Cangkul Impor Ternyata Lebih Diminati, Ini Alasannya

Pekerja memperlihatkan perbedaan cangkul hasil produk Dalam Negeri (kanan) dan produk impor asal Cina di sentral penjualan pacul, Jalan H. Basar, Kecamatan Andir, Kota Bandung,Selasa (1/11). (riana)

Pekerja memperlihatkan perbedaan cangkul hasil produk Dalam Negeri (kanan) dan produk impor asal Cina di sentral penjualan pacul, Jalan H. Basar, Kecamatan Andir, Kota Bandung,Selasa (1/11). (riana)

 


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pasca-Pemerintah melalui PT Perusahaan Perdagangan Indonesia mengimpor cangkul dari Tiongkok dan sudah mendapat restu dari kementrian perdagangan beberapa waktu lalu, ternyata produk tersebut sudah membanjiri pertokoan alat bangunan di Kota Bandung sejak tiga tahun silam. Alasannya, produk impor tersebut dikabarkan memiliki kualitas lebih baik meskipun keberadaanya akan menggerus produk lokal.

Salah satunya Toko PD Hatta di Jalan H Basar Kelurahan Kebon Jeruk Kecamatan Andir Kota Bandung yang sudah berjualan cangkul impor sejak 2014 silam. Salah seorang pegawai, Nurlatifah (32) mengatakan, cangkul tersebut memang memiliki konsumen tersendiri dibandingkan hasil buatan lokal. Kata dia, berdasarkan pengakuan konsumen ternyata perbandingan segi kualitas barang import lebih tebal dan padat.

“Sebelum sekarang ramai dibicarakan kami sudah menjual cangkul impor karena konsumen banyak yang mencari,” Jelasnya kepada Radar Bandung, Selasa (1/11).

Nurlatifah mengungkapkan, konsumen yang mencari cangkul impor biasanya perusahaan yang sedang mengerjakan proyek pembangunan dan bahkan jumlah pesananpun sampai ratusan, berbeda dengan cangkul lokal yang dibeli dalam porsi satuan, itupun mayoritas petani.

“Katanya sih lebih kuat dibanding produk lokal padahal harganya tidak beda jauh untuk cangkul import Rp 45 ribu sedangkan lokal hanya Rp 35 ribu,” jelasnya.

Kata Nurlatifah, dalam satu bulan toko bangunannya biasa memesan cangkul import pada suplayer di Jakarta sampai tiga kali transaksi itupun tergantung bila banyaknya proyek pembangunan terkadang bila sedang sepi order tokonya hanya memesan satu kali.

“Satu kali transaksi paling dua lusin tapi itu tidak menentu,” terangnya.

Sementara itu pedagang cangkul di Pasar Kosambi, Osin (44) mengungkapkan, keberadaanya barang import dipasaran memang membatu konsumen untuk menentukan pilihan tapi alangkah baiknya pemerintah bersikap untuk memperhatikan nasib para pengrajin lokal.

“Saya jual cangkul lokal karena setiap kali memesan selalu ada beda kalau import katanya sih harus banyak,” tuturnya.

Osin mengaku, dirinya mendapatkan barang dari beberapa daerah seperti Kabupaten Cianjur atau Ciwidey.

“Lumayan murah dorannya saja (pegangan kayu, red) Rp 5.000 cangkulnya Rp 25 ribu,” tandasnya.(arh)

Loading...

loading...

Feeds

Sampah Menumpuk di Pasar Gedebage

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Terjadi penumpukan sampah di Pasar Gedebage, Kota Bandung, Senin (17/5). Tumpukan sampah disebut terjadi menjelang lebaran, akibat …