Jijik…Gunungan Sampah di Pasar Ciwidey Membusuk dan Keluarkan Belatung

Gunung sampah

Gunung sampah

POJOKBANDUNG.com, CIWIDEY– Akibat tidak diangkut, sampah di Pasar Ciwidey Kabupaten Bandung kian menggunung. Pengelola diminta untuk kembali melakukan pengangkutan.


Gunungan sampah terlihat di tempat pembuangan sementara (TPS) yang berada di belakang pasar Ciwidey. Hal tersebut dikarenakan, TPS sudah tidak kuat menampung banyaknya sampah yang dihasilkan oleh pasar.

Salah seorang pedagang pasar Ciwidey, mengatakan, sudah dua bulan ini sampah di pasar Ciwidey tidak diangkut, sehingga semakin menggunung. Bahkan sudah menumpuk di jalan dan mengakibatkan kendaraan sulit untuk melalui jalan di belakang pasar.

“Kalau hujan baunya menjadi menyengat,” tuturnya, Senin (25/4).

Bahkan, sampah organik yang sudah lama membusuk kerap kali mengeluarkan belatung. Lalat dan tikus juga menjadi pemandangan yang setiap saat terlihat.

Sebagian pedagang yang kiosnya di sekitar tumpukan sampah tersebut memilih tidak berjualan. Selain karena jalan tidak bisa dilalui kendaraan, katanya, sebagian pedagangnya pun merasa sangat tidak nyaman berjualan di kawasan yang berbau menyengat.

Menurut Atih (50) pedagang lainnya, sudah beberapa hari terakhir pedagang tidak lagi dipungut iuran sampah. Padahal, biasanya pedagang diharuskan membayar uang kebersihan Rp1000 setiap hari.

“Inginnya segera diangkut, karena pembeli juga menjadi berkurang, mungkin karena jijik,”katanya.

Atih juga mengaku rela jika uang kebersihan naik, asalkan jalan diperbaiki dan sampah diangkut secara rutin.

Dihubungi melalui telepon selulernya, Direktur Operasional PT Primatama Cipta Sarana, Budi, mengatakan, selaku pengelola pasar pihaknya telah empat kali melakukan operasi bersih dengan biaya pribadi.

Dikatakannya, menumpuknya sampah di pasar dikarenakan kuota yang diberikan oleh pemerintah hanya 10 truk tiap bulannya. Sementara, produksi sampah pasar Ciwidey mencapai dua truk per hari.

Akibatnya, sampah menjadi terus menumpuk karena tidak terangkut oleh truk dari pemerintah Kabupaten Bandung.

“Kami sampai mengeluarkan biaya pribadi untuk melakukan operasi bersih. Setiap kali operasi bersih menghabiskan dana Rp7juta,”tutur budi.

Menurutnya, walaupun tiap hari pedagang dipungut iuran kebersihan Rp1000, namun tidak semua pedagang rutin membayar.

Seharusnya, dengan terdapat 2.000 kios, uang kebersihan bisa terkumpul Rp2 juta tiap harinya. Namun, karena banyak pedagang yang tidak membayar rutin, pengelola hanya mendapat Rp150 ribu setiap hari dari iuran kebersihan.

Sedangkan biaya untuk pengangkutan sampah, katanya, Rp 250 ribu per truk. belum lagi, biaya pekerja dan pengangkutannya. Untungnya, kata Budi, pembicaraan telah dilakukan secara baik dengan Pemerintah Kabupaten Bandung. Selain permasalahan sampah, selanjutnya masalah jalan dan lainnya segera diatasi.

Langkah selanjutnya, kata Budi, pihaknya bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bandung dan lima kepala desa di sekitar pasar, untuk membangun tempat pengolahan sampah. Sampah organik diolah jadi pupuk, sedangkan sampah nonorganik dipilah. TPS pun akan didirikan di luar lokasi pasar. (mld)

Loading...

loading...

Feeds