Ditahan dengan Penyangga

DITAHAN: Rumah Warsih (41) yang berlokasi di Kampung Cijeruk RT 01/15 Desa Tagog Apu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, terpaksa harus ditahan menggunakan empat tiang penyangga dari bambu setelah nyaris ambruk dihantam tanah longsoran.

DITAHAN: Rumah Warsih (41) yang berlokasi di Kampung Cijeruk RT 01/15 Desa Tagog Apu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, terpaksa harus ditahan menggunakan empat tiang penyangga dari bambu setelah nyaris ambruk dihantam tanah longsoran.

POJOKBANDUNG.com, PADALARANG – Longsor terjadi akibat hujan deras pada Minggu (9/10) kemarin sekitar pukul 13.00 membuat rumah Warsih (41) yang berlokasi di Kampung Cijeruk RT 01/15 Desa Tagog Apu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, terpaksa harus ditahan menggunakan empat tiang penyangga dari bambu setelah nyaris ambruk dihantam tanah longsoran.


Kepada wartawan Warsih mengungkapkan, bahwa rumahnya nyaris ambruk setelah terdorong tanah tebing yang longsor tepat di belakang rumahnya. Panjang longsoran tersebut hanya sekitar 5 meter dan tinggi 5 meter.

“Untung kejadiannya siang pas rumah sedang kosong, anak-anak juga sedang enggak ada di rumah. Kalau kejadiannya pas malam enggak tahu lagi,” tutur Warsih di lokasi, kemarin Senin (10/10).

Segera setelah kejadian Warsih dibantu keluarga dan tetangga segera mengamankan barang-barang yang ada di rumahnya, serta akibat rumah panggungnya nyaris ambruk, akibat dorongan sehingga bergeser sekitar 30-50 cm dan lepas dari tiang penyangganya (berupa batu di kolong rumah), para tetangga langsung menahan rumah tersebut menggunakan tiang bambu.

Demi keselamatan kini Warsih dan anak-anaknya sudah mengosongkan rumah tersebut. Untuk sementara dirinya bersama tiga anak dan seorang menantunya tinggal di rumah orangtua Warsih, yang tak jauh dari lokasi kejadian. Selain itu longsor juga masih mengancam beberapa rumah di sekitar rumahnya.

“Di belakang longsor, di bawah juga longsor terus sudah ada retak-retak juga. Jadi kalau hujan deras kami takut ada longsor susulan apalagi di malam hari,” jelasnya.

Tidak ada korban jiwa atas kejadian longsor yang terjadi Minggu siang ini, namun kerugian ditaksir mencapai Rp 25 juta. Seluruh rumah terpaksa harus dibongkar, karena sudah tidak layak huni dan membahayakan.

“Rumah saya harus dibongkar, rencananya besok, sama warga,” ungkapanya.

Sejauh ini pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB sudah datang meninjau dan memberikan bantuan logistik pascabencana.

“Kami sudah melakukan peninjauan dan kami juga sudah memberikan bantuan logistik berupa karpet, selimut, perlengkapan kesehatan dan makanan cepat saji,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD KBB Diki Maulana di lokasi.

Selain itu pihaknya juga akan mengupayakan agar rumah korban bencana tersebut diusulkan untuk Rehab rekon yang sifatnya stimulan.

“Namun prosesnya akan cukup lama karena tidak bisa satu-satu, kami harus menentukan calon lokasi dan calon penerima dan disahkan melalui SK Bupati jadi prosesnya juga tidak mudah,” kata dia.

Menurut Diki, hujan deras yang terus-terusan mengguyur di seluruh wilayah ini, juga mengakibatkan bencana longsor di beberapa wilayah di KBB seperti Kecamatan Cililin dan Padalarang yang masing-masing menyebabkan satu rumah rusak parah. Selain itu hujan deras juga mengakibatkan perggeseran tanah di wilayah Kecamatan Gununghalu.

Dikatakannya bencana tidak hanya terjadi di wilayah KBB saja tapi juga di seluruh wilayah Indonesia termasuk Jawa Barat. Untuk itu pihaknya akan meningkatkan status bencana di KBB menjadi siaga bencana banjir dan longsor sesuai dengan intruksi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Sesuai dengan prakiraan BMKG, hingga akhir Desember, intensitas hujan akan tinggi hingga di atas rata-rata, maka dari itu kami akan meningkagkan status bencana di KBB menjadi siaga bencana banjir dan longsor di 16 Kecamatan. Dengan status ini saya berharap masyarakat waspada bencana,” tuturnya. (bie/bas)

Loading...

loading...

Feeds