Pengangkutan Sampah di Kabupaten Bandung Barat Antre Sepanjang 5 Km

ANTRE: Kendaraan pengangkut sampah milik Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan pada Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) KBB harus menunggu antrean sepanjang 5Km selama 18 jam saat akan membuang sampah ke TPA Sarimukti.

ANTRE: Kendaraan pengangkut sampah milik Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan pada Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) KBB harus menunggu antrean sepanjang 5Km selama 18 jam saat akan membuang sampah ke TPA Sarimukti.

POJOKBANDUNG.com, PADALARANG – Pengangkutan sampah di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terhambat. Pasalnya, semua kendaraan pengangkut sampah milik Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan pada Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) KBB harus menunggu antrean sepanjang 5 Km selama 18 jam saat akan membuang sampah ke TPA Sarimukti.


“Tiga hari terakhir ini antrian panjang terjadi di TPA Sarimukti, akibat antrian sepanjang 5 Km yang membutuhkan waktu 18 jam untuk satu truk yang akan membuang sampahnya padahal normalnya hanya 3 jam saja,” ungkap Kepala UPT DCKTR KBB, Afit Akhmad di Padalarang kemarin.

Afit mengatakan, truk pengangkut sampah KBB yang biasanya mampu menarik sampah 38-40 rit dengan berat keseluruhan rata-rata mencapai 120-140 ton/harinya, saat ini mengalami penurunan yang sangat drastis. Dari total 40 kendaraan pengangkut sampah milik KBB, hanya 4 kendaraan yang bisa membuang sampahnya dari mulai pagi hingga sore.

“Kalau sekarang paling hanya 4 kendaraan saja, sementara sisanya harus menunggu antrian panjang lagi di TPA Sarimukti,” ujarnya.

Menurut pihak TPA Sarimukti, tutur Afit, terjadinya antrian kendaraan yang berasal dari Kota Bandung, Kota Cimahi dan KBB ini disebabkan oleh kondisi di TPA Sarimukti. Hujan yang terus mengguyur tiga hari terakhir ini menyebabkan jalanan di lokasi TPA menjadi licin. Akibatnya, kendaraan yang akan membuang sampah harus antri satu persatu.

“Berbeda dengan hari biasanya, kendaraan bisa berbarengan lima kendaraan sekaligus, sekarang karena kondisi jalan di TPA yang menanjak itu jadi licin maka kendaraan harus antri satu persatu berikut didorong oleh alat berat,” terangnya.

Selain kondisi jalan, lanjut Afit, kerusakan sejumlah alat berat dan timbunan sampah yang semakin tinggi menjadi faktor lain penyebab terjadinya antrian panjang kendaraan.

“Truk yang akan membuang sampahnya sekarang sulit karena timbunan sampah yang melebihi tinggi kendaraan dan biasanya dengan kondisi ini dibantu alat berat. Namun, karena sejumlah alat berat juga rusak jadinya, truk yang akan membuang sampah semakin terhambat,” terangnya.

Menurut Afit, dengan kondisi seperti ini sudah semestinya KBB memiliki TPA-nya sendiri. Hal itu dilakukan agar pengelolaan sampah di KBB bisa lebih mandiri.

Lebih jauh, dikatakan Afit, Pemkab Bandung Barat sebenarnya pernah mengajukan untuk membuat TPA sendiri dengan anggaran yang diajukan sebesar Rp 6 miliar. Namun, hal itu tidak terealisasi saat dilakukan pembahasan dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TPAD).

“Kita pernah menganggarkan untuk membuat TPA sendiri dengan luas 25 hektar, namun setelah masuk TPAD tidak terealisasi,” ujarnya.

Sementara itu,saat dikonfirmasi kepada Kordinator Badan Pengelolaan Sampah Regional (BPSR) Jawa Barat untuk TPA Sarimukti, yakni Iwan Syarifuddin, dirinya enggan untuk memberikan komentarnya.

Seperti diketahui, berdirinya TPA Sarimukti berawal saat Pemprov Jabar melakukan perjanjian kerjasama dengan Direktur Perhutani dan Pemerintah Kabupaten/Kota (Kota Cimahi, KBB dan Kota Bandung) untuk penggunaan lahan pembuangan sampah akhir sementara dari tahun 2006 sampai 2008. Kemudian perjanjian kerjasama tersebut, dilanjutkan kembali oleh Pemprov Jabar dengan Direktur Perhutani mulai dari tahun 2008 sampai 2018 dengan dikelola oleh BPSR Jabar.

TPA Sarimukti sendiri memiliki luas lahan 25,5 hektar. Dari luas itu, 21,2 hektar diantaranya milik perhutani dan lahan sisanya hasil pembelian dari warga oleh Pemerintah Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. TPA Sarimukti menampung sampah dari tiga wilayah yakni, Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Dari keseluruhan luas lahan, 60-70 persen digunakan untuk landfill (pembuangan sampah). Sementara sisanya digunakan untuk pengolahan air resapan limbah sampah dan gedung pengomposan sampah. (bie/bas)

Loading...

loading...

Feeds

Larang Warga Mudik, Kapolri Minta Maaf

POJOKBANDUNG.com – Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo meminta masyarakat dapat memahami kebijakan pemerintah melarang adanya mudik pada periode libur …