Warga Keluhkan Kerusakan Rumah Akibat Tertimpa Pohon Situs Budaya

ilustrasi

ilustrasi

 


POJOKBANDUNG.com, ARJASARI– Iin Quraesin (65) warga Kampung Batukarut RT 1 RW 7 Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung, mengeluhkan kerusakan rumahnya akibat pohon asem dari situs budaya rumah adat Bumi Alit Goong Renteng Embah Bandong. Ia dan warga lainnya tak berani memangkas dahan dan sulur pohon dari rumah adat tersebut, karena Undang-undang melarang siapapun juga yang melakukan perusakan terhadap benda dan kawasan situs budaya tersebut.

Iin Quraesin mengatakan, kerusakan bagian belakang rumahnya itu, telah terjadi sejak lima tahun lalu. Dimana bagian belakang rumahnya itu, selalu tertimpa batang pohon, dedaunan, dahan dan sulur-sulur tanaman liar dari rumah adat yang berada di samping kanan rumahnya. Tak hanya itu saja, lantai rumah pun kerap kali retak-retak, karena akar pohon asem yang menyembul keluar. Karena memang rumahnya itu tepat berdampingan dengan rumah adat tersebut, dan hanya terhalang sebuah benteng setinggi kulang lebih 2,5 meter saja.

“Karena dahan, ranting, dedaunan dan sulur tanaman liar terus berjatuhan ke atap rumah. Lama-lama atapnya lapuk karena lembab, sehingga bagian belakang rumah yang terdiri dari enam kamar kontrakan dan musola itu tidak bisa ditempati. Akhirnya atapnya ambruk,” ujar Iin, Jumat (22/7).

Keadaan ini, kata Iin terjadi sejak lima tahun lalu. Pohon asem yang rindang dan sulur tataman liar dari situs rumah adat itu, merambat ke rumahnya. Sebenarnya, kata dia, bukan tak ada keinginan untuk memangkasnya. Namun, memang itu tidak diperbolehkan oleh pengelola situs tersebut, karena memang dalam UU perlindungan cagar budaya pun melarang berbagai aktivitas yang dianggap bisa mengganggu atau merusak benda dan kawasan cagar budaya itu.

“Bukan tidak ada niat saya memangkas atau membersihkannya. Tapi karena dilarang. Bahkan saat saya akan memperbaiki rumah juga tidak diperbolehkan oleh orang Dinas Pariwisata, karena katanya mau diperbaiki oleh pemerintah tapi nyatanya sampai sekarang tidak ada,” tuturnya.

Iin melanjutkan, mengenai kerusakan rumahnya itu, sebenarnya ia sudah berkali-kali mengadukan masalahnya kepada pihak Desa Batukarut dan juga kepada pengelola situs budaya baik dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung maupun kepada Dinas Pariwisata Provinsi Jabar tersebut. Namun sayangnya, tak pernah ditanggapi.

“Saya sih enggak minta macam-macam, cuma minta ini dibeli saja tanah dan rumah ini oleh pemerintah. Kalau soal harganya yah sesuai harga pasaran saja lah. Karena kalaupun diperbaiki, nanti kembali rusak lagi,”ujarnya.

Iin melanjutkan, sebelum rusak parah, bagian belakang rumahnya itu adalah merupakan beberapa kamar kontrakan. Yang menjadi tumpuan penghasilan, untuk membiayai kehidupannya. Karena memang suaminya telah meninggal dunia lima tahun lalu. Namun karena rumah kontrakan seluas 8,5 tumbak itu kini telah hancur, ia kehilangan penghasilan utamanya. Dan sekarang hanya mengandalkan hasil berjualan opak, rengginang di warung yang ia buka dibagian depan rumahnya.

“Rumah kontrakan di belakang itu sumber penghasilan saya. Sekarang sudah rusak parah, dan saya cuma bisa menangis kalau melihat ke belakang itu. Apalagi dibelakang itu ada musola yang biasa dipakai solat berjamaah dan mengaji oleh saya dan para penghuni kontrakan,” katanya.

Anak bungsu Iin, Asep Dodi Supriyadi (34) menambahkan, suatu hari ia pernah mengutarkan keinginan ibunya, agar pemerintah membeli rumah dan tanahnya, pada salah seorang pengelola situs tersebut. Namun jawabannya kata dia, sangat tidak memuaskan.

“Mereka cuma bilang, kami ini uang dari mana untuk beli rumah. Jawabannya itu membuat saya kesal, toh kami juga tidak meminta pengelola membeli pakai uang pribadi dia, tapi maksudnya yah dibeli sama pemerintah. Kan situs budaya ini juga dibawah kewenangan dan tanggungjawab pemerintah,”ujarnya.

Sebenarnya, kata Asep, selain rumah miliknya, ada sekitar tujuh rumah lainnya yang bisa dikatakan berdampingan dengan kawasan situs budaya Embah Bandong ini. Namun memang yang mengalami kerusakan akibat pohon asem dari situs itu hanya rumah miliknya.

“Dibelakang rumah kami dan situs itu kan ada sungai, nah tebing situs itu juga sudah ambrol lagi sekitar 10 meter panjangnya. Bahkan, kamar mandi di dalam situs juga sudah rubuh tergerus air dari sungai. Kadang saya suka heran, katanya anggaran cukup besar untuk perbaikan situs tersebut, kok baru beberapa tahun saja, benteng tebingnya sudah ambrol lagi,”katanya.

Dikatakan Asep, mengenai permasalahan rumah ibunya yang sudah ambrol itu, sebenarnya ia sekeluarga tidak ingin memcari masalah. Namun, bagaimana caranya pemerintah memikirkan jalan keluarnya. Dengan catatan penyelesaian masalah itu, tidak merugikan pihak lain.

“Kami juga tidak ingin merugikan pihak lain, apalagi merugikan pemerintah. Begitu juga sebaliknya, pemerintah juga tolong hargai hak kami sebagai pemilik rumah dan lahannya yang telah rusak. Jadi sebaiknya silakan beli tanah dan rumah kami oleh pemerintah dengan harga wajar, untuk perluasan situs tersebut. Jangan seperti sekarang ini, sudah lima tahun rumah kami rusak tak ada kepastian apa-apa,”ujarnya. (Mld)

Loading...

loading...

Feeds

Gandeng LBH Gerakan Pemuda Anshor

POJOKBANDUNG.com, CIMANGGUNG – Untuk melindungi warga karang taruna dan masyarakat Cimanggung yang berurusan dengan masalah hukum, Forum Pengurus Karang Taruna …

SAPA Alfamart, Solusi Belanja Saat Pandemi

POJOKBANDUNG.com – Masa PSBB yang diberlakukan di beberapa kota/ kabupaten membuat toko ritel yang menyediakan kebutuhan sehari-hari terpaksa buka lebih …

Pemkot Belum Bisa Akses TPS Legok Nangka

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Kota Bandung tengah menghadapi masalah dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Seperti diketahui TPS Sarimukti masih bisa menerima …

249 Tersangka Curanmor Diciduk Polres

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Reskrimum) Polda Jabar besama Polres maupun Polresta jajaran wilayah hukum Jabar berhasil meringkus …