Real Madrid Vs Atletico: Si Kalem Lawan Si Temperamen

Diego Simeone- Zinedine Zidane

Diego Simeone- Zinedine Zidane

POJOKBANDUNG.com, MILAN –Pertarungan Real Madrid versus Atletico Madrid di partai puncak Liga Chmapions Minggu (29/5) dini hari WIB melibatkan dua nama entrenador satu generasi. Yakni Zinedine Zidane versus Diego Simeone. Usia keduanya hanya terpaut tiga tahun. Zidane 43 tahun sementara Simeone 46 tahun.


Sebagai pemain keduanya juga pernah bentrok di kompetisi domestik yang sama. Pertama di kompetisi Serie A. Zidane membela Juventus (1996-2001) sedang Simeone berkostum Inter Milan (1997-1999) dan Lazio (1999-2003).

Pertarungan keduanya berlanjut di La Liga. Zidane pernah membela Real dalam lima tahun (2001-2006). Lalu Simeone bersama Rojiblancos, julukan Atletico, musim 2003-2005.

Sebagai pemain keduanya juga punya style yang berbeda 180 derajat. Zidane dikenal dunia sebagai playmaker elegan. Kaki-kaki Zidane punya daya magis menghipnotis bek dan penonton. Dribbling dan olah bola bapak empat anak itu membuatnya diganjar pemain terbaik dunia tiga kali.

Sementara Simeone lebih diingat sebagai pemain bengal, tukang provokasi, dan sering diving. Dengan label yang demikian tersebut, pria asal Buenos Aires itu tak heran dikenal sebagai salah satu bad boy Serie A maupun La Liga. Namun kemudian karakter ini akhirnya yang menghadirkan nafas dalam permainan Atletico di kemudian hari.

Akan tetapi ketika pensiun dan meniti karir sebagai arsitek tim, Simeone memulai lebih dulu ketimbang Zidane. Di klub terakhirnya, Racing Club Argentina, bapak tiga anak itu memulai meretas karir kepelatihannya di usia 36 tahun.

Sid Lowe menulis di The Guardian Simeone adalah tipikal pelatih yang selalu menghadirkan spirit perjuangan dalam pasukannya. Sehingga setiap pemain merasa kalah menang bukan selalu hal utama. Justru kengototan selama di lapangan adalah punya peran krusial.

“Saya lebih menyenangi tim ini menyerang sekali dan menang 1-0. Ketimbang kami mengepung lawan dalam 15 menit dan melepas banyak tembakan namun tanpa kemenangan,” ucap Simeone.

Simeone juga membentuk timnya dengan segala teriakan dari pinggir lapangan. Pria yang memulai karir bermainnya bersama Velez Sarsfield itu tak ingin anak asuhnya kendor barang semenit pun di lapangan.

“Kerja keras adalah semuanya di lapangan. Pemain bintang tak akan mengangkat performa tim,” ujar Simeone. “Malah pemain dengan ambisi menang meningkatkan tim,” tambah Simeone.

Pemilik 105 caps buat Argentina itu dengan formasi 4-4-2 bisa memberikan tekanan bergelombang buat lawannya. Bertemu dengan tim-tim yang mengedepankan ball possession, Simeone meredamnya dengan pertahanan rapat. Ilmu grendel lini belakang yang didapatnya ketika berkompetisi di Italia selama enam tahun.

Dalam situs UEFA, Simeone mengatakan tak sabar melengkapi rekornya musim ini. Di perjalanan menuju final, Simeone dan Atletico mengkandaskan raksasa-raksasa di Eropa.

Loading...

loading...

Feeds