Proyek Danau Retensi, Tim BPN Ukur Tanah di Kampung Cieunteung

Banjir setiap tahun melanda Kampung Cieunteung.

Banjir setiap tahun melanda Kampung Cieunteung.

POJOKBANDUNG.com, BALEENDAH–Tim Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bandung telah melakukan pengukuran tanah di Kampung Cieunteung.


Sebagaimana diketahui, di Kampung Cieunteung akan dibangun danau retensi, sebagai pengendali banjir. Tanah yang akan dijadikan danau pengendali banjir, merupakan milik warga yang akan dibebaskan.

Pengukuran dilakukan sebagai salah satu tahapan untuk pembebasan lahan. Dimana, sebelum harga ditentukan, pemerintah terlebih dahulu melakukan pengukuran lahan dan bangunan.

Pembantu Pengukuran pada BPN Kabupaten Bandung, Ade, mengatakan, pengukuran lahan untuk pembangunan danau retensi di Kampung Cieunteung, telah dilakukan sejak Senin (25/4) lalu, dimulai dari RW 25 Kampung Cieunteung.

Selama tiga hari terakhir, beberapa RT telah diukur seperti RT 1, 2, dan 3. Kamis (28/4), pengukuran tanah akan dilakukan kembali di RT 2, 3, dan 4.

“Setelah diukur, masyarakat pemilik lahan menandatangani berita acara,” tutur Ade, Rabu (26/4).

Dalam pengukuran, tim BPN Kabupaten Bandung menemui beberapa kendala, diantaranya adalah sebagian lahan yang akan diukur masih tergenang banjir.

Akhirnya, tim yang semula akan melakukan pengukuran di daerah tertentu yang diketahui tergenang banjir, terpaksa mengukur di lokasi lain.

“Selain banjir, kendala yang dihadapi adalah lumpur,” ucapnya.

Dalam pelaksanaan tugasnya di RT 3, tim pengukur tanah berhadapan dengan lumpur dan genangan banjir. Sebagian besar rumah di kawasan ini terendam lumpur, bahkan lumpurnya sudah mengeras seperti tanah. Banyak lantai dasar rumah yang sudah tertimbun lumpur setinggi 1 sampai 2 meter dan akibatnya tidak bisa dipakai lagi.

Di beberapa titik rumah yang sudah tertimbun lumpur, tim ini mengukur tanahnya dari atap rumah. Pengukuran disaksikan pemilik tanah dan ketua RT setempat. Walaupun menghadapi berbagai kendala, Ade berharap pengukuran tanah ini segera tuntas, sesuai keinginan warga dan pemerintah.

Warga di RT 3 Kampung Cieunteung, Raden Aang Nugraha (47), mengatakan berdasarkan akta jual beli, tanahnya memiliki luas 83 meter persegi. Namun, tanah yang di atasnya didirikan rumahnya ini kembali diukur BPN, kemudian ditandai dengan patok kayu dan batang pohon singkong.

“Ini mungkin yang ketiga kalinya tanah diukur oleh BPN, sejak 2015. Mungkin sekarang hanya pengecekan ulang. Semoga saja nanti pembebasannya sesuai dengan akta tanah yang saya miliki,” katanya.

Aang berharap pemerintah segera membebaskan lahan dan bangunan miliknya, sehingga dia dan keluarganya bisa memiliki rumah baru di lokasi yang lebih baik dan bebas banjir. Aang mengatakan tidak bisa tinggal di rumahnya lagi karena telah terkubur lumpur setinggi dua meter. Akhirnya, dia bertahan di kolong atap rumahnya. (Mld)

Loading...

loading...

Feeds