Terancam Tak Punya Rumah

BALEENDAH – Sisa lumpur kering menutupi setiap tembok rumah warga. Sampah sisa banjir masih terlihat dihalaman sejumlah rumah. Kampung Cieunteung, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, kini berubah menjadi pemukinan yang nampak kumuh. Becek dan tanah lumpur serta perahu yang tercecer, menjadi penyambut setiap orang yang tiba di kampung ini.

Suara bising ketukan ‘palu besar’ sudah menjadi keakraban ditelinga warga Cieunteung beberapa pekan kebelakang. Hilir-mudik kendaraan berat pembawa ‘paku bumi’ menjelang fajar terbit, terkadang menjadi alarm otomatis saat subuh tiba.

Getaran dari kuatnya pemasangan ‘paku bumi’ membuat sebagian rumah warga mengalami kerusakan. Perasaan was-was masih terus menyelimuti warga yang tetap memilih bertahan di kampung Cieunteung.

Saat ini ratusan warga terancam tidak memiliki rumah, karena ganti rugi untuk pembebasan tanah dan bangunan tak kunjung dipenuhi. Namun, riuhnya suara anak kecil seakan menjadi pengobat permasalahan yang menyelimuti kampung ini.

Rencananya Cieunteung akan ditenggelamkan, tanah seluas kurang lebih enam hektar ini akan dijadikan Kolam Retensi untuk mengatasi banjir yang sering melanda wilayah tersebut.

“Pengukuran tanah untuk pembuatan kolam retensi ini sudah dilakukan oleh pihak pemerintah sejak bebrapa bulan yang lalu, kurang lebih ada enam hektar dari 6 RT yang ada,” tutur Ketua RW 20, Jaja (48), saat ditemui Radar Bandung, Kamis (8/9).

Kurang lebih sebanyak 400 bangunan dan tanah dari 360 kepemilikan, masih terus diperjuangkan oleh warga Cieunteung. Harapannya, agar ganti rugi sesuai dengan keadaan semula. “Kendalanya ada pada disurat menyurat, serta melengkapi data kepemilikan dari setiap warga,” jelas Jaja dengan senyum tampak ragu.

Jaja mengatakan, disamping berjalannya proses penyelesaian pembebasan tanah bangunan dan ganti rugi, sudah disiapkan pula lahan pengganti seluas satu hektar. Rencananya tanah tersebut akan ditempati oleh warga Cienteung. “Panitia khusus pemindahan sudah ada untuk mengatasi pemindahan, tetapi sampai saat ini baru 100 kepala keluarga yang bersedia ikut pindah kesana, sambil nanti menunggu penyelesaian ganti rugi,” tuturnya.

Namun, saat Radar Bandung mendatangi salah seorang warga, sambutan hangat begitu terasa, seolah tak ada rasa sedih dan masalah yang sednag menimpa mereka. Sejumlah anak bahkan sedang asik bermain diantara matrial untuk pembuatan Kolam Retensi.

Salah seoarng warga, Darga (58) menuturkan, tidak ada penolakan dari seluruh warga yang berada di Cieunteung, hanya saja kepastian yang belum jelas memaksa warga tetap tinggal. “Bukan menolak pembangunan, warga tetap tinggal karena belum ada harga pasti,” tegasnya.

Ya, warga Cieunteung merasa kecewa atas sikap pemerintah terkait pembuatan Kolam Retensi. Pasalnya, ganti rugi yang dijanjikan pertengahan bulan Agustus lalu tak kunjung ada hingga kini. Diakui Darga, beberapa mediasi terkait permasalahan ini tak pernah menemui titik terang.

“Kumpul sudah beberapa kali, baik di kelurahan maupun di masjid sini, tetapi tidak ada hasil akhir yang memuaskan bagi warga,” tandas Darga.

“Asa Kecewa,” cetus Darga. (cr1)

Loading...

loading...

Feeds