Arya Si Bocah Obesitas Ingin Sekolah

arya si bocah obesitas asal karawang

arya si bocah obesitas asal karawang

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Akibat keinginan yang kuat untuk sekolah, bocah obesitas ekstrim Arya Permana akhirnya diperbolehkan pulang pada akhir pekan kemarin. Kepala Bidang Kurikulum dan Kesiswaan Dinas Pendidikan Jawa Barat Esther Miory menuturkan kepulangan Arya merupakan kewenangan RS Hasan Sadikin.
Namun dirinya menyoroti keinginan Arya untuk pulang hanya ingin sekolah.
“Saya tidak menemukan alasan apapun, hanya ingin sekolah,” papar Esther saat ditemui di Gedung Sate, Senin (18/7).


Setelah kepulangan Arya, pihaknya akan berkoordinasi dengan Disdik Karawang untuk menindaklanjuti penanganan pendidikan Arya. “Pertama mengamankan psikologis orang tuanya, sebab mereka selalu gelisah kalau Arya meminta sesuatu. Kemudian, menguatkan guru pendamping,” paparnya.

Eshter menuturkan tidak ada penangan inklusif bagi Arya, sebab tidak ada masalah terkait psikologis Arya hanya berat badannya yang menjadi hambatannya. “Tidak ada (penanganan inklusif), cuma berat badan ia hanya bisa berjalan 50 meter,” pungkasnya.

Sementara itu, Tim Dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) yang menangani Arya Permana (10) tak melarang bocah berbobot nyaris 200 kilogram untuk menyantap makanan sajian ibunya. Justru makanan sajian ibunya yang disarankan dokter untuk disantap setiap hari asalkan tidak melebih batas kalori yang ditentukan.

“Secara umum semua makanan bisa dikonsumsi tapi yang penting komposisi seimbang jangan berlebih. Tapi perlu dihindari dihindari makanan instan dan perilaku makanan berlebih,” kata Ketua Tim Dokter Perawatan dan Pengobatan Arya Permana, dr Julistio T B Djais SP A(K). Mkes, kepada wartawan di RSHS, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Senin (18/7).

Terkait dengan apa saja yang bisa dikonsumsi sehingga totalnya mencapai 2.300 kalori, Julistio mengatakan, makanan itu terdiri dari nasi, lauk pauk, dan sayur dengan porsi yang seimbang. Namun ia menyarankan kepada orang tuanya untuk memperbanyak sayuran dan serat agar Arya tetap merasa kenyang. Santapan itu pun telah dinikmati Arya selama dirawat di RSHS.

“Makanya besok kami akan datang ke rumah untuk melihat kondisi langsung sumber makanan di rumah. Nanti ada ahli gizi yang akan mengajarkan, mulai dari menyajikan dan cara memasak agar kalori yang dibutuhkan Arya terpenuhi,” ujarnya.

Diakui Julistio, berat badan Arya memang mengalami penurunan selama mengikuti pola dan porsi makanan yang telah diatur tim dokter. Pada awalnya Arya masuk dengan bobot 189 kilogram dan pernah memiliki berat badan paling rendah 186,6 kilogram. Namun berat Arya menjadi 187 ketika pulang ke rumahnya.

“Soal berat badan itu bisa terjadi fluktuasi kalau ditimbang setiap hari. Mungkin karena habis makan habis atau belum buang air besar,” kata Julistio.

“Rencananya Arya akan dirawat dua minggu di RSHS. Namun baru 6 hari di sini (RSHS) Arya sudah sudah mengalami perkembangan yang signifikan,” kata Direktur Medik dan keperawatan RSHS, Nucki Nursjamsi Hidajat, di RSHS Jalan Pasteur Bandung, Senin(18/7).

Dikatakannya, pihak RSHS tak mempersoalkan bila kepulangan Aria terbilang cepat dari jadwal yang sudah ditentukan. Selama 6 hari perawatan, kata Nucki, pihaknya sudah melakukan beberapa pemeriksaan tambahan untuk mendapatkan penyebab penyakit sebelum Aria pulang
.
“Kami sudah mengambil sampel darah, hasilnya beberapa sudah ada,” katanya lagi.

Meski tak lagi dirawat di RSHS, kata Nucki, pihaknya tak akan luput memantau Arya. Tim dokter yang menangani Arya pun telah melakukan koordinasi dengan Dinkes Kabupaten Karawang untuk membantu mengawasi kondisi Arya.

Nucki menegaskan, pihaknya akan memonitor dan melakukan kunjungan terhadap Aria. Ia berharap apa yang telah diajarkan kepada Aria dan orang tuanya bisa diterapkan di rumah.

“Kami sudah mendengar hari ini Aria sudah sekolah dan bisa berjalan kaki yang jaraknya cukup jauh, dan itu membuat kami senang. Saat awal Arya datang ke RSHS berjalan 10 meter saja. Susah dan tidur juga sulit, tapi sekarang sudah berjalan dan berat badan juga turun,” pungkasnya.

Atas kepulangan Arya kembali ke rumahnya, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Alma Lucyati meminta orang tua bocah dengan obesitas ekstrim itu untuk terus mantau pola makannya.

“Harus dipantau pola makannya, jangan sampai keinginan untuk kembali makan besar muncul lagi,” ucap Alma saat ditemui di Gedung DPRD Jawa Barat, Senin (18/7).

Dia meminta agar peran orang tua dalam memberi makan harus sesuai arahan dari pihak rumah sakit. Itu demi menjaga kondisi tubuhnya agar tidak kembali ke kondisi awal.

Lanjut Alma, provinsi akan menugaskan Dinkes Karawang melalui puskesmas setempat untuk terus memantau aktivitas dan cara orangtua membimbing program pada Arya.

“Dipantau, ikuti saja programnya, dietnya kan makan nasi merah dengan takaran khusus juga buah-buahan seperti pepaya, melon. Agar berat badannya tidak ke kondisi awal,” ujarnya.(nda/cek/aku)

Loading...

loading...

Feeds