Cegah Narkoba, Mahasiswa (Unla) Bandung Perlu Dites Urin

Brigjen Pol Drs Fatkhur Rahman menyampaikan kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa baru Unla, di Wisma Buana, Kampus Unla, Bandung, Rabu (14/9).

Brigjen Pol Drs Fatkhur Rahman menyampaikan kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa baru Unla, di Wisma Buana, Kampus Unla, Bandung, Rabu (14/9).

POJOKBANDUNG.COM, BANDUNG–Mengusung tema Nation & Character Building, Universitas Langlangbuana (Unla) Bandung menggelar Pengenalan Studi Perguruan Tinggi (Pasupati) 2016, yang berlangsung selama empat hari mulai Rabu hingga Sabtu (14-17 September 2016).


Dalam rangkaian kegiatan Pasupati itu, sebanyak 1.867 mahasiswa baru dari lima fakultas di Unla diterima secara resmi dalam sidang senat terbuka, yang dipimpin langsung Rektor Unla, Brigjen Pol (Purn.) Dr HR AR Harry Anwar SH di Wisma Buana, Kampus Unla, Bandung, Rabu (14/9).

Selain penerimaan mahasiswa baru, hari pertama Pasupati diisi dengan kuliah umum oleh Direktur Pemberdayaan Alternatif Deputi Bidang Dayamas Badan Narkotika Nasional (BNN) Brigjen (Pol) Drs Fatkhur Rahman SH.

Di hari terakhir Pasupati (17/9) dalam acara Malam Inagurasi, akan diberikan pula rekor MURI untuk perahu dari botol plastik minuman bekas terbesar yang dibuat unit mahasiswa Mapala Unla.

“Dengan kegiatan Pasupati ini, para mahasiswa baru dapat mengubah paradigma, menumbuhkan keyakinan dan kemampuan, menghilangkan hambatan hidup serta membongkar keyakinan diri sendiri,” ujar Rektor Unla Harry Anwar.

Rektor berharap, dalam kegiatan sehari-hari nantinya, para mahasiswa akan terbangun kebersamaan, menghilangkan sikap ego dan individualis serta akan menumbuhkan sikap kerjasama.

Sementara, Brigjen Pol Drs Fatkhur Rahman dalam kuliah umumnya bertajuk Bahaya Narkotika dalam Perspektif Nation and Character Building, menyatakan, narkotika menjadi musuh utama bagi bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia.

“Narkoba itu setan yang ada di dunia yang berwujud obat-obatan atau makanan. Itu yang harus dijauhi mahasiswa,” ungkap Fatkhur Rahman.

Narkoba, kata dia, menjadi ancaman nyata bagi bangsa Indonesia bahkan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyatakan darurat narkoba dan perang terhadap narkoba di Indonesia.
“Indikasi narkoba berbahaya karena daya rusaknya melebihi bahaya terorisme. Bayangkan saja, dalam satu hari sekitar 40-50 warga Indonesia mati sia-sia karena narkoba bagaimana jika setahun. Kerugian materi akibat narkoba mencapai Rp 70 triliun, itu habis sia-sia hanya untuk mengkonsumsi narkoba.

“Tak hanya itu, narkoba telah merasuki kalangan pejabat dan aparat hukum, mereka pun ada yang terlibat narkoba. Dari aspek wilayah, sebagai negara maritim yang sangat luas Indonesia rawan untuk dimasuki narkoba. Jadi narkoba sangat mudah masuk ke indonesia. BNN tak mungkin bisa mengawasi seluruh wilayah dengan keterbatasan yang ada,” paparnya.

Belum lagi, ada 5 juta dari 250 juta penduduk Indonesia menjadi pengguna aktif narkoba.
“Lingkungan pondok pesantren pun tak luput dari ancaman narkoba, sebab itu mahasiswa diimbau hati-hati dalam bergaul. Bergaullah dengan orang-orang yang punya visi misi hidup ke depan lebih baik. Mahasiswa harus menjadi benteng-benteng masuknya narkoba,” imbau Fatkhur Rahman.

Selain perlunya mahasiswa memiliki kesadaran dan pengetahuan yang berkaitan dengan narkoba serta bahayanya, Fatkhur Rahman juga berharap kampus melakukan tes urin terhadap mahasiswanya.

“Itu jauh lebih baik untuk pencegahan dini, selain kegiatan lainnya berupa sosialisasi dari BNN serta slogan pencegahan narkoba,” pungkasnya. (nto)

Loading...

loading...

Feeds