Kisah Para Korban Banjir Bandang Garut, Lompati Atap-atap Rumah Bocah Selamat

Fajar Rizki (13) memerlihatkan pesan singkat yang ditujukan kepada ayahnya di RS Guntur, Jalan Bratayudha, Kabupaten Garut, Kamis (22/9). Fajar Rizki merupakan korban selamat yang terbawa arus banjir bandang yang sempat meminta pertolongan kepada ayahnya melalui pesan singkat.

Fajar Rizki (13) memerlihatkan pesan singkat yang ditujukan kepada ayahnya di RS Guntur, Jalan Bratayudha, Kabupaten Garut, Kamis (22/9). Fajar Rizki merupakan korban selamat yang terbawa arus banjir bandang yang sempat meminta pertolongan kepada ayahnya melalui pesan singkat.

POJOKBANDUNG.com, – BANJIR bandang Garut menjadi perhatian semua pihak. Radar Bandung pun mengirimkan dua jurnalisnya untuk meliput langsung dampak banjir bandang Garut. Seperti apa kisah pilu para korban banjir bandang Garut? Berikut laporan KHAIRIZAL MARIS dan BAHI BINYATILLAH dari Garut.


Fajar Rizki (13) terlihat pincang saat mendatangi tempat identifikasi jenazah di RSUD Guntur, Jl. Bratayudha, Garut. Bagian kura-kura kaki sebelah kanannya dibalut perban.

Meski memasang muka cemas, namun kedua matanya sigap menyapu daftar orang hilang dan meninggal yang dipasang tak jauh dari tempat identifikasi jenazah. Rupanya Fajar sedang mencari anggota keluarganya yang belum ada kabar setelah banjir bandang melanda Garut.

“Saya mencari daftar nama kakak dan adik saya. Tapi belum ketemu,” ujarnya sambil tertunduk, Kamis (22/9/2016) sore.

Hujan rintik yang turun di sore itu seakan menggambarkan kesedihan yang amat sangat dirasakannya. Bagaimana tidak, saat banjir Bandang menggulung kediamannya yang terletak di belakang asrama Tarumanegara, Jl. RSUD dr. Slamet, Ia sempat hanyut bersama Ibu dan saudaranya.

Ibunya, Santi Kosmiati (38) berhasil ditemukan meski dalam kondsisi tak bernyawa, dan dikebumikan di Kp. Cibatu belum lama ini. Sementara kakaknya, Rizki Putera (17) dan adiknya Muhamad Fajri (3) masih belum ada kejelasan terkait hidup dan matinya.

Dengan terbata dan menahan tangis, Fajar menceritakan tragedi pada Selasa (20/9/2016) malam saat banjir bandang menerjang.

“Waktu kejadian saya dibangunkan sama ibu. Air udah masuk ke rumah. Tapi ga lama kemudian, sekitar lima menit, rumah saya kegusur air. Saya hanyut bersama ibu dan adik dan kakak saya,” ujarnya.

Ia mengaku sempat melihat dan mencoba menolong ibunya. Namun, aliran air yang kuat menghanyutkan ibunya semakin jauh sampai tidak bisa ia raih lagi.

Masih dalam terjangan air, di antara hidup dan mati, Fajar berenang sekuat tenaga mencari tepian. Akhirnya, atap sebuah rumah bisa ia pijak.

Namun, pondasi dari atap rumah yang ia pijak tidak kuat menahan serbuan air. “Saya lompat dari satu atap ke atap yang lain. Saya ga tahu pasti ada berapa atap rumah yang saya lompati. Yang jelas saya terus berlari dan melompat menghindari air. Ini luka di kaki saya juga akibat pecahan kaca karena lompat-lompat dari atap, harus dijahit sampai enam jahitan,” kenangnya.

Hingga akhirnya ia sampai ke satu rumah yang tidak terjangkau air. Rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh tak dirasakannya. Yang ada di benaknya adalah nasib Ibu, Kakak, dan Adiknya.

“Saya diam di satu rumah itu kira-kira sampai pukul 03.00 WIB. Lalu saya lihat ada cahaya dari lampu senter. Saya teriak minta tolong, dan akhirnya bisa diselamatkan,” ucapnya getir.

Singkat cerita, Fajar dipertemukan dengan ayahnya, Yuyun ramdani (46) yang saat kejadian berada di daerah Ciateul, Garut.

Rumah Fajar memang terletak di salah satu kawasan pemukiman padat persis disamping sungai. Tak ayal, wilayah tersebut menjadi salah satu daerah yang terdampak parah banjir bandang. (*)

Loading...

loading...

Feeds

Sampah Menumpuk di Pasar Gedebage

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Terjadi penumpukan sampah di Pasar Gedebage, Kota Bandung, Senin (17/5). Tumpukan sampah disebut terjadi menjelang lebaran, akibat …