Mabes Polri Musnahkan Puluhan Satwa Langka yang Diawetkan

pemusnahan satwa langka yang diawetkan di Polrestabes Bandung. (nida)

pemusnahan satwa langka yang diawetkan di Polrestabes Bandung. (nida)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Mabes Polri mengungkap kasus penjualan satwa langka dalam keadaan mati atau kering di Kota Bandung. Bareskrim Mabes Polri mengungkap kasus kejahatan satwa yang dilindungi itu berdasarkan laporan polisi yang masuk pada 29 September 2016.


Sebanyak 38 jenis barang bukti kejahatan satwa yang dilindungi dimusnahkan di halaman Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Selasa (1/11). Ke-38 barang bukti itu berupa kulit hewan, potongan tubuh hewan, dan tubuh hewan yang sudah mengeras.

“Berdasarkan hasil penyelidikan kami dapati barang bukti hewan langka dalam keadaan mati dan kering pada Jumat 23 September 2016,” jelas Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Pol Purwadi Arianto kepada wartawan usai pemusnahan barang bukti di Mapolrestabes Bandung, Selasa (1/11).

Pantauan di lokasi, barang bukti itu di antaranya potongan kulit harimau Sumatra, potongan ekor kulit harimau Sumatra, potongan kuku beruang, kulit buaya muara, kulit owa jawa, tubuh harimauu Sumatra, dan lainnya.

Barang bukti tersebut merupakan hasil pengembangan pengungkapan kasus yang ditangani Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Mabes Polri.

Purwadi menjelaskan, terungkapnya kasus itu berawal dari informasi masyarakat yang melaporkan adanya seorang pelaku usaha di Kota Bandung yang bergerak di bidang penjualan satwa langka dalam keadaan mati atau kering.

Informasi yang dihimpun, Bareskrim Mabes Polri menyita barang bukti tersebut dari seorang pria berinsial AS. Adapun penyitaan dan pemusnahan barang bukti itu berdasarkan persetujuan AS yang dituangkan dalam surat pernyataan pada 27 September 2016.

Selain itu, Ketua Pengadilan Negeri Bandung juga telah mengeluarkan izin terkait dengan penyitaan barang bukti pada 29 September 2016.

Purwadi mengatakan, pihaknya baru menetapkan seorang tersangka berinisal AS dalam kasus tersebut. AS diduga kuat sebagai pelaku usaha yang bergerak di bidang penjualan satwa langka dalam keadaan mati atau kering.

Tak hanya menahan AS, timnya menyita semua satwa langka dalam keadaan kering dan mati miliknya sebagai barang bukti atas kejahatan yang dilakukannya.

“Tersangka dikenakan pasal 21 ayat 2 huruf b dan d Jo pasal 40 ayat 40 ayat 2 UU nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayatai dan ekosistemnya. Adapun ancamannya penjara di atas lima tahun,” paparnya.

Purwadi memamparkan, berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan, satwa yang dikeringkan AS didapat dari Kebun Binatang Kota Bandung dan Taman Satwa Cikembulan, Kabupaten Garut.

Pengakuan AS, kata dia, sebagian besar satwa yang dikeringkan berasal dari Kebun Binatang Bandung yang kesemuanya tidak memiliki dokumen ataupun berita acara kematian hewan.

“Karena itu kami akan memeriksa hewan-hewan apa yang mati terakhir di Kebun Binatang Bandung,” kata Purwadi.

Ia menyebutkan, kejadian ini merupakan modus baru kejahatan. “Jadi ini modus baru juga, binatang milik kebun binatang yang mati itu harus dibuat berita acara kematian, tapi sebagian besar tidak dibuat,” tegasnya.

Sedangkan satwa dari Taman Satwa Cikembulan, ujar Purwadi, pihaknya akan memeriksa dua oknum pejabatnya, yakni R dan T. Diduga kedua oknum pejabat Taman Satwa Cikembulan itu memasok satwa langka yang mati ke AS.

Adapun berdasarkan keterangan tersangka, kata dia, barang bukti berupa satu kulit Harimau Sumatra yang sudah kering merupakan koleksi Taman Satwa Cikembulan yang telah mati karena sakit dan sudah tua.

“Jadi barang itu dititipkan. Kulit itu dilengkapi dengan berita acara pemeriksaan kematian Harimau Sumatra, namun pengangkutannya tidak dilengkapi dengan dokumen surat angkutan tumbuhan dan satwa dalam negeri,” kata Purwadi.

Tak tanggung-tanggung, AS, tersangka kasus penjualan satwa langka dalam keadaan kering telah menjalankan usahanya sejak 1990 mampu meraup keuntungan yang cukup fantastis dari setiap satwa langka yang dijualnya tersebut.

Purwadi mengungkapkan, penjualan satwa langka yang dilakukan AS mendapatkan keuntungan sebesar Rp 150 ribu sampai Rp 3 juta.

“Tergantung jenis satwa dan ukurannya,” kata Purwadi seraya menyebut AS juga merupakan pengusaha pengawetan hewan.

Purwadi mengatakan, AS menjual satwa langka kering itu di sejumlah daerah di Indonesia. Ia memang tak menjual secara bebas, melainkan sesuai pesanan konsumen. Berdasarkan pengakuan, tersangka tak pernah menjual satwa langka dalam keadaan hidup.

“Tersangka hanya menjual satwa dalam keadaan kering maupun potongan tubuh satwa yang dilindungi. Yang jelas memperjualbelikan satwa dalam keadaan mati atau kering itu dilarang undang-udang dan ancamannya penjara di atas lima tahun,” ujarnya.

Mengetahui usahanya sudah berlangsung sejak 1990, Purwadi mengaku jika pihaknya masih mendalami kasus tersebut.

Pengakuan AS, kata Purwadi, sebagian besar satwa yang dikeringkan berasal dari Kebun Binatang Bandung yang kesemuanya tidak memiliki dokumen ataupun berita acara kematian hewan.

“Karena itu kami akan memeriksa hewan-hewan apa yang mati terakhir di Kebun Binatang Bandung,” ujarnya.

Pemusnahan dilakukan oleh Kapolda Jabar, Irjen Pol Bambang Waskito, Kepala BKSDA Jabar, Sylvana Ratina, Wakil Walikota Oded M Danial, dan sejumlah tamu undangan seperti pegiat lingkungan hidup dan pecinta hewan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.(nda)

Loading...

loading...

Feeds

Karya yang Membuat Tanya

Gedung Munara 99 dan Skywalk Sabilulungan akhirnya telah rampung dibangun. Bangunan yang akan menjadi ikon dan kebanggaan masyarakat Kabupaten Bandung …

Cinta Palsu Negeriku

‎Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Raharja, sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung, menempati peringkat …