Pembiayaan MTF September Capai Rp 13,4 Triliun

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – PT Mandiri Tunas Finance (MTF) mencatat pertumbuhan pembiayaan baru hingga akhir September 2016 sebesar 11.84% secara tahunan (year on year) jika dibandingkan dengan periode yang sama 2015. Pertumbuhan ini menandai keberhasilan Perseroan dalam memasksimal penjualan di tengah kondisi daya beli yang turun, dan pertumbuhan industri otomotif yang masih terus melemah.


“Jadi hingga 30 September kemarin lending kami tumbuh Rp1,9 triliun jika dibanding September tahun lalu. Secara year to date pembiayaan kita mencapai Rp13,4 triliun, lebih baik dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp11,9 triliun. Jadi ada pertumbuhan hampir 12% untuk lending,” kata Direktur Utama MFT, Ignatius Susatyo di Bandung, Senin (10/10/2016).

Dari pertumbuhan penjualan tersebut, Susatyo mengungkapkan pembiayaan untuk mobil baru (new car) dari sisi amount tumbuh 12.50% dari total lending new car 2015. “MTF bermain di mobil baru namun kami masih terus tumbuh. Gaikindo sendiri mencatat pertumbuhan otomotif hanya 1% hingga Juli-Agustus 2016. Impact GIIAS pun hanya tumbuh 1%. Jadi kami masuk ke pasarnya kompetitor, dan ambil pasar mereka,” jelas Susatyo.

Dia juga mengungkapkan, ada hal unik yang terjadi di MTF dalam penjualan mobil baru, yakni bergeser segmentasi pasar. Biasanya segmen komersial menguasai 60% dan segmen passenger sebanyak 40%. Namun saat ini berubah drastis, dimana passenger menjadi 80% dan komersial hanya 20%.

“Hal ini sebenarnya sudah kami canangkan di awal tahun karena diperkirakan mobil komersial ini akan menurun sejalan dengan turunnya harga komoditas. Baik itu pertambangan maupun perkebunan. Itu terlihat dari data Gaikindo seperti kelompok Mistubishi, Daihatsu, Suzuki, itu komersialnya turun drastis,” katanya.

Prediksi MTF terbukti ketika dalam pameran GIIAS yang lalu, tidak ada commersial car yang model baru. Semuanya bermain di passenger car, seperti Zigra, Calya, dll. Kondisi ini bertolak belakang ketika pemerintah justru menggejot infrastruktur dimanna-mana, sementara permintaan commercial car malah menurun, dengan kondisi NPF yang memburuk.

“Rupanya mereka meng-utilisasi unit yang sudah ada, sehingga tidak ada pembelian yang baru untuk commercial car. Padahal infrasturktur dibangun pemerintah dalam skala besar,” ujar Susatyo.

Dengan kinerja hingga kuartal III yang masih terus postif, Susatyo pun mengaku optimis dengan target lending akhir tahun 2016 bisa terpenuhi yakni Rp18 triliun. “MTF selalu optimis untuk dapat mencapai target-targetnya, karena melihat dari tahun-tahun sebelumnya, MTF selalu exit target. Dan sampai sekarang tidak ada rencana untuk revisi target. Setiap tahun, MTF selalu ingin tumbuh secara sustainable, dan di tahun depan seiring dengan prediksi industri mobil stagnan, MTF optimis akan tetap tumbuh 5% – 10 % dari total lending tahun ini,” tegas Susatyo.

Sementara pembiayaan bermasalah (NPF Net) pun dijaga dengan baik yakni 0,86%. Catatan tersebut lebih baik dari NPF posisi September 2015 yang sebesar 0.9%. Susatyo pun mengungkapkan sejumlah strategi yang dilakukan perseroan sehingga mampu tumbuh sesuai target hingga triwulan III tahun ini. Antara lain memanfaatkan peluang dalam pembiayaan multiguna, meningkatkan market share di merk-merk yang masih lemah penetrasinya, dan terus mereview portofolio kredit untuk sektor industri yang akan mengalami penurunan.

“Kita juga mengakuisisi nasabah Bank Mandiri yang potensial untuk ditingkatkan melalui program-program KKB, selain meningkatkan aliansi antar anak perusahaan Bank Mandiri untuk meningkatkan volume dan fee based,” jelas Susatyo.

Salah satu yang gencar dilakukan antara lain promosi melalui fasilitas Mobile Apps MTF yang telah diluncurkan sejak akhir tahun lalu. Susatyo mengaku Mobile Apps MTF mendapat respon positif dari masyarakat dan kedepannya Mobile Apps MTF ini akan dibuat seperti e-commerce, dimana bisa meng-guide customer untuk pemrosesan kredit.

“Teknologi dan kontennya akan dipersiapkan untuk mendukung website MTF, dan segala data akan otomatis terhubung ke sistem. Selain itu customer dapat upload dan input segala informasi untuk pengajuan kredit di sistem. Sehingga, dapat untuk mengukur seberapa banyak customer yang prospek di MTF,” jelas Suatyo.

Dengan adanya Mobile Apps MTF, lanjut Susatyo, sejauh ini telah memberikan sumbangan pembiayaan hingga Rp 150 miliar dari total Rp1,5 triliun atau 5% aplikasi masuk dari referral Bank Mandiri.

Adapun sejak diluncurkan bulan Agustus 2015, Mobile Apps MTF saat ini telah didownload oleh 12.331 orang (per 30 September 2016), dan sangat terasa mempengaruhi tingkat pertumbuhan pembiayaan pada saat di GIIAS baru-baru ini.

Mobile Apps MTF menurut Susatyo dapat mempermudah customer melihat promo-promo yang dikeluarkan oleh MTF, produk dan layanan MTF, harga-harga mobil terbaru dari berbagai merk, memudahkan customer untuk menghitung simulasi kredit, mencari tahu informasi mengenai cabang-cabang MTF.

“Untuk customer existing, mobile apps ini sangat berguna untuk melihat berapa sisa angsuran mereka, tanggal jatuh tempo, dan lain sebagainya yang terkait dengan proses kredit,” ungkap Susatyo.

Selain itu, lanjut dia, MTF juga telah meluncurkan inovasi penjualan yang baru bersama Bank Mandiri yakni Pre Approve Bank Mandiri. Program ini diujicobakan telebih dahulu bagi nasabah prioritas Bank Mandiri.

“Program ini kita ujicobakan di 200 ATM di Jabodetabek. Nantinya nasabah prioritas akan menerima pesan di layar ATM, bahwa mereka terpilih sebagai salah satu nasabah yang mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pembiayaan dari MTF senilai sekian, dengan cicilan sekian. Jika nasabah setuju, tinggal memasukan nomor HP, dan akan dihubungi oleh MTF,” urai Susatyo.

Jika program Pre Aprove Bank Mandiri berjalan baik di ATM, di tahun 2017 nanti akan diujicobakan di mobile banking. Susatyo pun berharap penjualan dengan sistem digital ini ke depan bisa menyumbang penjualan hingga 20%.

Sementara lini usaha lain di luar pembiayaan otomotif, seperti kredit multiguna, investasi dan modal kerja, seajuh ini menurut Susatyo masih minim. “Kami ada, tetapi baru 2%-3%,” katanya.

Ketika ditanya soal polemik uang muka (down payment/DP) murah dan suku bunga rendah, Susatyo menegaskan, MTF lebih memilih DP normal dengan bunga kompetitif. “Karena DP mencerminkan risiko, lebih baik bunga kompetitif, dan DP kami mengikuti saja ketentuan regulator,” tegas dia.

MTF telah menerapkan program bunga murah seperti Bunga Pintar (2,55%) yaitu semakin tinggi DP, semakin murah bunga yang ditawarkan. Kemudian Bunga 0% selama 6 bulan (regular), dan Bunga 0% selama 1 tahun pada saat di GIIAS yang lalu.

Di akhir tahun ini, lanjut Susatyo, MTF akan tetap merilis program kejutan bagi nasabah. “Tetap akan ada gebrakan-gebrakan kejutan dari MTF baik untuk customer existing dan calon customer. Namun belum bisa di publikasikan. MTF selalu berinovasi dalam produk dan layanan terbaik untuk customer dari sisi penawaran ke customer dan pembuatan event di daerah. Saat ini kita lagi ikut pameran GIIAS di Makasar,” kata dia.(azm)

Loading...

loading...

Feeds

Sampah Menumpuk di Pasar Gedebage

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Terjadi penumpukan sampah di Pasar Gedebage, Kota Bandung, Senin (17/5). Tumpukan sampah disebut terjadi menjelang lebaran, akibat …