Soal Perusak Lingkungan, Wagub Jabar Minta Aparat Bertindak

Wagub Jabar Deddy Mizwar

Wagub Jabar Deddy Mizwar

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Aparat penegak hukum harus segera menindak perusak lingkungan di hulu aliran Sungai Cimanuk. Hal ini penting untuk memperbaiki kawasan resapan air agar peristiwa banjir bandang di Kabupaten Garut tidak terulang.


Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan, bencana alam ini salah satunya terjadi karena banyaknya penebangan pohon di daerah hulu Sungai Cimanuk. Bahkan, Deddy menegaskan, kerusakan lingkungan yang hebat telah terjadi di Kabupaten Garut yang seharusnya memiliki 82 persen kawasan hijau.

“Banyak penebangan pohon. Jadi kalau musim kemarau panjang debit air Sungai Cimanuk menyusut, dan ketika hujan airnya melimpah tak terbendung,” kata Deddy di Bandung, akhir pekan kemarin.

Deddy pun meminta aparat menindak pelanggar dan perusak lingkungan. Menurutnya, hukum jangan dipermainkan agar tidak ada kerusakan alam yang lebih besar lagi.

“Para penegak hukum harus bergerak lebih cepat terhadap pelanggaran-pelanggaran lingkungan. Saya sangat prihatin luar biasa,” katanya.

Lebih lanjut Deddy katakan, perubahan cuaca yang ekstrim juga menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana ini. Hujan cukup deras meski saat ini belum memasuki musim penghujan.

“Inikan fenomena Lanina musim kering tetapi basah. Sehingga curah hujannya pun terjadi dengan intensitas jarang, tetapi sekali hujan sangat lebat,” pungkasnya.

BPLHD Provinsi Jabar menyebut terjadi kerusakan di kawasan hulu Sungai Cimanuk. Banjir bandang yang berasal dari luapan sungai tersebut pada Selasa lalu pun salah satunya diakibatkan kerusakan tersebut.

Kepala BPLHD Anang Sudharna mengatakan, dari seluruh luas kawasan hulu sungai tersebut, sebagian besarnya telah rusak akibat alih fungsi lahan. “Mencapai lebih dari 60 persennya yang rusak,” kata Anang saat di Bandung.

Alih fungsi tersebut diantaranya menjadi lahan perkebunan warga, hingga kawasan wisata. Padahal, lanjutnya, Pemerintah Provinsi Jabar telah menetapkan aturan pasti terkait rencana tata ruang dan wilayah yang salah satunya menyangkut kawasan hijau.

“Pemprov sudah menyusun RTRW. Jabar sudah menetapakan dalam kebijakan perda kawasan lindung dan perda RTRW, bahkan dalam RPJMD. Itu sudah didistribusikan, termasuk ke Garut,” katanya.

Selain faktor kerusakan di kawasan hulu Sungai Cimanuk, lanjut Anang, Garut pun memiliki topografi wilayah yang curam. Sehingga, air hujan akan turun dengan cepat ke wilayah hilir.

“Jadi selain cathment area yang rendah, topografi Garut juga curam. Sehingga air hujan langsung turun dengan cepat,” ujarnya.

Dengan kondisi ini, lanjut dia, air hujan yang meresap ke tanah hanya 20 persennya saja. Sehingga, sebagian besarnya mengalir deras ke hilir. (agp)

Loading...

loading...

Feeds