Gisya Sikembar Siam Akhirnya Bisa Pulang

Gisya, salah satu bayi kembar siam akhirnya boleh pulang. (riana)

Gisya, salah satu bayi kembar siam akhirnya boleh pulang. (riana)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Gisya Bizanty Ramdani satu dari dua bayi kembar siam yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung akhirnya diperbolehkan pulang. Anak dari pasangan Syarif Maluna (24) dan Gina Gantina (19) asal Kabupaten Ciamis itu mendapatkan perawatan medis secara intensif pasca operasi pemisahan badan dengan kembaranya Gesya Umaya Amadani, 27 September 2016.


Ketua tim pemisahan kembar siam RSHS,
Dadang Syarif Hidayat mengatakan, pihak RS memperbolehkan pulang Gisya karena kondisi tubuhnya semakin hari berangsur membaik.

“Kondisinya fisik sudah normal seperti bayi pada umunya. Sekarang berat badan Gisya 48,25 gram dan tinggi 58 centimeter terbilang normal diusia empat bulan,” ucapnya kepada wartwan, Kamis (3/11).

Dadang mengungkapkan, pasca operasi pemisahan tubuh Gisya mendapatkan kurang lebih 30 jahitan pada bagian depan, operasi pun berjalan dua kali, pertama tahap pemisahan dan tahap kedua memperbaiki jantung kedua bayi kembar masing-masing memakan waktu selama empat jam.

“Penanganan melibatkan semua dokter, ada dokter anak, bedah dan lainnya,” imbuhnya.

Sebenarnya, sambung Dadang, potensi hidup bayi kembar siam ditentukan posisi bagian badan yang nempel. Bila bagian atas potensi hidupnya sangat minim karena banyak organ saraf vital yang menempel antara kedua bayi begitu juga bila dempet bagian tengah seperti Gisya dan Gesya, berbeda dengan dempet di bagian bawah yang memiliki potensi hidupnya sangat besar.

“Kalau Gisya memang memiliki kondisi tubuh yang baik berbeda dengan Gesya yang sejak awal mengalami berbagai gangguan organ tubuh,”imbuhnya.

Dadang menuturkan terkait efek samping gangguan organ tubuh yang akan dialami oleh Gisya pasca operasi pemisahan sangatlah minim. Sebab, pertumbuhan bayi tersebut secara motoric sudah berfungsi secara normal. Timpal Dadang, berbeda pada saat masih menempel dengan kembaranya kepandaian gerak motorik Gisya terhambat karena peredaran pembulu darah masih menyatu.

“Motorik gerak, adaptatasi suara (pendengaran) dan tumbuh kembang setiap harinya semakin membaik begitu juga organ tubuh lainnya. Saya jamin Gisya akan membaik dan tidak akan ada efek samping apapun,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dadang menegaskan, selama beberapa bulan ke depan pihak RSHS tetap akan memantau perkembangan Gisya dan Terus memberikan arahan serta mengedukasi pihak keluarga mengenai asupan gizi yang harus diberikan.

“Biasanya tim supervisi datang kesana, kami juga sekalian mengontrol kondisi mata Gisya yang harus terus dipantau karena baru diperiksa satu kali pasca operasi pemisahan,” ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, kembaran Gisya yaitu Gesya meninggal dunia pada Jumat (7/10/2016) sekitar pukul 06.10 WIB.
Direktur Utama RSHS Ayi Djembarsari mengatakan, meninggalnya Gesya dikarenakanada gangguan pada sejumlah organ tubuh. Antara lain, gangguan otak, paru-paru, ginjal dan peredaran darah, hal itulah yang menjadi dasar tim dokter melakukan operasi lebih cepat karena bisa membahayakan Gisya.

“Kami sudah berusaha keras kerahkan ilmu medis tapi karena kondisi Gesya semakin memburuk terlebih pasca operasi mau bagaimana lagi takdir berkata lain walaupun Gesya mendapatkan perawatan Intensif,” paparnya.

Sementara itu, Syarif Maulana (24) mengaku berterima kasih dan sangat bersyukur atas bantuan tim dokter yang selama ini sudah bersusah payah menjaga dan merawat Gisya maupun Gesya.

“Saya sebagai orang tua Gisya dan Gesya berima kasih atas bantuan tim dokter juga pemerintah Kabupaten Ciamis,” tandasnya.(arh)

Loading...

loading...

Feeds