal di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit (RS) Pondok Indah Bintaro Jaya Tangerang Selatan.

Stefanus adalah anak kedua di antara lima bersaudara. Dia menamatkan pendidikan dokternya di Unika Atma Jaya, meraih gelar spesialis anestesi di Universitas Udayana.

Saat ini bapak satu anak tersebut juga menjadi konsultan di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).

Sementara itu, kemarin layanan medis di RS Pondok Indah Bintaro Jaya tetap berjalan seperti biasa. Hanya, kegiatannya cenderung sepi karena masih masa libur Lebaran. Operasi masih berfokus pada layanan kesehatan saja.

Seharian kemarin rumah sakit yang berada di CBD Emerald, Boulevard Bintaro Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, itu menjadi sorotan. Penyebabnya adalah kasus kematian mendadak Stefanus.

Informasi yang beredar di media sosial menyebutkan, Stefanus meninggal karena kelelahan lantaran menjalani tugas jaga di bagian ICU dan instalasi bedah selama empat atau lima hari berturut-turut agar para dokter senior bisa libur Lebaran. Benarkah demikian?

Klarifikasi datang dari Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) dr Kuntjoro Adi Purjanto MKes.

Dia mengatakan, pihak RS Pondok Indah Bintaro Jaya sudah menyampaikan keterangan terkait jam kerja Stefanus ke Persi.
“Saya tidak mendalami penyebab dia meninggal,” ucapnya.

Loading...

loading...

Feeds