Pertandingan Wushu Ricuh, Pembagian Satu Medali Emas Tertunda

Pelatih Wushu Jabar,
Alfred Maweru lakukan protes saat pertandingan laga final Selviah Pertiwi kontra Rosalina Simanjuntak asal Sumatra Utara di kelas 52 kilogram putri.. (asep rahmat)

Pelatih Wushu Jabar, Alfred Maweru lakukan protes saat pertandingan laga final Selviah Pertiwi kontra Rosalina Simanjuntak asal Sumatra Utara di kelas 52 kilogram putri.. (asep rahmat)

 


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pertandingan Cabang olahraga (Cabor) wushu di GOR Padjajaran Kota Bandung berlangsung ricuh saat tim Jabar lakukan protes kepada wasit karena memenangkan kontingen Sumatra Utara dalam laga final kategori sanda (tarung) di kelas 52 kilogram putri.

Kericuhan terjadi sekitar pukul 15.00 WIB saat puluhan suporter Jabar nampak tersulut emosi ketika tim kesayangannya merasa dicurangi oleh wasit, ditambah Manager sekaligus Ketua Pengda Wushu Jabar langsung turun ke arena pertandingan dan lakukan protes terhadap keputusan wasit. Pertandingan sempat terhenti hampir satu jam lamanya. Sekitar pukul 16.00 WIB pertandingan dilanjutkan dengan tim lain sambil menunggu keputusan dewan hakim mengenai hasil akhir tim Jabar atas nama Selviah Pertiwi kontra Rosalina Simanjuntak asal Sumatra Utara.

Manager Wushu Jabar, Edwin Sanjaya menegaskan, dirinya merasa tidak puas dan sangat kecewa terhadap keputusan wasit karena telah memberikan penilaian tidak berimbang seolah membela Sumatra Utara.

“Pertandingan ini disaksikan orang-orang yang mengerti seluk beluk aturan permainan. Kita bicara keadilan bukan karena Jabar tuan rumah,” ungkapnya kepada wartawan saat ditemui di sela-sela pertandingan, Rabu (21/9).

Edwin mengungkapkan, kejadian tersebut adalah ‘aib’ di dunia olahraga dimana wasit yang seharusnya menjadi ujung tombak keadilan di arena pertandingan harus bertindak dengan sangat bodoh karena sportifitas dan fairplay harus kalah dengan cara yang curang.

“Sebelumnya kami melihat Jambi seharusnya menang tapi harus gagal dan kejadian serupa kembali pada Jabar, kami tidak mau diam begitu saja. Contoh seperti kemarin kalau memang Jabar kalah ya’ kami terima,” terangnya.

Ditanya apakah wasit ada keberpihakan, Edwin mengatakan, hal tersebut bisa dipastikan terjadi karena terbukti dalam beberapa pertandingan ada wasit yang tidak memberi nilai. Edwin-pun sempat terbawa emosi hingga dirinya menantang untuk berkelahi dengan wasit bila memang pertandingan tidak fairplay.

“Kita akan terus bersikap bila perlu berantem saja. Kalau seperti ini banyak yang dirugikan kontingen lain juga bisa merasa kecewa,” ungkapnya.

Selviah Pertiwi (25) mengaku, kejadian ini semoga tidak berlarut-larut dan secepatnya selesai. Jauh dari itu, ia berharap medali emas bisa diraih untuk menambah pundi-pundi medali untuk Jabar.

“Tidak menyangka bisa kejadian seperti ini, apalagi harus nunggu keputusan dewan hakim,” terangnya.

Informasi yang diterima Radar Bandung keputusan pemenang laga final tersebut dalam berita acara yang dimusyawarahkan wasit dan dewan hakim berdasarkan bukti dan data dimenangkan oleh pihak Jawa Barat. Namun, karena pihak Sumatra Utara ikut menggugat dan tidak menerima maka naik banding, kemungkinan besar keputusan final akan disahkan oleh dewan hakim PB PON.

Bila benar Selviah Pertiwi memenangkan pertandingan artinya Cabor Wushu Jabar sudah mengumpulkan empat medali emas yang terbagi di nomor Sanda tiga medali emas atas nama Ade Permana di kelas 48 kilogram putra, Selvi Pertiwi di kelas 52 kilogram putri dan Iman Lesmana di kelas 75 kilogram putra sedangkan satu emas disumbangkan oleh Monica Fransisca di kategori taolu.

Sementara itu, Sekertaris Umum KONI Jabar, M Q Iswara menuturkan, tim Wushu Jabar sudah bisa membuktikan target medali emas yang diharapkan yaitu empat medali emas, pihaknya mengapresiasi kerja keras yang sudah dilakukan baik jajaran pelatih, manager terutama atlet.

“Alhamdulilah Cabor Wushu sudah menambah pundi-pundi medali emas untuk Jabar tinggal pertandingan lainnya,” ungkapnya.

Kata Iswara, adapun kericuhan akibat aksi protes yang dilakukan Jabar hal tersebut merupakan sesuatu biasa dalam satu pertandingan dan tidak perlu dibesarkan.

“Mau Sea Game ataupun Asean Game selalu ada bentuk protes, jadi ini hal biasa dilakukan bila terjadi sesuatu yang berjalan tidak sewajarnya,” tandasnya.(arh)

Loading...

loading...

Feeds