Alhamdulillah… Pasca Lebaran, Inflasi Jabar Tetap Terkendali

(ki-ka) Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan PUR Mikael Budisatrio, Kepala Perwakilan BI Jabar Rosmaya Hadi dan Deputi Kepala Perwakilan BI Jabar Soekowardojo saat sosialisasi pengendalian inflasi jelang Lebaran kemarin. (ramdhani)

(ki-ka) Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan PUR Mikael Budisatrio, Kepala Perwakilan BI Jabar Rosmaya Hadi dan Deputi Kepala Perwakilan BI Jabar Soekowardojo saat sosialisasi pengendalian inflasi jelang Lebaran kemarin. (ramdhani)


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG
–Pada Juli 2016, Jawa Barat tercatat mengalami inflasi sebesar 0,47% (mtm) atau 2,89% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,72% (mtm) atau 3,22% (yoy).


Menurut Deputi Kepala Perwakilan BI Jabar, Soekowardojo dalam siaran persnya, penurunan tekanan inflasi ini secara umum terjadi seiring dengan berlalunya masa Lebaran. Secara historis, realisasi inflasi pada bulan di mana terjadi Lebaran ini merupakan yang terendah sejak tahun 2011. Berdasarkan data tahun 2011-2015 (exclude 2013 ), rerata inflasi bulanan di bulan Ramadan adalah 0,62% sedangkan di bulan periode Lebaran adalah 0,80%.

“Berdasarkan disagregasinya, andil inflasi bulanan terbesar diberikan oleh kelompok administered prices yang mencapai 0,28% atau mengalami inflasi sebesar 1,42% (mtm). Selanjutnya diikuti oleh kelompok volatile foodyang memberikan andil sebesar 0,11% atau inflasi sebesar 0,57% (mtm) dan kelompok core yang memberikan andil sebesar 0,09% atau inflasi sebesar 0,14% (mtm),” ungkapnya.

Tekanan inflasi bulanan kelompok volatile food mengalami penurunan yang cukup dalam yakni dari 3,08% pada Juni menjadi 0,57% pada Juli. Hal ini terjadi seiring dengan berlalunya momentum Lebaran. Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar adalah dari bawang merah (0,07%), kentang (0,06%), beras (0.05%), daging ayam ras (0,04%), cabai rawit (0,02%), dan daging sapi (1,70%)serta komoditas yang berasal dari kelompok buah-buahan seperti apel, pir, dan pisang serta kelompok sayur-sayuran seperti petai dan kacang tanah.

Sebagai dampak La Nina, curah hujan pada musim kemarau kali ini cenderung di atas normal sehingga digolongkan menjadi kemarau basah. Sebagai akibatnya, sejumlah tanaman khususnya hortikultura seperti bawang merah dan cabai menjadi rentan busuk dan terkana penyakit.

Di tengah gejolak harga sejumlah komoditas utama, terdapat beberapa komoditas pangan utama lainnya yang mengalami penurunan harga antara lain tomat sayur, telur ayam ras, jengkol, ketimun, wortel, jagung manis, dan beberapa jenis komoditas sayuran lainnya. Penurunan harga komoditas telur ayam ras yang selama dua bulan sebelumnya mencatatkan inflasi tinggi salah satunya disebabkan oleh menurunnya permintaan masyarakat khususnya untuk pembuatan kue yang umumnya dilakukan sebelum Lebaran.

Soekowardojo menambahkan, seiring berlalunya momentum Lebaran, diperkirakan pola konsumsi masyarakat akan kembali pada pola normalnya. “Namun demikian, curah hujan yang diperkirakan masih akan cukup tinggi serta tengah berlangsungnya musim tanam untuk komoditas beras menjadi faktor yang perlu diwaspadai dari kelompok inflasi volatile food,” terangnya. (*/nto)

Loading...

loading...

Feeds

SAPA Alfamart, Solusi Belanja Saat Pandemi

POJOKBANDUNG.com – Masa PSBB yang diberlakukan di beberapa kota/ kabupaten membuat toko ritel yang menyediakan kebutuhan sehari-hari terpaksa buka lebih …

Pemkot Belum Bisa Akses TPS Legok Nangka

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Kota Bandung tengah menghadapi masalah dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Seperti diketahui TPS Sarimukti masih bisa menerima …

249 Tersangka Curanmor Diciduk Polres

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Jabar besama Polres maupun Polresta jajaran wilayah hukum Jabar berhasil meringkus …

Jonggol Jadi Jalur Pengiriman Motor Curian

POJOKBANDUNG.com, BOGOR – Wilayah Jonggol menjadi jalur pengiriman hasil pencurian kendaraan bermotor sindikat Cianjur yang diamankan Polres Bogor. Tak jarang, …