Bedjo Untung: Bukti Tragedi 1965 Banyak dan Kuat, Korbannya Jutaan

Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) Bejo Untung. (ist)

Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) Bejo Untung. (ist)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG- Beberapa daerah di Jawa Barat disebut sebagai tempat pembantaian orang-orang dalam peristiwa 1965.


Ahli Peradilan Transisional, KriminologI dan Hak Asasi Manusia, Antarini Arna menyayangkan tidak ada komitmen dari pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan persoalan dalam tragedi 1965 dengan adil bagi para korban.

“Pemerintah harus mengakui ada peristiwa kejahatan dan genosida. Meminta maaf kepada korban, memberikan rehabilitasi atau pemulihan kepada korban dan keluarga korban dan memastikan periatiwa semacam itu terjadi,” katanya dalam seminar “Pengungkapan Kebenaran dan Jalan Berkeadilan Bagi Penyintas” di Kampus Universitas Parahyangan, Jalan Ciumbuleuit, Kota Bandung..

Bagi pelaku, harus disidik dan diadili serta mendapatkan hukuman. ‘Sebab itu kewajiban negara,” ucapnya.

Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP), Bedjo Untung, yang merupakan salah satu saksi dalam peristiwa 65 menyebut, salah satu daerah yang menjadi tempat pembantaian dan kuburan massal berada di Parungkuda, Sukabumi.

Para korban disekap di sebuah kebun karet sebelum dieksekusi, sekitar 300 orang dipaksa bekerja tanpa upah.

“Setelah selesai mereka tidak diberi makan dan diceburkan ke jurang. Tempat itu sekarang dijadikan tempat wisata,” ungkapnya.

Kuburan massal juga ada di daerah Gunung Tilu, Ciwidey, Kab Bandung. Informasi itu ia katakan didapat dari mantan para jagal.

“Saya didatangi tukang jagal. Dia sendiri yang menculik dan menjagal di kebun teh,” terangnya.

Yang paling parah, kejahatan kemanusiaan terjadi di Tangerang, yang dijadikan kamp konsentrasi. Ribuan jiwa tidak diberi makan dengan dibebankan kerja yang tinggi. Saking berat dan kejam suasana kamp, setiap hari dua sampai tiga orang meninggal dunia.

“Kami dipaksa bekerja tidak diberi makan. Untuk bertahan hidup, kami makan ular, kadang makan anak tikus yang masih merah. Ini korban 1965 jumlahnya jutaan, perlu diungkap,” imbuhnya.

Untuk itu, Djoko berharap kaum akademis bisa melakukan penelitian dan menggali fakta-fakta yang selama ini belum terungkap.

“Saya ingin mengkonfirmasi bahwa, tidak benar jika di Jawa Barat tidak ada pembunuhan massal dan kuburan massal. Tidak benar bahwa tidak ada korban. Korban ada, pelaku ada, kuburan massal juga ada. Ini bisa dibawa ke pengadilan yudisial,” katanya.

(bbb)

 

Loading...

loading...

Feeds

Momen RAFI 2021, Telkomsel Siaga Maksimalkan Jaringan

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA- Telkomsel siap memastikan ketersediaan kualitas jaringan dan layanan yang prima demi menghadirkan pengalaman digital untuk #BukaPintuKebaikan bagi masyarakat …

PDRI Siap Kawal Distribusi KIP Kuliah Merdeka

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Persaudaraan Dosen Republik Indonesia (PDRI) akan memantau dan mengawal distribusi penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Merdeka …