Dari Kerajinan Berbahan Eceng Gondok Hingga Budidaya Lele

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–POJOKBANDUNG.com, ECENG gondok bagi sebagian orang merupakan masalah, dan terkadang menjadi tidak bernilai. Namun di tangan kelompok perajin eceng, tanaman ini menjadi bernilai.


Adalah Abah Duduy, salah seorang perajin berbahan eceng gondok yang telah menggeluti usaha kerajinan eceng menjadi bentuk Tas, dompet, hantaran nikah, taplak meja, sandal dan berbagai bentuk tepat guna lainnya.
Saat ini kerajinan Abah telah memiliki merk Ciecra binaan PJB BPWC, dan memiliki standar produk dari segi anyaman, kualitas hasil akhir untuk bisa dijual ke pasar.

Abah menuturkan beberapa kendala yang ia hadapi saat ini adalah modal dan tempat (display shop) untuk memajang dan menjual hasil produksi serta sebagai sarana pembelajaran bagi para tamu dan konsumen yang ingin mengetahui proses pembuatan sebuah produk berbahan eceng gondok ini.

Selain tempat, pemberdayaan perajin baru untuk dilatih guna memenuhi pesanan dalam jumlah besar, Abah biasa memberdayakan tetangga dan warga sekitar supaya mau dilatih membuat kerajinan. Termasuk plang papan nama untuk memudahkan konsumen mengetahui tempat kerajinan yang Abah dan kelompoknya kelola.

Saat ini Abah dan kelompok perajin telah memproduksi berbagai kreasi eceng antara lain tas wanita, taplak meja makan, dan yang terbaru adalah sandal ke depan akan dijadikan sentra khas oleh-oleh tiga desa, yakni, Cipeundeuy, Maniis dan Desa Tegal Datar.

Menurut Muhamad Agustian selaku GM PJB BPWC, dalam sehari kelompok perajin ini bisa memproduksi sandal 100 pasang tergantung dari tingkat kesukaran.

“Namun, lagi-lagi kendala adalah sumberdaya pembuat sandal itu sendiri, saat ini Abah memberdayakan perajin dari kota lain untuk membuat sandal, belum adanya pelatihan pembuatan sandal menjadikan abah harus mengambil inisiatif memberdayakan perajin dari daerah lain,” ungkap Agustian.

Sementara, Staf CSR PJB BPWC Rikza Fajri menyebutkan, selain perajin eceng gondok, PJB BPWC memiliki binaan peternak lele. Berlokasi di Desa Ciroyom Kec. Cipeundeuy, Kab Bandung Barat, di sinilah lokasi setup kolam budidaya pembesaran lele.

“Bukan hanya pembesaran biasa karena budidaya pembesaran lele melalui teknologi bioflok,” terang Rizka.

Adalah Kang Yanto sebagai koordinator sekaligus penerima manfaat pembesaran budidaya lele berbasis Bioflok ini, beliau siap menerima teknologi baru dalam budidaya lele berbasis bioflok ini.

Menurut Kang Yanto selaku koordinator pembesaran lele berbasis bioflok, ada banyak kendala saat pembesaran lelenya. “Pertama adalah dari waktu yang terlalu dipaksakan cenderung singkat, butuh perhatian khusus saat pembudidayan dan rentang waktu dari instalasi setup hingga
panen tidaklah singkat,” ujarnya.

Lain hal dengan factor sharing knowledge saat setup pertama dirasa kurang, perlunya pelatihan intens dari ahli kepada petani lele. Kang Yanto juga menuturkan, tidak adanya buku panduan maupun petunjuk bagaimana menjalankan pembudidayaan lele bioflok ini.

poto-2

Tak kalah menarik, PJB BPWC juga mengembangkan teknologi biogas berbasis eceng sebagai energi alternatif ramah lingkungan.

Eceng gondok (eicchornia crassipes) yang mengandung banyak hemiselulosa ternyata dapat digunakan untuk bahan bakar alternatif. Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bahan kerajinan, pupuk, dan yang menarik adalah eceng gondok juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas. Pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku biogas dikarenakan memiliki kandungan 43% hemiselulosa dan selulosa sebesar 17%. Hemiselulosa akan dihidrolisis menjadi glukosa oleh bakteri melalui proses anaerobic digestion, yang akan menghasilkan gas metan (CH4) dan karbondioksida (CO2)

Saat tim mengunjungi kediaman Bapak Encang ini, kondisi nyala api sudah sangat baik, dengan status memasak air hampir mendidih, sayur hingga matang, dan nasi juga hampir matang. Alat indikator tekanan gas pada digester memang menunjukkan bahwa tekanan sudah kuat, tinggal stabilitasnya yang masih diupayakan. Jika dilihat posisi dan struktur tanahnya yang lebih padat dibanding kediaman lain, pipa yang ditanam di tanah memberikan manfaat tersendiri terhadap efektifitas mengalirnya gas dari digester melalui pipa hingga sampai ke kompor. Bapak dan Ibu Encang mengatakan adanya biogas ini sangat membantu proses memasak dan juga memberikan keuntungan secara finansial. (ymi)

Loading...

loading...

Feeds

Vaksinasi Covid Telan Rp47 Miliar

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Subang mengungkap, di tahun anggaran 2021 ini, Pemda Subang mendapat …

Kompak Bantu Warga yang Isolasi

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Warga Desa Jalancagak, Kaecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang memberikan bantuan bagi tetangga yang tengah menjalani isolasi mandiri di …

Ajak Masyarakat Pelihara Budaya Sunda

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna mendukung penuh program “Saur Sepuh” yang diinisiasi oleh PGRI Kota …

Kerugian Bencana Capai Rp816 Juta

POJOKBANDUNG.com, SUKABUMI — Selama Januari hingga Februari 2021, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, mencatat terdapat 23 kejadian bencana. …

Angin Kencang, Pohon Timpa Mobil

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Sebuah mobil tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya Cijambe, Subang. Akibatnya bodi kendaraan pun ringsek. Peristiwa yang …

Dorong Bupati Rampingkan SOTK

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Pemkab Subang dinilai terlalu gamuk sehingga pembuatan perencanaan dan penyusunan anggaran …

Bakal Punya Wadah Industri Kreatif

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH – Wakil Bupati Bandung Barat, Hengky Kurniawan bertekad mewujudkan industri kreatif milenial. Gagasan itu rupanya tak main-main. Upaya …