Atasi Banjir di 3 Wilayah, Ini yang Dilakukan BBWS

Banjir di Dayeuh Kolot kembali naik (Khairizal Maris)

Banjir di Dayeuh Kolot kembali naik (Khairizal Maris)

POJOKBANDUNG.com, SOREANG–Kabupaten Bandung merupakan daerah yang rawan terhadap banjir cileuncang. Buruknya sistem drainase yang mengakibatkab banyaknya ruas jalan terendam air saat hujan turun.

Kasi Pelaksana Jaringan Drainase pada Dinas Sumber Daya Air Pertambangan dan Energi (SDAPE) Asep Rusmawan menuturkan, beberapa ruas jalan yang memang sudah menjadi langganan banjir di antaranya di daerah Rancaekek, Majalaya dan Warung Lobak di Soreang.

Menurutnya, penyelesaian banjir di jalan raya tengah dilakukan, salah satunya adalah berkoordinasi dengan pihak BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai).

“Untuk penyelesaian banjir di Rancaekek, BBWS sedang melakukan pelebaran sungai,” tutur Asep, Minggu (17/4).

Penyebab banjir cileuncang di Rancaekek karena adanya penyempitan dan sendimentasi di sungai Cimande.

Saat ini, rata-rata lebar Sungai Cimande sekitar 5 meter. Upaya pelebaran nanti akan membuat Sungai Cimande memiliki lebar hingga 20 meter. Tak hanya Cimande, normalisasi sungai juga akan dilakukan di aliran Sungai Cikeruh dan Cikijing.

Upaya normalisasi ini, kata Asep, membutuhkan beberapa proses. Mulai dari pembebasan lahan hingga ke tahap akhir berupa pengerjaan pelebaran.

Lamanya proses pembebasan lahan ini, lanjut Asep, karena kemungkinan terkendala persoalan harga antara pemerintah dan warga. Ia mengklaim pemerintah sebetulnya sudah siap, tapi terbentur persoalan mekanisme antara pemerintah dengan pemilik dan warga.

“Bisa jadi kendalanya itu di harga. Lalu juga mungkin saja karena kelengkapan data pemiliknya belum lengkap,” tutur dia.

Kata Asep, pembebasan lahan oleh BBWS itu ditargetkan rampung pada tahun ini. Jika target itu terpenuhi, maka eksekusi pelebaran sungai baru bisa dimulai pada 2017.

“Kalau sungainya tidak diintervensi, kejadian banjir di sana akan terus ada,” ujarnya.

Penanganan banjir bandang di sebagian ruas jalan ini, juga harus didukung masyarakat. Mereka cukup tidak membuang sampah sembarangan, kata Asep, itu sudah sangat membantu. Sebab, sering kali banjir bandang di ruas jalan itu terjadi karena menumpuknya sampah di dalam drainase.

Untuk banjir yang kerap melanda ruas jalan Majalaya, Asep mengatakan, dasar persoalannya tidak jauh berbeda dengan yang di Rancaekek. Menurut dia, drainase di pinggir jalan raya di Majalaya itu juga banyak terjadi sedimentasi.

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan SKPD terkait yakni Dinas Bina marga. Jika memang itu kewenangan provinsi, pihaknya dari Dinas SDAPE akan berkoordinasi dengan provinsi lalu mengusulkan untuk melakukan penanganan berupa pengerukan.

“Karena di situ (Majalaya) banyak irigasi yang kewenangannya di provinsi. Kita juga menyampaikan apakah ini ditangani provinsi atau kita. Kita juga sudah komunikasi dengan Bina Marga,” kata dia.

Pihak Dinas SDAPE, ujar Asep, sudah memiliki perencanaan yang siap diajukan ke provinsi. Perencanaan tersebut terkait penanganan dan pemeliharaan drainase di Kabupaten Bandung.

“Perencanaan dari kita sudah selesai, tapi kalau MoU secara tertulis (dengan provinsi) belum,” jelasnya.

Selain itu, untuk banjir yang melanda daerah Warung Lobak di Soreang, menurut Asep, itu karena ada sedimentasi dan sampah di saluran drainasenya.

“Padahal kita juga sudah lakukan pemeliharaan sungai Cibeureum untuk mengatasi banjir di Soreang itu,” tutur dia.

Asep mengakui masih banyak jalan raya di Kabupaten Bandung yang belum memiliki drainase. Seperti di Majalaya yang sebagian ruas hanya dibangun badan jalan. (Mld)

loading...

Feeds