Sejumlah Sekolah Keluhkan Penjualan Buku Ramadhan

ilustrasi

ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, SOREANG–Sejumlah sekolah di Kabupaten Bandung mengeluhkan penjualan buku ramadhan. Diduga, pihak UPTD terlibat dalam penjualan buku tersebut.


Salah seorang kepala sekolah dasar di Majalaya yang tidak mau disebutkan namanya mengungkapkan, penjualan buku ramadhan memang sudah biasa dilakukan setiap tahun. Setiap jelang ramadhan, para sales buku kegiatan siswa saat ramadhan selalu mendatangi sekolah untuk menjual produknya.

“Harga satu bukunya Rp6.000, lumayan mahal kertasnya saja buram,” tutur dia, Minggu (5/6).

Walaupun harga yang ditawarkan cukup tinggi untuk ukuran buku ramadhan dengan kertas buram, namun pihak sekolah mengaku tidak bisa menolaknya, pasalnya pihak suplayer telah bekerjasama dengan oknum pegawai di UPTD Pendidikan.

“Sebenarnya buku ramadhan kurang begitu dibutuhkan, tapi Sudah dikoordinir oleh UPTD, jadi tidak bisa menolak,”ujarnya.

Hal serupa dikatakan oleh salah seorang Kasek di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Pasirjambu. Menurutnya, meskipun buku Ramadan itu ditawarkan langsung ke sekolah, namun tetap ada arahan dari UPTD setempat. Sehingga, pihak sekolah tidak berani untuk menolaknya.

“Yah mau menolak bagaimana, kalau sudah di drop dari UPTD. Tentu kami tidak bisa berbuat apa-apa, yah kami terima saja,”ujarnya.

Pembelian buku ramadhan, sebenarnya tidak secara langsung memberatkan siswa, karena menggunakan dana BOS. Namun, jika tidak digunakan membeli buku kegiatan ramadhan, sejatinya dana tersebut bisa digunakan untuk kebutuhan operasional sekolah yang lebih penting.

Aktivis pendidikan Kabupaten Bandung, Edi Gaswanto mengatakan, penjualan buku Ramadan seperti ini, bukanlah hal baru untuk setiap sekolah di daerah ini. Kata dia, praktik jual dedet buku Ramadan itu, memang diduga ada keterlibatan dari pihak UPTD disetiap kecamatan. Sehingga, para penjual buku Ramadan itu, bisa menjual dengan lancar. Bahkan, pihak UPTD pun diduga terlibat mendistribusikan buku tersebut ke setiap sekolah di wilayah kerjanya.

“Jual dedet buku Ramadan melalui UPTD itu, bukan barang baru. Tapi terus berulang setiap Ramadan tiba, dan diduga para pedagang buku itu memang bekerjasama dengan oknum UPTD sehingga, mereka bisa lancar. Bahkan, buku itu juga biasanya di drop ke UPTD oleh pedagang, lalu UPTD yang menyebarkannya,”kata Edi.

Edi melanjutkan, kejadian yang terus berulang ini tentu sangat memprihatinkan. Padahal, beberapa tahun sebelumnya pun kasus serupa dan juga keluhan serupa dari para Kasek seringkali muncul. Namun, sayangnya pihak Disdikbud pun seolah terus membiarkan praktik kotor tersebut.

“Aneh ini kan momen keagamaan, kok salalu saja diwarnai tindakan cari untung dari cara yang tidak benar. Bahkan saya dengar dan amati, para penjualnya ini ada diantaranya yang non Muslim. Ini yang harus dibereskan oleh Disdikbud, jangan tutup mata saja dong dengan ketidak beresan di bawah itu,”ujarnya. (mld)

Loading...

loading...

Feeds

DPRD Jabar Imbau Ponpes Taati Prokes

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Ketua Fraksi PKB DPRD Jabar M. Sidkon Djampi mengimbau para santri dan pengajarnya taati protokol kesehatan Covid-19. …

Kenaikan Sanksi Prokes Terbentur Pergub

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Penerapan kenaikan sanksi denda untuk pelanggaran protokol kesehatan (prokes) sulit dilakukan. Musababnya, realisasi sanksi tersebut harus melakukan …