Disdik Gaet Dunia Usaha, Target 50 Ribu Lulusan SMK Bersertifikasi

Bunda Literasi Jawa Barat, Netty Heryawan berfoto bersama siswa usai memberikan motivasi menghadapi Ujian Nasional di SMAN 11 Bandung. (ist)

Bunda Literasi Jawa Barat, Netty Heryawan berfoto bersama siswa usai memberikan motivasi menghadapi Ujian Nasional di SMAN 11 Bandung. (ist)

Targetkan 50 Ribu Lulusan SMK Bersertifikasi


Selain itu, Disdik Jabar menargetkan sebanyak 50 ribu lulusan SMK se-Jabar memiliki sertifikasi keterampilan dan kemampuan keahlian, tahun ini.  Hal ini sangat penting dalam menghadapi persaingan tenaga kerja di era MEA.

Kapala Bidang SMK Disdik Jabar, Dr Dodin R Nuryadin mengatakan, untuk mencapai target tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar melalui Disdik Jabar, akan membuat berbagai program terobosan untuk meningkatkan pemerataan mutu pendidik dan kualitas lulusan, sehingga lulusan SMK se-Jabar memiliki daya saing, daya juang, dan siap kerja dengan bekal keterampilan dan kemampuan keahlian yang juga dibuktikan dengan sertifikasi.

“Program terobosan dan inovasi sudah kami siapkan, termasuk modul pelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan. Bahkan kami juga terus memperlebar jejaring dengan pelaku industri, sehingga para lulusan SMK di Jabar memiliki kesempatan kerja yang lebih luas. Ditambah lagi dengan sertifikasi yang diakui, baik dalam negeri maupun luar negeri/internasional,” kata Dodin, Rabu (22/2) lalu.

Disdik Jabar juga terus mendorong dan membangun jejaring dengan dunia usaha industri apa pun. Sebut saja, kerjasama dengan industri kendaraan ringan, seperti Honda, Toyota, Daihatsu, dan Suzuki.

Bahkan baru-baru ini, lanjut Dodin, Astra Group  siap membangun dan memberikan peralatan praktek otomotif kendaraan ringan di beberapa sekolah SMK di Kuningan. Bahkan, selama ini ternyata sekitar 80 persen lulusan SMK Kuningan dapat diterima di perusahaan Astra Group.

Dodin juga mengakui, masih banyak SMK kekurangan fasilitas/sarana-prasarana pendukung peralatan untuk kerja praktik. Bahkan ada beberapa SMK, terutama swasta, tidak memiliki peralatan praktik sama sekali, sehingga siswa saat akan melakukan praktik terpaksa menumpang ke sekolah lain.

Permasalahan sarana prasarana SMK negeri maupun swasta, lanjut Dodin, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga masyarakat, terutama peran pelaku dunia industri untuk dapat membantu memberikan peralatan praktik ke SMK-SMK.

Selain masalah sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan juga sangat penting. Belum lagi jumlah peserta didik yang minim. Untuk itu, pihaknya akan evaluasi SMK negeri yang masuk katagori kekurangan ini. “Kalau tidak memungkinkan untuk dikembangkan, kami akan usulkan ke pemerintah  sebaiknya digabungkan atau marger saja,” tandas Dodin.

Terkait masih cukup banyaknya guru SMK yang dikatagorikan kurang produktif dan tidak memiliki keterampilan, kata Dodin, harus dibina dan dilatih, baik melalui pelatihan guru yang ada di Balai Pendidikan Guru Disdik Jabar atau diikutkan dalam berbagai pelatihan keterampilan di berbagai perusahaan industri, sehingga ilmu yang didapatkan dapat ditransfer ke para peserta didiknya.

Dodin juga mengimbau para pelaku industri untuk bersama-sama membantu peningktakan mutu pendidikan. Perusahaan industri pasti membutuhkan tenaga kerja. Untuk itu, hendaknya dapat membantu dunia pendidikan dengan memberikan peralatan praktik bagi SMK.

“Tegline SMK ‘Winning the Globle Competition’ atau memenangi persaingan dunia yang dibekali dengan keahlian dan sertifikasi yang diakui secara internasional. Selain itu, lulusan SMK harus mampu bersaing, memenangi persaingan dan mengusai persaingan dalam memasuki MEA,” tegasnya.

Loading...

loading...

Feeds

Momen RAFI 2021, Telkomsel Siaga Maksimalkan Jaringan

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA- Telkomsel siap memastikan ketersediaan kualitas jaringan dan layanan yang prima demi menghadirkan pengalaman digital untuk #BukaPintuKebaikan bagi masyarakat …