Karena Ricuh KONI Evaluasi Gelaran PON

Kericuhan sempat mewarnai final Sanda kelas 52 kg putri cabor wushu, Rabu (21/9), di GOR Pajajaran, Kota Bandung.

Kericuhan sempat mewarnai final Sanda kelas 52 kg putri cabor wushu, Rabu (21/9), di GOR Pajajaran, Kota Bandung.

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Wakil Ketua KONI Pusat Soewarno mencoba untuk mendinginkan suasana di tengah dugaan kecurangan serta kericuhan yang terjadi pada beberapa pertandingan dalam gelaran PON XIX/2016.


Ia mengakui, evaluasi besar-besaran terhadap event olahraga nasional empat tahunan tersebut mesti dilakukan, setelah munculnya berbagai keluhan dari para kontingen.

“Pasti kami akan melakukan evaluasi dengan melihat setiap yang terjadi di lapangan,” ungkap Soewarno.

Namun demikian dia mengklaim jika pelaksanaan PON masih berada dalam batas kewajaran.  Untuk sementara ini, dia meminta semua pihak untuk dapat membantu suksesnya gelaran PON tahun ini.

“PON substansinya perlu di support oleh semua pihak,” ucapnya.

Dia menyayangkan komentar Menpora Imam Nahrawi dalam akun twitter @imam_nahrawi. Ia mempertanyakan kecurangan yang dimaksudkan oleh Menpora.

“Kecurangan di mana. Tidak memahami yang dimaksud kecurangan itu di mana,” bilang Soewarno.

Menurut pandangannya, tidak ada kecurangan dalam PON XIX/2016. Kecurangan yang dituduhkan oleh Menpora, menurutnya, nyaris tidak mungkin terjadi. Seperti dalam mekanisme pemilihan wasit, kata dia, sama sekali tidak melibatkan kubu tuan rumah.

“Wasit itu ditentukan PP (pengurus pusat) cabang olahraga. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan PB PON,” tegasnya.

Sebagai contoh, dia menyebutkan, pengadil pada cabor dansa diupayakan seadil mungkin dengan menghadirkan 13 juri sekaligus. Hal itu dilakukan guna meminimalisasi subyektivitas penilaian.

“Dansa memang faktor subyektivitasnya tinggi. Tapi kami meminalisir agar tidak ada penyimpangan. Wasit sekali memimpin 13,” imbuh dia.

Sehingga, dia menduga, kecurangan yang dituduhkan Menpora muncul akibat adanya sejumlah kericuhan.

“Itu bukan kecurangan, tapi sedikit kericuhan,” ucapnya.

Dia pun menyebut, friksi yang terjadi dalam sejumlah pertandingan merupakan hal biasa. “Bukan asing lagi, biasa terjadi,” katanya lagi. Akhirnya, dia meminta kepada semua pihak untuk bsa memahami atmosfer yang terjadi di lapangan saat digelarnya pertandingan.

“Kita harapkan semua pihak harus mengetahui suasana kebatinan di setiap pertandingan,” pungkasnya. (agp)

Loading...

loading...

Feeds

Sampah Menumpuk di Pasar Gedebage

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Terjadi penumpukan sampah di Pasar Gedebage, Kota Bandung, Senin (17/5). Tumpukan sampah disebut terjadi menjelang lebaran, akibat …