Tumbuhkan Lagi Jatidiri dan Kearifan Lokal

Salah seorang penggagas KNMS, Tatto Sutamto (kiri), bersama sesepuh Jabar seperti Prof. Suganda Priatna saat deklarasi pendirian KNMS, di Monumen Perjuangan, Bandung, Minggu (22/5).

Salah seorang penggagas KNMS, Tatto Sutamto (kiri), bersama sesepuh Jabar seperti Prof. Suganda Priatna saat deklarasi pendirian KNMS, di Monumen Perjuangan, Bandung, Minggu (22/5).

POJOKBANDUNG.com, SEJUMLAH masyarakat dan aktivis yang tergabung dalam Komunitas Nasional Masyarakat Sunda (KNMS) merasa prihatin dengan kondisi budaya dan lingkungan di Jawa Barat saat ini. Menurut mereka, budaya Sunda dan lingkungan di Jabar saat ini semakin rusak oleh gencarnya arus pembangunan yang semakin tak terkendali.


Salah seorang penggagas KNMS, Tatto Sutamto, mengatakan, saat ini budaya Sunda semakin tersisihkan oleh budaya asing yang mudah masuk dan merasuki masyarakat Jabar. Budaya Sunda tersingkirkan sehingga tidak melekat lagi dalam keseharian masyarakat.

“Keluarga Sunda tapi di rumahnya tidak menggunakan bahasa Sunda. Malah menggunakan bahasa melayu yang acak-acakan,” kata Tatto dalam deklarasi pendirian KNMS, di Monumen Perjuangan, Bandung, Minggu (22/5).

Dalam deklarasi itu, hadir sejumlah tokoh dan sesepuh Jabar seperti Prof. Suganda Priatna dan anggota DPD RI asal Jabar, Eni Sumarni. Tatto menjelaskan, kondisi ini menjadikan anak-anak sebagai generasi penerus tidak memahami kearifan lokal Sunda yang memiliki nilai tinggi dan harus dipertahankan.

“Bagaimana bisa memahami kearifan lokal Sunda kalau tidak hafal bahasanya,” katanya. Selain tidak hafal bahasa, anak-anak kecil saat ini pun banyak yang tidak mengenal permainan tradisional khas Sunda.

Padahal, keberadaan permainan itu sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang anak. Hal ini tidak terlepas dari salahnya metode pendidikan yang diterapkan ke generasi penerus ini.

Saat ini, kata dia, anak-anak dijejali oleh pendidikan formal yang seharusnya jangan dulu diberikan. “Anak kecil terlalu banyak diberi buku. Di Australia cukup calistung (baca, tulis, berhitung), bergambar, nyanyi, dan bermain. Diarahkan dulu ke permainan local wisdom. Itu bagus,” ujarnya.

Dia pun menyebut, Jepang menerapkan pendidikan kultural bagi anak-anak didik di Negeri Sakura itu. “Di Jepang, salah satu faktor kemajuan, anak-anaknya dibelajarkan pupuh,” katanya.

Selain faktor budaya, pihaknya pun menyoroti kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini. Gencarnya pembangunan banyak menghilangkan kawasan hijau yang seharusnya dijaga karena merupakan kondisi alam yang sesungguhnya. “Penguasaan lahan terus terjadi di mana-mana. Kita sudah terdesak. Sebentar lagi hilang pesawahan dan hutan,” ucapnya.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak masyarakat dan komunitas kebangsaan lainnya untuk berperan dalam mencegah semakin rusaknya budaya dan lingkungan Tanah Air. “Mari kita bersama-sama mengembalikan kearifan lokal. Mari kita jaga keutuhan lingkungan yang sudah semakin rusak ini,” pungkasnya.

Anggota DPD RI asal Jabar, Eni Sumarni, mengatakan, masyarakat Sundah khususnya harus bangkit menghadapi kondisi yang ada saat ini. Masyarakat Sunda, kata Eni, hari memiliki jatidiri kesundaan dalam berkontribusi membangun bangsa dan negara.

Pembangunan di Jabar, kata Eni, harus memperhatikan kondisi lingkungan sehingga tidak terjadi kerusakan alam. Meski begitu, potensi dan kekayaan alam yang ada harus dimaksimalkan demi kesejahteraan masyarakat.

Eni menyayangkan banyaknya produk pertanian impor yang dikonsumsi warga Jabar saat ini. Padahal, sebagai daerah yang terkenal subur, Indonesia dan Jabar khususnya memiliki kemampuan yang baik untuk menghasilkan produk-produk pertanian itu. “Supermarket banyak barang impor. Kita sedih. Padahal potensi kita luar biasa,” katanya.

Dengan jumlah penduduk yang mencapai 46 juta jiwa, seharusnya Jabar memiliki banyak keunggulan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. “SDM Jabar 46 juta ini harus jadi bonus demografi. Banyak pemikir, banyak anak-anak bangsa yang berpotensi,” katanya.

Oleh karena itu, dia berharap adanya pembinaan yang lebih baik terhadap generasi muda. “Pembinaan harus dilakukan lebih baik. Masa kalah oleh negara yang mataharinya beberapa jam,” pungkasnya. (agp)

Loading...

loading...

Feeds

Tersangka, Rizieq Syihab Terancam 6 Tahun

Polda Metro Jaya akhirnya resmi melayangkan surat panggilan kepada Rizieq Syihab. Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) itu dipanggil terkait kerumunan saat …

Rizieq Syihab Terancam Pidana

Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab telah meninggalkan Rumah Sakit (RS) Ummi di Kota Bogor, Sabtu (28/11).