Duo Atlet Tenis Meja NPCI Jabar Siap Sumbang 2 Medali Emas

Yanto (kiri) dan Fitri (kanan) foto bersama usai menjalani latihan di sekretariat NPCI Jabar. (asep rahmat)

Yanto (kiri) dan Fitri (kanan) foto bersama usai menjalani latihan di sekretariat NPCI Jabar. (asep rahmat)

 


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Musibah memang bisa menimpa siapa saja sama halnya yang dialami kedua atlet tenis meja Peparnas XV/ 2016 Jabar yakni Yanto Subianto (28) yang mengalami tunanetnta sejak kelas 3 SD akibat jatuh saat bermain bola dan juga Fitri Atun Badrul (18) sejak kelas 4 SD tidak bisa melihat karena pemakain obat tetes mata yang terlalu berlebihan.

Asep Rahmat / Radar Bandung.

Yanto kecil adalah anak yang rajin berolahraga, diantara teman sebanya setiap kali ada pertandingan dirinya selalu menjadi tim inti, tapi naas pada 1997 dalam usia untuk menikmati masa anak-anak dirinya harus mengalami hal tragis, saat bermain bola dia terjatuh dan entah kenapa bisa mengakibatkan kebutaan.

“Saat jatuh tiba-tiba tidak bisa melihat, saya rasa waktu itu adalah hal yang biasa saja dan tidak berfikir lain,” ujarnya kepada radar bandung saat ditemui usai latihan di GOR Padjajaran, (16/5).

Sejak kejadian itu dia dibawa oleh kedua orangtuanya untuk berobat kesana-kemari demi menyembuhkan matanya agar bisa melihat kembali. Namun, meski segala jenis pengobatan dia lakukan tetap takdir tidak bisa dilawan sampai sampai itu ia harus dirujuk ke RS Cicendo Bandung dan di vonis mengalami kebutaan secara permanen.

“Kaget pasti, tapi saat itu masih anak-anak jadi tidak terlalu berat pada mental saya pribadi,” ujarnya.

Memang kala itu dia masih anak-anak dan tidak ada beban mental sama sekali, wajah cerianya tetap ia tunjukan bahkan ketika saat diwawancara oleh radar bandung ia tetap tertawa bahkan tidak menunjukan ada kekurangan sama sekali.

“Intinya jangan menyerah pada lingkungan dan tidak perlu mengeluh pada kesulitan,” ucapnya sambil tersenyum.

Usai di vonis tidak bisa melihat secara permanen, Yanto langsung melanjutkan sekolah brayle selama tiga tahun di Kota Bandung dan menetap hingga sekarang.

“Pastinya meninggalkan teman-teman saya di Bekasi, teman tim sepak bola dulu,” terangnya.

Meski sekarang Yanto tidak bisa melihat indahnya dunia, tapi dirinya merasakan ada dunia lain yang tidak bisa dilihat orang sewajarnya. Dia memiliki kemampuan pendengaran dan perasaan melebihi atlet lain.

“Mungkin biasa ya menurut saya karena sudah lama saya tidak bisa melihat jadi perasaan dan pendengaran saya lebih tajam (mungkin),” tuturnya.

Pada 2006 dia menemukan hobi barunya selain main hola yakni tenis meja dan mulai menekuni olahraga tersebut. Hingga nasib berpihak pada anak dari pasangan Ida Farida dan Sumantri tersebut. Kini dia bisa lolos seleksi dan dinobatkan sebagai atlet tenis meja NPCI Jabar yang siap menyabet 1 medali emas saat Peparnas/ XV 2016.

“Meski ini pertama kali saya mengikuti kejuaraan tapi mudah-mudahan ini bisa jadi awal prestasi pertama saya juga,” imbuhnya.

Lain halnya dengan Yanto, Fitri Atun Badrul (18) yang juga atlet tenis meja NPCI Jabar. Saat menginjak usia 9 tahun dia harus menjadi tunanetra karena pemakaian obat tetes mata yang berlebihan.

Fitri bercerita, matanya memang sensitif terhadap sinar matahari dan sering mengalami iritasi karena dia merasa terganggu kemudian dia sengaja memeriksakan diri ke RS di daerah Indramayu dan diberi obat tetes mata. Namun, akibat obat tersebut dia harus kehilangan penglihatannya karena digunakan secara over dosis dan berkala.

“Obat itu saya pakai selama 2 tahun setiadimasukan pada eli lagi secara berturut-turut,” imbuhnya.

Reaksinya memang tidak langsung tapi lambat lamun asalnya bisa melihat tiba-tiba ngeblur dan kurang lebih selama sebulan menjadi gelap.
Sejak saat itu dia keluar dari sekolah dan berhenti kemudiam diam diri saja di rumah selama 6 tahun lamanya, tapi orang tuanya melihat ada kemauan dan kemampuan di dalam siri Fitri untuk olahraga tenis meja, samlai saatnya pada 2011 Fitri dimasukan ke solah SLB di Kota Bandung.

Tapi nasib baik juga dialami oleh Fitri, dengan semangatnya pada 2013 dia mengikuti olahraga tenis meja dan masuk di Kejuaraan Popanas (Pekan pelajar nasional tenis meja) di DKI Jakarta dan mendapat 1 medali emas, kemudian 2014 kejuaraan Pepaperda di Kota Bekasi dia berhasil menyabet 3 medali perak di nomor ganda putri dan 1 emas, lalu 2013 dia mengikuti kejuaraan Pekan olahraga Tunanetra Indonesia (Porti) Kota Bandung dan 2015 di solo Kejurnas.

“Saya optimis saat Peparnas/ XV nanti bisa berprestasi dan bisa meraih 1 medali emas,” tuturnya.

Saat ini baik Yanto maupun Fitri adalah dua atlet yang akan mewakili Jabar untuk turun si Cabor tenis meja dan siap membawa 2 medali emas. tandasnya.(cr3)

Loading...

loading...

Feeds

Indikator Menuju Desa Maju

MAJU desanya, makmur dan sejahtera warganya. Mungkin ini adalah dambaan setiap orang, untuk menciptakan lingkungan yang nyaman. Inilah yang disebut …

Sosok Habib Rizieq di Mata UAS

POJOKBANDUNG.com – Ustadz Abdull Somad (UAS) memberikan pandangannya terhadap sosok Habib Rizieq Shihab. Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu …