Mantan Tukang Pijat Tunanetra yang Menjadi Pecatur Dunia

Edi Suryanto (56), sedang meraba-raba bidak catur khusus tunanetra menggunakan kedua tangannya sebagai pengganti indra penglihatan. (asep rahmat)

Edi Suryanto (56), sedang meraba-raba bidak catur khusus tunanetra menggunakan kedua tangannya sebagai pengganti indra penglihatan. (asep rahmat)

 
POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Tuhan memang adil, dia telah merenggut penglihatan seorang hambanya. Namun, Tuhan juga telah memberi kelebihan berupa kekuatan ingatan yang menakjubkan sebagai penggantinya. Edi Suryanto (56), salah seorang atlet Pelatda-Peparnas/ XV, juga mantan tukang pijat tunanetra yang sudah berkeliling dunia dengan keahliannya bermain catur.


Sekilas bila melihat dirinya tidak ada yang anah mulai dari cara berjalan dan bicara layaknya orang normal, gelagat setiap gerakannya tidak menjunukan bahwa dia berbeda namun bila diperhatikan secara seksama, Edi ternyata seorang tunanetra B1 (tidak melihat sama-sekali). Sejak usianya menginjak 6 tahun, dia mengalami sakit panas hebat entah apa penyebabnya sampai kerusakan pada kedua bola matanya tidak dapat disembuhkan. Berkali-kali dia berobat namun tidak kunjung sembuh akhirnya Edi pasrah dan menerima kenyataan.

Pria kelahiran 1950 tersebut akhirnya hidup dalam kegelapan hingar-bingar dunia, Edi kala itu tidak tahu apa yang harus dia perbuat tapi dengan tegar dan sabar dia mulai menjalani kehidupan seperti orang normal sebanyanya. Seperti, bermain, sekolah dan kegiatan sosial lainnya.

Hingga pada 1976 ia masuk Persatuan Tunentra Indonesia (Pertuni) namun tidak lama ia keluar, karena tidak ada permainan catur yang dimana permainan itu kelak akan menjadi profesi ayah dua anak tersebut. Tahun berikutnya 1979 Edi mengikuti satu organisasi yang disebut Yayasan Pendidikan Olahraga Cacad (YPOC), saat itu Edi mulai menggeluti olahraga catur khusus tunanetra dan pergi bertanding ke Negara Belgia, alhasil dia masuk peringkat 10 besar atlet dunia. Edi mulai tertarik dengan olahraga strategi otak tersebut, berbagai pertandingan skala lokal seperti Kejurda dan kejurnas dia ikuti hasilnya dia sang juara, even atau kejuaraan kecil-pun dia jabani seperti piala Bupati atau Gubernur hasilnya tetap sama dia nomor satu

“Banyak pertandingan yang sudah saya ikuti. Seperti, piala Dinsos, Gubernur, bupati, wali kota bahkan pihak swasta sering mengundang saya untuk mengikuti pertandingan yang diadakannya,” ceritanya.

Dari sekian kejuaraan yang di ikuti dan prestasi yang Edi raih ada yang menarik, sejak 1976 saat pertama dia mengikuti sebuah organisasi khusus tunanetra hingga 2004 akhir, Edi yang bisa disebut atlet catur tunanetra ternyata berprofesi sebagai tukang pijat. Alasanya spele hasil memijat hanya untuk mencari penghasilan untuk makan.

” Jujur saat itu setiap mengikuti kejuaraan dan menjadi juara saya tidak pernah memegang hadiah berupa uang, hanya piala saja. Saya tidak tahu uang entah kemana,” ucapnya disusul dengan senyuman.

Meski demikian dia tidak mau meninggalkan keduanya, antara memijat untuk kehidupan sehari-hari dan bermain catur sekedar memenuhi hobi. Karena Edi tidak mau meninggalkan keduanya, banyak kecemburuan diantara teman tunanetra yang berprofesi sebagai tukang pijat lainnya, karena dia sering pulang larut malam demi bermain catur.

2005 merupakan tahun dimana masa-masa kesulitan dalam perjalanan hidup Edi. Panti pijat yang selama ini menjadi tempat dia berlindung dan mencari nafkah secara terang-terangan mengusirnya karena tidak menuruti aturan asrama. Edi yang membandel, tidak mau bekerja (mijit) lebih memilih main catur dan selalu pulang malam menjadi alasan kenapa sampai di keluarkan. Tapi bukan Edi sang penakluk pelanggan namanya bila harus menyerah, dia masih tetap bisa bekerja dan makan hasil dari memijat pelanggan langganannya.

“Walau dikeluarkan dari panti pijat saya datangi pelanggan tetap saya, kan ada banyak jadi tetap bisa cari uang,” senyumnya.

2005 menjelang 2006, ia mulai meninggalkan dunia pijit secara perlahan dunia pijat memijat, Edi yang sebelumnya tergabung dalam Badan pembinaan olahraga cacad (BPOC) yang kini berganti nama menjadi Nasional Paralypic Indonesia (NPCI), mulai serius menggeluti kejuaraan catur khusus untuk tunanetra.

Perjuangannya tidak sia-sia berbagai kejuaraan antar negara dia lalui seperti Asean para games 2005 di Filipina menjadi juara pertama tingkat asean, 2007 kejuaraan catur di Myanmar, 2009 di Malaysia mendapatkan satu emas, 2011 di Indonesia dapat satu emas beregu dan perorangan kemudian 2013 di Singapura juara satu.

“Kenapa saya bisa keliling dunia, Alhamdulilah yang saya pahami adalah mungkin Tuhan mengambil mata saya tapi ingatan saya lebih tajam dari sebelumnya karena saya bisa mengingat setiap langkah bidak catur saat bermain, alhasil saya bersyukur selalu juara dan selalu bisa mengikuti berbagai pertandingan disetiap negara,” tegasnya.

Berkat keyakinan dan keuletannya ditambah sifat keras kepala terhadap sesuatu yang ia yakini untuk dicapai akhirnya Edi dipercaya oleh Ketua Umum NPCI Jabar, Ukun Rukaendi, untuk membela Jabar dan siap bertanding dalam perhelatan pesta olahraga akbar Peparnas/ XV 2016 Jabar.

“Saya sudah ditampung oleh NPCI Jabar sebaik-baiknya mulai dari fasilitas perhatian dan apapun. Insyaallah saatnya nanti saya akan sumbangkan medali emas,” pungkasnya.(cr3/asep rahmat)

Loading...

loading...

Feeds

Indikator Menuju Desa Maju

MAJU desanya, makmur dan sejahtera warganya. Mungkin ini adalah dambaan setiap orang, untuk menciptakan lingkungan yang nyaman. Inilah yang disebut …

Sosok Habib Rizieq di Mata UAS

POJOKBANDUNG.com – Ustadz Abdull Somad (UAS) memberikan pandangannya terhadap sosok Habib Rizieq Shihab. Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu …