Melihat Kehidupan Padat Penduduk Harus Berjuang Taklukkan 200 Tangga

PADAT : Warga melintasi jalan setapak di Kampung 200 di Jalan Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Cisitu, Kota Bandung, (Ilustrasi)

PADAT : Warga melintasi jalan setapak di Kampung 200 di Jalan Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Cisitu, Kota Bandung, (Ilustrasi)

POJOKBANDUNG.com BANDUNG adalah kota besar yang terkenal dengan sejumlah tempat terbaik. Kota yang kini terkenal macet dan padat penduduk, nyatanya bukan hal baru lagi, Kampung 200 menjadi saksi sejarah bahwa kepadatan di Kota Kembang Bandung sudah ada sejak lama.


———————————————
Restia Aidila Joneva, Bandung
———————————————

Kampung 200 merupakan sebuah kampung yang terletak di Jalan Sangkuriang, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Cisitu, Kota Bandung. Kampung ini terbentuk akibat pergusuran pedagang kaki lima (PKL) yang terletak di Sasana Buana Ganesha (Sabuga) belasan tahun lalu oleh pihak ITB karena akan dibangun Gedung Sabuga saat ini.
Asal usul nama Kampung 200 pun berawal dari upah yang diberikan pihak ITB sebanyak 200 kepada warga yang terkena penggusuran untuk membangun rumah mereka dengan demikian dikenal sebagai Kampung 200.
Ketua RT 10 RW 12, Rasimun, mengisahkan saat itu pihak ITB memberikan pinjaman tanah untuk ditempati warga yang berjumlah 144 kepala keluarga untuk ditempati, namun hal itu hanya bersifat sementara, karena tanah tersebut merupakan tanah milik ITB.
Warga terpaksa harus membangun rumah dengan kondisi lahan seadanya. Namanya juga tanah yang dipinjamkan tentunya tidak akan leluasa.
“Kalau di sini kita ya dipinjamkan tanah milik ITB, bangun rumah ya kita yang bangun dengan ukuran yang seadanya makanya tanah di sini rapat dan padat, ada lahan lagi dibangun rumahnya. Ya mau nggak mau harus terima dari pada nggak punya rumah,” ujar pria berkacamata tersebut saat ditemui beberapa waktu lalu.
Padatnya suasana perumahan membuat warga harus benar-benar pintar dalam menggunakan lahan. Begitu pun anak-anak, dengan lokasi rumah yang terbatas mereka menjadikan lorong atau gang sempit untuk tempat bermain. Untuk masuk ke Kampun 200, harus menuruni anak tangga terlebih dahulu yang berjumlah 200 buah.
Setiap menuruni anak tangga, akan terlihat deretan rumah yang saling berdekatan. Adapun profesi warga Kampung 200 sendiri adalah pedagang dan karyawan pabrik yang rata-rata berpenghasilan menengah ke bawah. Di Kampung 200 terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan aktivitas warga ke Kampung lainnya seperti Kampung Sapu Lidi. Tak hanya itu, warga pun memanfaatkan aliran Sungai Cikapundung untuk mencuci, mencari ikan, dan aktivitas lainnya.
Meskipun hidup dalam keterbatasan dan kepadatan, warga Kampung 200 hidup rukun dan damai. Hal tersebut diungkapkan oleh Lurah Dago, Supriyanto.
Diakui Supriyanto bahwa kehidupan warga di Kampung 200 saling berdampingan dan menghargai, belum ada terjadi masalah sosial.
“Keadaanya jelas padat, kalau untuk masalah sosial sejauh ini saya belum terima, warga hidup berdampingan saja. Karena rumah kan di sana berdekatan, jadi pasti saling menghargai,” ungkapnya. (*)

Loading...

loading...

Feeds

Tukang Rias Meninggal di Kamar Kos

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Warga Kelurahan Panglejar, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, mendadak geger. Mereka dikejutkan dengan temuan sesosok mayat laki-laki di …

15 Nakes Covid, Puskesmas Cisalak Ditutup

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Puskesmas Cisalak, Kabupaten Subang ditutup. Ini karena 15 nakesnya terkonfirmasi positif virus Covid-19. Penutupan dilakukan selama 14  …

Perbaikan Tanggul Meleset dari Target

POJOKBANDUNG.com, BEKASI – Perbaikan tanggul Sungai Citarum yang berada di Kampung Babakan Banten, Desa Sumberurip, Kecamatan Pebayuran, belum juga selesai …

Ratusan Prajurit Kodam Divaksin Sinovac

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Ratusan prajurit TNI dijajaran Kodam III/Siliwangi menerima suntikan Vaksinasi Sinovac. Hal tersebut disampaikan Kapendam III/Siliwangi Kolonel Inf …