15 Pabrik Disidak Satgas PHLT, Ini Hasilnya …

Sidak pabrik di Banjaran.

Sidak pabrik di Banjaran.

POJOKBANDUNG.com, BANJARAN– Satgas Penegakan Hukum Lingkungan Terpadu (PHLT) melakukan pemeriksaan terhadap 15 pabrik di Kabupaten Bandung, Selasa (21/6). Sejumlah pabrik diduga tidak menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebagai mana mestinya.


Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, Anang Sudarna, mengatakan pemeriksaan IPAL yang dilakukan secara mendadak tersebut, dilakukan karena banyak industri yang diduga membuang limbah secara langsung ke Sungai Citarum.

“Dari penelusuran kami selama ini, diduga banyak industri yang melakukan pencemaran lingkungan dengan membuang limbah ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Kebanyakan, industri tekstil dan kertas. Makanya, kami sekarang melakukan pemeriksaan,” tutur Anamg ketika diwawancara disela pemeriksaan salah satu pabrik di Kecamatan Banjaran, Selasa (21/6).

Menurutnya, terdapat 15 pabrik di Kabupaten Bandung yang menjadi objek pemeriksaan Selasa (21/6). Petugas pemeriksa, dibagi dalam lima tim yang tersebar, aeperti di Kawasan Dayeuhkolot, Banjaran, Majalaya, Bojongsoang, Ciparay dan Katapang.

Saat melakukan inspeksi IPAL di salah satu pabrik Kecamatan Banjaran, Anang menemukan dugaan tidak digunakannya IPAL. Beberapa salura instalasi, seperti sengaja dirubah supaya air limbah bisa langsung masuk ke saluran pembuangan yang berakhit di Sungai Cisangkuy.

“Ini seperti ada saluran by pass yang masuk ke sungai,”ujarnya.

Di pabrik yang sama, Anang juga menemukan drum bekas oli yang ditumpuk di luar ruangan. Padahal, sesuai dengan aturan, oli merupakan kategori limbah B3 yang harus dikelola dengan baik.

“Baik B3 maupun kemasannya, harus disimpan di tempat tertutup yang berizin, tidak boleh ditaruh diluar seperti ini. Bisa kena pidana langsung,”ujarnya.

Kendati demikian, Anang mengatakan pihaknya tetap menggunakan azas praduga tidak bersalah. Pemeriksaan lanjutan dilakukan, contoh limbah juga diambil untik diperiksa baku mutunya di Laboratorium.

Anang melanjutkan, pemeriksaan IPAL akan terus dilakukan sepanjang tahun ini. Supaya, industri yang nakal bisa kapok, sanksi tegas juga akan diberlakukan jika terbukti melanggar peraturan.

Jika sanksi tegas tidak dilakukan, maka industri akan tetap nakal membuang limbah ke sungai tanpa melalui proses IPAL dan target Citarum Bestari 2018 tidak akan ter capai.

“Nantinya kalau diukur, kualitas air Sungai Citarum akan jadi kelas 2. Kondisi saat ini, masih kelas 4. Ada 3 penyebab penurunan kualitas sungai, yakni limbah pertanian berupa kotoran ternak dan penggunaan pupuk kimia berlebihan, limbah rumah tangga berupa sampah dan limbah cair, serta yang paling mematikan adalah limbah industri,” katanya.

Anang mengatakan di Kabupaten Bandung terdapat 280 industri besar dan menengah. Sejak beberapa bulan lalu, pihaknya berpatroli di Sungai Citarum dan anak-anak sungainya. Kemudian diketahui industri yang membuang limbah langsung tanpa diproses dalam IPAL merupakan industri yang dulu pernah diduga melakukan pelanggaran.

“Jadi industri yang melanggar, itu-itu juga. Sejak awal kami memberi pembinaan, peringatan, dan sanksi administrasi. Faktanya masih banyak bandel. Hasil pantauan kami di lapangan, 66 persen industri di Kabupaten Bandung tidak taat dalam pengelolaan limbah. Kota Bandung lebih parah, 75 persen industrinya tidak taat, termasuk industri otomotif dan bengkel besar,” katanya.

Sampai Desember 2015, katanya, sebanyak 154 industri telah ditindak dengan sanksi. Penindakan pada 2015 tersebut, katanya, meningkat 40 persen dari tahun sebelumnya. Pihaknya hanya bisa melakukan pembinaan. Namun, pemberian sanksi dikembalikan kepada pemerintah kabupaten atau kota. (mld)

Loading...

loading...

Feeds

Energi Postif Moonraker untuk Kemajuan Daerah

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Bukan lagi zamannya ugal-ugalan dijalanan. Apalagi melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Stigma negatif …