BI Jabar Bantah Logo Palu Arit di Uang Rupiah Baru

Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan KUR Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Provinsi Jabar Mikael Budi Satrio, memperlihatkan cara mengenal rectoverso, pada koferensi pers Uang Rupiah NKRI Tahun Emisi 2016, di KPBI Provinsi Jabar, Jalan Braga, Kota Bandung. (ramdhani)

Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan KUR Pengelolaan Uang Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Provinsi Jabar Mikael Budi Satrio, memperlihatkan cara mengenal rectoverso, pada koferensi pers Uang Rupiah NKRI Tahun Emisi 2016, di KPBI Provinsi Jabar, Jalan Braga, Kota Bandung. (ramdhani)


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG
— Bank Indonesia (BI) mengkarifikasi tuduhan adanya Palu Arit atau simbol-simbol terlarang dalam uang pecahan Rp100.00. Menurut BI, informasi adanya lambang palu arit itu tidak benar. Belakangan beredar informasi di media sosial yang mengaitkan beberapa tanda di uang rupiah dengan simbol-simbol terlarang seperti palu arit.


Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo, menegaskan kembali bahwa uang rupiah tidak memuat simbol terlarang palu dan arit. Hal tersebut disampaikan menanggapi informasi dan penafsiran yang berkembang di media, yang menyatakan bahwa uang rupiah memuat simbol terlarang palu dan arit.

“Gambar yang dipersepsikan oleh sebagian pihak sebagai simbol palu dan arit merupakan logo Bank Indonesia yang dipotong secara diagonal, sehingga membentuk ornamen yang tidak beraturan. Gambar tersebut merupakan gambar saling isi (rectoverso), yang merupakan bagian dari unsur pengaman uang rupiah. Unsur pengaman dalam uang rupiah bertujuan agar masyarakat mudah mengenali ciri-ciri keaslian uang, sekaligus menghindari pemalsuan,” ujar Agus dalam siaran pers-nya, kemarin.

Agus menerangkan, gambar rectoverso dicetak dengan teknik khusus sehingga terpecah menjadi dua bagian di sisi depan dan belakang lembar uang, dan hanya dapat dilihat utuh bila diterawang.

“Rectoverso umum digunakan sebagai salah satu unsur pengaman berbagai mata uang dunia, mengingat rectoverso sulit dibuat dan memerlukan alat cetak khusus. Di Indonesia, rectoverso telah digunakan sebagai unsur pengaman Rupiah sejak tahun 1990-an. Sementara logo BI telah digunakan sebagai rectoverso uang Rupiah sejak tahun 2000,” paparnya.

Gubernur Bank Indonesia menegaskan pula bahwa Rupiah merupakan salah satu lambang kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Dalam hal ini, uang rupiah ditandatangani bersama oleh Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan Republik Indonesia. Untuk itu, Bank Indonesia mengingatkan kembali kepada masyarakat agar senantiasa menghormati dan memperlakukan uang rupiah dengan baik,” imbuhnya.

Senada dengan Agus, Plt Deputi Kepala KPwBI Jabar, Siti Astiyah juga mengaku dalam melaksanakan tugas pokok di bidang pengedaran uang, BI senantiasa berupaya agar uang rupiah yang dikeluarkan dan diedarkan memiliki ciri pengaman yang cukup mudah dikenali masyarakat sekaligus melindungi uang dari unsur pemalsuan.

“Salah satu unsur pengaman yang ada dalam uang rupiah adalah gambar saling isi atau Rectoverso,” katanya.

Selain Rectoverso, beberapa unsur pengaman lain yang terdapat dalam uang rupiah antara lain adalah tanda air, benang pengaman, tulisan mikro, tinta berubah warna, dan gambar tersembunyi.

“Dengan memahami unsur-unsur keamanan dalam uang, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah mengenali keaslian rupiah dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas sumber beritanya,” ujarnya.

Sebelumnya, Media sosial dihebohkan dengan sebuah foto uang pecahan Rp 100 ribu cetakan tahun 2014 yang diposting pengguna media sosial, seperti facebook. (nto/peh)

Loading...

loading...

Feeds

Rizieq Syihab Terancam Pidana

Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab telah meninggalkan Rumah Sakit (RS) Ummi di Kota Bogor, Sabtu (28/11).