Rindu Bandung Tempo Dulu Jalan Lengang tanpa Kemacetan.

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com BANDUNG – Jalan lengang tanpa kemacetan. Warga bisa mencapai tempat tujuan tanpa harus berjuang mengeluarkan keringat dan bensin berlebih. Rupanya Bandung tempo dulu yang masih ‘perawan’ dari kemacetan masih dirindukan warga.


Sejuk banget. Kediaman Ismed A, warga Sarijadi, Kota Bandung benar-benar nyaman. Di garasinya terlihat dua mobil terparkir. Ya Ismed mempunyai sedan Civic dan Kijang Innova. Terlihat pula tiga unit sepeda motor berbagai merk tengah terparkir.

Usai menyuguhkan satu gelas air hangat dan cemilan, Ismed memulai obrolannya. Ismed mengaku penat dengan kemacetan di Kota Bandung.

Menurutnya, kepadatan lalu lintas saat ini sangat jauh berbeda dengan saat ia pertama kali menginjakan kaki di Bandung pada 1975 silam.

Ismed membandingkan kondisi kemacetan Kota Bandung antara tahun 1975, dengan tahun 2000 awal saja cukup jauh berbeda. Sekarang macet banget.

Ayah dua putra ini menyebut, saat awal 2000 pun, setiap pagi saat hendak bekerja, Jalan Surya Sumantri, Kota Bandung masih lengang meski di jam-jam pergi kantor dan sekolah.

Lelaki berperawakan tinggi ini menggambarkan bahwa kondisi kemacetan sekitar Surya Sumantri saat ini selalu macet bahkan hingga mengular ke Jalan Sutami. Ismed menuding penyebab kemacetan itu adalah jumlah mobil yang sekarang makin banyak.

“Pastinya mobil yang bikin macet,” kata pegawai swasta ini dan wirausaha ini.

Baik kendaraan roda empat maupun roda dua, lanjut Ismed, pajaknya selalu dibayar.

“Jangankan sengaja tidak membayar pajak, telat bayar pajak saja tak pernah,” pria yang beristrikan seorang PNS ini.

Kendaraan-kendaraan tersebut selalu dipakai Ismed bergantian dengan dua orang anaknya. Dia berharap, transportasi massal di Indonesia bisa dikembangkan agar tidak terjadi kemacetan.

Bahkan, dia bermimpi seluruh penduduk memilih kendaraan umum dibanding kendaraan pribadi. “Pakai kendaraan pribadi mampu-mampu saja. Tapi rasanya akan lebih enak pakai kendaraan umum, asalkan nyaman dan lancar,” katanya.

Jika seluruh masyarakat menggunakan kendaraan umum, dengan syarat nyaman dan aman, kata dia, kondisi lalu lintas akan lebih baik lagi. “Kalau semua pakai mobil pribadi dan motor, ya sekarang ini. Macet,” katanya seraya menyebut biaya pajak dan bahan bakar kendaraan saat ini tergolong murah.

Kawasan Cicadas pernah dianugerahi gelar kawasan terpadat bukan hanya di Bandung tetapi di tingkat dunia. Pemberian gelar seperti ini secara langsung menunjukkan wilayah dengan tingkat sanitasi terburuk hingga angka kriminalitas yang tinggi.

Namun, jika menilik perkembangan Bandung saat ini, semua wilayah kiranya hampir sama dengan Cicadas di masa lalu. Bahkan jika melihat fakta yang ada saat ini, wilayah lain ternyata memiliki tingkat kepadatan yang lebih parah dari Cicadas.

Parameter yang bisa digunakan untuk mengukur tingkat kepadatan ini secara visual adalah lebar jalanan atau gang di pemukiman. Jalan atau gang di pemukiman Cicadas, umumnya masih muat untuk dilintasi dua motor dengan arah berlawanan.
Di masanya, hal ini mungkin saja wajar mengingat Cicadas merupakan pusat keramaian dan pembangunan Kota Bandung. Banyak fasilitas umum yang pernah ada di tempat ini, mulai dari pasar, pertokoan, hiburan hingga terminal.

Panjang jalan yang ada di wilayah Kota Bandung adalah 1.103,710 km yang menurut statusnya dibagi menjadi jalan negara, jalan propinsi, dan jalan kota. Sedangkan bila menurut jenis jalan dibedakan ke dalam jalan arteri, jalan kolektor, dan jalan lokal.

Hasil survei Kementerian Perhubungan Indonesia menempatkan Bandung sebagai kota termacet ketujuh di Indonesia. Bandung memiliki tingkat kemacetan 14,3 km per jam dan Volume to Capacity (VC) ratio 0,85. Adapun posisi pertama kota termacet ditempati Bogor.

kemacetan di Kota Bandung karena memang tingkat populasi kendaraan di Bandung sangat tinggi. Dari data yang dimiliki Dishub, saat ini di Kota Bandung tercatat ada sebanyak 1,3 juta kendaraan.

“Dari angka itu, 65 persennya kendaraan roda dua dan 35 persen kendaraan roda empat ke atas,”

Tingginya jumlah kendaraan tidak sebanding dengan panjang jalan di Kota Bandung. Saat ini, panjang total jalan di Kota Bandung yaitu 1.236,28 km, yang terbagi berdasarkan tingkat pembinaannya menjadi jalan nasional (33,36 km), jalan provinsi (17,54 km) dan jalan kota (1.185,38 km).

“Jadi memang tidak seimbang lagi. Bisa dibayangkan bagaimana kondisinya. Apalagi pada hari libur, Sabtu dan Minggu, populasi kendaraan bisa bertambah pesat dengan masuknya kendaraan dari luar Kota Bandung,” terangnya.

Masalah kemacetan di Kota Bandung sendiri semakin menjadi sejak era dibukanya Tol Purbaleunyi di tahun 2005. Marak dan mudahnya pembelian kendaraan baru juga menjadi salah satu penyebab yang paling berpengaruh.

Namun Enjang menyebut Pemkot Bandung melalui Dishub bukan tanpa upaya. Lanjut dia, pihaknya tengah membuat dan merealisasikan program-program pengurangan kemacetan lalu lintas.

“Banyak upaya yang kita garap. Mulai dari TMB dengan rencana 13 koridor dan saat ini sudah ada 3 koridor yang berjalan. Kita juga garap pengadaan bus listrik, monorail sampai kepada re-routing dan re-pooling angkutan umum,” tuturnya.(agp)

 

Loading...

loading...

Feeds

SAPA Alfamart, Solusi Belanja Saat Pandemi

POJOKBANDUNG.com – Masa PSBB yang diberlakukan di beberapa kota/ kabupaten membuat toko ritel yang menyediakan kebutuhan sehari-hari terpaksa buka lebih …

Jonggol Jadi Jalur Pengiriman Motor Curian

POJOKBANDUNG.com, BOGOR – Wilayah Jonggol menjadi jalur pengiriman hasil pencurian kendaraan bermotor sindikat Cianjur yang diamankan Polres Bogor. Tak jarang, …

Pantau Pelayanan, Bupati Sidak RSUD

POJOKBANDUNG.com, SUBANG – Bupati Subang H. Ruhimat menggelar inspeksi mendadak (sidak) di rumah sakit umum daerah (RSUD). Hal ini dilakukan …