Partisipasi SMA di Kab Bandung Ikut UNBK Sangat Rendah

Peninjauan UNBK di Kab Bandung.

Peninjauan UNBK di Kab Bandung.

POJOKBANDUNG.com, BALEENDAH– Partisipasi Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Kabupaten Bandung sangat rendah. Dari 109 sekolah hanya 10 Sekolah yang menggelar UNBK dan hanya satu SMA saja yang tahun ini bisa menggelar ujian secara online, itupun bukan berasal dari sekolah negeri.


“Disdik punya SOP dalam menentukan sekolah mana saja yang bisa menggelar UNBK, nanti saya cek sejauh mana kesiapan SMA di kita,”tutur Wakil Bupati Bandung, Gungub Gunawan ketika diwawancara saat melakukan peninjauan UN di SMAN 1 Baleendah, Senin (4/4).

Secara umum, walaupun tidak menggelar UNBK, partisipasi siswa yang mengikuti ujian cukup tinggi. Bahkan, di SMAN 1 Baleendah yang beberapa akses jalan terputus karena banjir, seluruh peserta ujian datang sebelum waktu ujian dimulai.

“Walaupun sedang banjir tapi siswa tetap datang tanpa ada kendala. Itu berkat sosialisasi yang dikakukan kepada orang tua siswa supaya bisa mendukung anaknya yang akan menghadapi ujian,”ujarnya.

Begitupun dengan distribusi soal, menurut Gungub walaupun beberapa daerah tergenang banjir, namun distribusi soal berjalan cukup lancar.

Kepala Sekolah SMAN 1 Baleendah, Aa Sudaya mengatakan, untuk tahun ini sekolah bekas RSBI tersebut memang tidak menggelar UNBK, karena beberapa alasan.

“Sekarang memang belum, tapi tahun depan kita sudah siap UnBK,”tutur Aa.

Secara umum, kata Aa, sarana dan prasarana SMAN 1 Baleendah sudah siap menggelar ujian secara online. Saat ini, sekolah tersebut telah memiliki 140 unit komputer, jumlah tersebut lebih dari cukup untuk kebutuhan ujian siswa.

“Jika melihat tahun ini, peserta 390 siswa, maka 130 komputer saja sudah cukup,”ungkapnya.

Begitupun dengan sambungan internet, dimana sekolah tersebut sudah terpasang internet dengan kapasitas cukup besar.

“Yang jadi ketakutan di beberapa sekolah yang menggelar UNBK adalah padam listrik. Kalau diperlukan, kita siap menyediakan jenset tahun depan,”imbuhnya.

Terpisah, Wakil kepala sekolah SMAN 1 Dayeuhkolot bidang Sarana dan Prasarana, Sri Mulyanto mengatakan, keterbatasan sarana san prasarana di SMA terutama yang berstatus negeri menjadikan sulit untuk menggelar UNBK.

Salah satu contohnya adalah SMAN 1 Dayeuhkolot, dimana saat inibterdapat 353 siswa pesera UN. Dengan jumlah siswa diatas 300 orang, setidaknya butuh 130 unit komputer.

“Kami hanya mempunyai 40 unit saja, belum lagi masalah jaringan yang belum mumpuni,”tutur Sri.

Dia merasa pesimis dalam waktu dekat bisa menggelar UNBK, mengingat masih banyak kebutuhan sarana dan prasarana yang dipersyaratkan.

“Kalau harus memaksakan, butuh biaya sangat besar. Satu unit komputer yang mumpuni harganya bisa mencapai Rp5juta, bisa dihitung berapa kebutuhan anggarannya. Sekolag tidak akan sanggup, kecuali kalau didrop oleh pusat,”paparnya. (Mld)

Loading...

loading...

Feeds