Hilal Tidak Terlihat di Boscha Akibat Langit Mendung

POJOKBANDUNG.com, LEMBANG–Pengamatan penampakan hilal atau bulan sabit muda yang terbentuk setelah konjungsi (bulan diantara bumi dan matahari) sebagai penentu awal bulan Ramadhan 1357 H tidak dapat dilakukan akibat terkendala cuaca di Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (5/6/2016).


Kepala Observatorium Bosscha Mahesana Putra menuturkan, Kondisi tersebut sebenarnya sudah diprediksi sejak awal. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca di wilayah Lembang tidak mendukung dilakukan pengamatan, bahkan cenderung akan turun hujan.

Tidak hanya di Lembang, apabila berdasarkan di empat tempat pengamatan lainnya, hilal tidak terlihat di seperti, Makasar, Bangkalan, Wangiapu, dan Kupang. Artinya, besar kemungkinan awal bulan ramadhan atau awal puasa akan jatuh pada hari Senin (7/6/1016).

Observatorium Bosscha dalam pengamatan kali ini menggunakan tiga teropong atau teleskop, dia diantaranya akan dipasangkan kamera berjenis portable vision, sehingga data visual bisa diamati melalui perangkat konputer menggunakan perangkat lunak tambahan. “Pengamatan hilal dibantu dengan 3 alat teleskop William Optic Zenithstar berdiameter 66 mm,” jelasnya.

Dirinya menyatakan bahwa bulan sabit muda pertama ini akan sangat tipis dengan tingkat iluminasi 0,3 persen dan tingkat elongasi jarak matahari dengan bulan 6,6 derajat, sehingga membuat pemgamatan sangat sulit hanya mengandalkan mata telanjang.

“Karena kondisi sekrang sedang berawan, tidak memungkinkan melakukan pengamatan melihat hilal langsung dengan mata, karena itu dibantu demgan peralatan digital, dalam melihat hilal,” ujarnya.

Selain itu, pengamatan hilal yang dilakukan oleh sejunlah ilmuan tersebut pun hanya berlangsung selama 20 menit, yaitu pada pukul 17.44 WIB sore hari hingga 18.04 WIB WIB. “Solusi mnya apabila masih tidak terlihat disini kita tunggu yang dari kupang, karena biasanya disana cuacanya lebih bagus dan musah terlihat,” ungkap Mahesana.

Hilal adalah penampakan bulan sabit muda yang terlihat dari permukaan Bumi setelah konjungsi/ijtimak. Banyak kegiatan penting ke-Islam-an mengambil dasar posisi Bulan di langit, seperti Tahun Baru Hijriah, awal shaum Ramadhan, dan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Dengan demikian dipandang penting untuk menyebarluaskan informasi awal bulan baru yang ditandai oleh tampakan hilal.

“Informasi hilal astronomi yang disampaikan ini kiranya dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan yang diperlukan bagi pengambilan keputusan oleh Badan/Institusi yang berwenang secara kenegaraan. Hal ini sangat penting karena menyangkut hajat umat Islam baik secara nasional maupun regional,” ujarnya.

Adapun unsur-unsur keberhasilan pengamatan hilal adalah posisi bulan dan matahari. Semakin dekat posisi bulan dan matahari, lanjut dia, pengamatan akan semakin sulit karena sabit bulan semakin tipis semakin tipis dan terganggu silaunya cahaya matahari.

Cuaca juga menjadi faktor. Apabila terhalang awan, bulan tidak akan terlihat baik oleh pengamat yang melihat dengan mata telanjang mau pun teleskop. Selain itu, kontras cahaya bulan terhadap langit latar belakang juga mempengaruhi. Semakin sore, sambung dia, langit menjadi semakin merah.

“Apalagi semakin sore, bulan semakin mendekati cakrawala dan mengalami pemerahan. Karena kemiripan warna ini, kontras cahaya bulan semakin berkurang,” tuturnya.

Kementerian Agama Kab. Bandung Barat akan memantau hilal pada Minggu (5/6/2016). Pemantauan dilakukan di Observatorium Bosscha, untuk menetapkan 1 Syawal 1437 Hijirah.
“Insya Allah kita akan pantau. Kita sudah konfirmasi ke pihak Observatorium Bosscha untuk melakukan pantauan. Selain itu, kita juga akan berada di Observatorium Bosscha dari pagi hingga sebelum Isya,” kata Asep Ismail, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bandung Barat, Kemarin.

Ia mengatakan, jika berdasarkan perhitungan, pada pada malam Senin nanti hilal akan mencapai 3,93 derajat. Jika benar tinggi hilal itu sebesar itu, maka dipastikan telan memenuhi kriteria untuk menentukan hilal yang digunakan dalam metode wujudud oleh Muhammadiyah dan metode rukyatul hilal bil fi’li yang digunakan kalangan NU.

“Maka sebagai tradisinya diprediksikan pelaksanaan 1 Ramadan jatuh pada Senin 6 Juni mendatang,” pungkasnya.

Asep mengatakan, untuk melakukan pengamatan hilal dan rukyat, pihaknya melakukan pengamatan bersama pemerintah dan sejumlah ormas Islam. Kerja sama di antaranya dilakukan dengan Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Provinsi Jawa Barat, Pemprov Jabar, Nahdlatul Ulama (NU), Persis, dan Muhammadiyah. (bie)

Loading...

loading...

Feeds

Maksimalkan Potensi UMKM dengan Evermos

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Koperasi dan UMKM menjalin kerja sama dengan e-commerce untuk meningkatkan penjualan para …

Telkomsel Gelar Dunia Games League 2021

POJOKBANDUNG.com, JAKARTA – Telkomsel terus bergerak maju menegaskan komitmennya sebagai enabler dalam ekosistem esports Tanah Air melalui penyelenggaraan Dunia Games …