Sampai Sekarang Eksistensi Musik Jadul Terus Berdendang

Pemutar Kaset Jadul.

Pemutar Kaset Jadul.

 


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Alunan musik seakan mengisi ruangan toko yang bernuasa jadul di Jalan Dipatiukur, tepatnya di Toko DU 68 Musik. Suara yang didendangkan tersebut merupakan musik yang berjaya di tahunnya. Deretan kaset-kaset zaman dulu berderetan menghiasi rak tinggi yang tersusun rapi.

Toko musik era 90-an ini dihuni oleh Irham Fikri. Ia merupakan karyawan dari toko kaset lawas itu. Setiap harinya, Irham melayani pembeli kaset mulai dari kolektor, mahasiswa, siswa dan karyawan yang masih menyukai kaset zaman dulu ini.

Irham mengatakan, usaha kaset pita sampai saat ini masih bisa bertahan karena ada yang mencarinya. Tapi, para pembeli pun tetap dari kolektor kaset-kaset lama, terlebih kaset rock Indonesia dulu. Terbentuknya toko di lantai dua ini pun diawali dengan membuka lapak oleh pemiliknya di ITB di tahun 90-an, kemudian berkembang menjadi toko seperti sekarang ini.

Masih adanya toko kaset seperti DU 68 Musik, menggambarkan bahwa kaset pita masih mendapatkan tempat di hati penikmat musik. “Kalau kaset kaya gini peminat utamanya tetap kolektor, tapi ya kembali lagi yang beli. Mereka seleranya seperti apa, makanya di sini banyak kaset dari eranya masing-masing,” ujar pria lulusan SMK tersebut.

Jika dihitung di masa sekarang, penjualan kaset pita masih mengalami peningkatan menurut Irham, sebab masih ada kolektor yang mencari kaset pita di beberapa tahun silam, dan terkadang ada saja yang memborong kaset di toko yang sudah berdiri sejak 15 tahun lalu itu. Untuk kaset sendiri, Irham mengakui banyak cara untuk mendapatkannya, seperti tukar tambah, beli ke kolektor, atau pun ke luar kota.

“Kalau pembeli rata-rata kolektor, dibandingkan zaman dulu, di zaman sekarang ya masih ada peningkatanlah, soalnya yang masih ada. Kalau dulu sehari bisa 50, tapi kalau sekarang gak tentuan, memang sih kurang dari 50, tapi cukup ada peningkatan, karena ini barang langka dan jarang adanya,” jelas Irham.

Toko kaset pita di Kota Bandung dulunya, berawal dari lapak-lapak kecil dan banyak tersebar di berbagai tempat, seperti Cihapit, Astana Anyar, Alun-Alun, Cipaganti dan Dewi Sartika, namun keberadaanya mulai terkikis seiring dengan berkembangnya DVD atau pun CD.

Meskipun begitu, Irham yang juga seorang kolektor kaset jadul ini mengakui bahwa usahanya masih bisa bertahan, karena masih banyaknya orang-orang yang menyukai lagu-lagu lama yang hanya ada dalam bentuk kaset pita, meski hanya segelintir orang, tapi setiap harinya selalu ada yang mencari kaset tersebut.

Di toko yang menyimpan lebih kurang 10.000 koleksi kaset pita dan piringan hitam ini, Irham melayani pembeli dari berbagai kalangan. Kadang, kata Irham, ada pembeli yang mencari kaset yang sudah sangat lama, kalau pun ada, ia belum tentu menjualnya.

“Ada yang aneh sih, cari kaset yang jadul banget kan kami gak ada. Kalau pun ada kami belum  tentu menjualnya. Karena beda di sini saya penjual iya, kolektor iya, kalau saya suka ya mending saya simpan dulu dari pada dijual soalnya kan sudah langka,” ujarnya.

Meski sudah dikalahkan dengan adanya DVD atau CD, kaset pita masih dicari. Melihat keberadaan DVD/CD saat ini, Irham menilai itu adalah sebuah proses pembaharuan, namun banyak yang salah menggunakan karena tergiur harga yang murah, maka terciptalah kaset-kaset bajakan.

“Menurut saya, musik itu adalah luapan perasaan. Jadi dengarkan, ceritakan dan publikasikan. Kalau sekarang orang banyak beli DVD/CD bajakan berarti mereka hanya mendengarkan dan tergiur harga murah. Saran saya jangan tergiur harga murah, pilih selera musik sendiri, karena pilihan musik itu sesuai diri individu dan lebih berasa, biar bisa menikmati kualitas musik  yang sesungguhnya,” pungkas Irham. (cr3)

Loading...

loading...

Feeds