Menarik, Pameran Legenda Batik Nusantara di Graha Siliwangi

 


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Kekhasan dan keunikan hasil karya batik tulis memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat lokal. Proses yang manual serta karakter dan gaya kain gambar yang berbeda membuat batik masih ramai diburu para pecintanya di dalam negeri.

Untuk memberikan keleluasaan dan memanjakan para pecinta batik di Kota Bandung, Maxindo menggelar pameran Legenda Batik Nusantara di Graha Manggala Siliwangi, pada 1 hingga 5 Febuari 2017.

Chief Executive Officer (CEO) Maxxindo Desay Savitri Devi menjelaskan, nantinya dalam pameran akan tersedia 80 stan yang terdiri dari berbagai karya etnik seperti songket, tenun, bordir dan tentunya batik tulis khas Indonesia.

“Untuk tenun kita ada dari NTT kemudian Bali. Untuk harga ada yang paling murah di harga Rp 50 ribu. Dari situ tentunya akan kita bagi wilayah berupa zonasi untuk kawasan stan-stan yang biasa ke premium. Nah untuk yang premium kita posisikan didepan sampai ke tengah,” jelas dia saat menggelar Press Conferene, Legenda Batik Nusantara di Nexa Hotel, Jalan Supratman, Bandung, Senin (30/1).

Targetnya untuk event batik di awal tahun 2017 pihaknya akan mendapat 20 ribu pengunjung. Dengan targetan pendapatan hingga Rp 10 milyar selama lima hari pameran. Desay mengaku angka tersebut merupakan angka optimis pasalnya Kota Bandung memiliki kultur masyarakat yang konsumtif terhadap produk fashion.

Selain itu daya tarik handy craft dan produk etnik selalu ramai diburu. Selain tidak pasaran, batik, tentun dan beberapa karya lain yang khas Indonesia tidak mudah untuk ditiru. Banyaknya produk batik print yang datang ke Indonesia dari Tiongkok menurut Desay tidak terlalu mengkhawatirkan para pengrajin di dalam negeri pasalnya, para pengrajin memiliki gaya tersendiri yang masih digandrungi para pembeli lokal.

“Kalau batik dan karya etnik itu malah gak banyak ekspor. Karna pasarnya lebih bagus domestik, yang beli ya orang orang Indonesia,” bebernya.

Tingkat ekspor Indonesia yang saat ini lesu ternyata tidak berdampak banyak terhadap para pengrajin batik. Desay menjelskan, untuk nilai ekpor batik hanya da pada kisaran 20% dengan cakupan wilayah ekspor di asia seperti Malaysia, Brunai, Thailand, Vietnam sampai Afrika. Pasar masih begitu luas di Indonesia, maka dari itu pihaknya berusaha mempertahankan konsumen loyak di dalam negeru untuk terus terfasilitasi.

Dalam pameran kali ini Desay memprediksi Batik Wonogiri akan menjadi trend fashion batik di 2017. Selain batik yang diprodukai sedikit dan saat ini tengah dipacu untuk dikembangkan, warna- warna yang menyala dari Batik Wonogiri yang membuat karya batik yang satu ini diprediksi akan menjadi trand baru di 2017.

“Warna alamnya pekat, dan warna warna yang cerah itu dipredikai bakal tred di 2017,” jelas dia.

Meski begitu, ada pula keluhan dari beberapa pengrajin batik seperti mahalnya bahan baku yang beberapa diantaranya harus impor. Pewarna tekstil hingga kain yang saat ini mengalami kenaikan disiasati dengan mengurangi lebar dan panjang kain batik.

Lebih lanjut mengenai perkembangan pengrajin batik Desay mengaku saat ini batik print sudab tumbuh pesat di Indonesia. Tak hanya Tiongkok, Indonesia juga mulai mengadaptasi sistem tersebut untuk memenuhi kebutihan order batik yang tinggi.

“Kalau batik tulis ada bertambah pastinya tapi kalau batik print di Indonesia itu pesat. Gak hanya itu cap juga banyak. Kalaupun print batik indonesia masih pake sistem mesin manual. Beda sama yang di Tiongkok, mereka sudah per-rol da sudah semuanya pake mesin,” ungkap dia.

Dirinya berharap kedepan para pengrajin dan pengusaha batik akan terus bertahan dengan banyaknya pesaing seperti karya karya batik instan yang diproduksi Tiongkok. Selain menawarkan harga yang lebih murah, batik print asal Toongkok juga mulai mebanjiri beberapa pusat perbelanjaan utama di Kota Bandung. Untuk membantu dan mendorong produk lokal pihaknya berharap para pembeli batik tetal untuk menggunakan karya karya dalam negeri.

“Filter itu sekarang ada di masyarakat. Produk china lebih murah, meski begitu konsumen sudah pintar. Kalau batik kita lebih update segar dan beragam tapi kalau produkai luar motif sudah terlambat. Trend motif masih duluan Indonesia,” pungkasnya.(nda)

Loading...

loading...

Feeds

SAPA Alfamart, Solusi Belanja Saat Pandemi

POJOKBANDUNG.com – Masa PSBB yang diberlakukan di beberapa kota/ kabupaten membuat toko ritel yang menyediakan kebutuhan sehari-hari terpaksa buka lebih …

Pemkot Belum Bisa Akses TPS Legok Nangka

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Kota Bandung tengah menghadapi masalah dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Seperti diketahui TPS Sarimukti masih bisa menerima …

249 Tersangka Curanmor Diciduk Polres

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Jabar besama Polres maupun Polresta jajaran wilayah hukum Jabar berhasil meringkus …

Jonggol Jadi Jalur Pengiriman Motor Curian

POJOKBANDUNG.com, BOGOR – Wilayah Jonggol menjadi jalur pengiriman hasil pencurian kendaraan bermotor sindikat Cianjur yang diamankan Polres Bogor. Tak jarang, …

KKI 2021 Dongkrak Pemulihan Ekonomi Jabar

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Bank Indonesia Jawa Barat dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat bersama Dekranasda Jawa Barat serta stakeholder terkait …

Pantau Pelayanan, Bupati Sidak RSUD

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Bupati Subang H. Ruhimat menggelar inspeksi mendadak (sidak) di rumah sakit umum daerah (RSUD). Hal ini dilakukan …

Kol. Tek Videon Nugroho Yakinkan Sinovac Aman

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Didampingi oleh para Kepala Dinas, Komandan Wing Pendidikan Teknik Kolonel Tek Videon Nugroho, mengikuti Vaksinasi Covid-19 tahap …

Kodam Cendrawasih Siap Dukung PON XX Papua

POJOKBANDUNG.com, JAYAPURA – Dalam rangka meminta dukungan dari Kodam XVII/Cenderawasih, Ketua Umum KONI Jawa Barat, Ahmad Saefudin bersama rombongan melaksanakan …