Lelang TPPAS Nambo Rugikan Negara Rp 480 Miliar

TPASS Sarimukti

TPASS Sarimukti

 


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Keputusan panitia lelang Proyek Tempat Pemilahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Nambo, Bogor yang memenangkan konsorsium Panghegar dipersoalkan. Untuk diketahui, konsorsium Panghegar yang bermitra dengan Malaysia dan Korea Selatan dalam surat panitia pengadaan tertanggal 18 Maret lalu dinyatakan sebagai pemenang pembangunan dan pengelolaan proyek TPPAS Nambo mengalahkan konsorsium Jabar Teknologi Industri (JTI).

Pimpinan Konsorsium JTI, Harsono, mengatakan, keputusan tersebut dianggap akan merugikan Negara sebesar Rp 480 miliar. Menurutnya, keputusan ini tidak jujur karena ada sejumlah unsur penting penilaian lelang yang diabaikan pihak panitia.

“Kami sudah kirimkan surat sanggahannya per 23 Maret kemarin. Kami menilai panitia tidak fair dalam melakukan penilaian,” kata Harsono saat dihubungi, Minggu (27/3).

Harsono membuka sejumlah poin krusial yang menurutnya penting yakni soal penawaran tipping fee (biaya pengelolaan sampah) yang akan dibebankan pada daerah. JTI menawarkan Rp 97.680 per ton, sedangkan Panghegar sebesar Rp 125 ribu per ton.

“Akan terjadi penghematan keuangan Negara jika tawaran kami yang masuk. Tapi penunjukan Panghegar akan memberikan potensi kerugian Negara sebesar Rp 480 miliar untuk masa konsensi 25 tahun,” paparnya.

Rendahnya penawaran tipping fee JTI ini karena pihaknya menawarkan model financial yang mendapatkan jaminan bank pemerintah dengan peringkat AAA atau diatas spesifikasi yang dipersyaratkan panitia. Sedangkan Panghegar selain lebih tinggi, juga hanya memberikan jaminan penawaran (bid bond) oleh bank peringkat A+.

“Ini lebih rendah bahkan dari spesifikasi yang ditentukan dalam dokumen lelang. Kami harusnya mendapatkan penilaian tertinggi,” keluhnya.

Menurutnya, dari sisi dokumen penawaran yang diajukan, konsorsium sudah menyampaikan sesuai dengan seluruh kualifikasi yang ditetapkan. Mulai dari aspek penggunaan teknologi dan spesifikasi proyek berdasarkan analisa dan kajian yang komprehensif.

Pihaknya juga menyayangkan panitia yang membandingkan lokasi pemrosesan sampah JTI di Semarang dengan Panghegar yang di Korea Selatan. Meski kapasitas di Semarang sudah sesuai dengan spesifikasi sebesar 500 ton per hari, namun membandingkan dengan kapasitas di Korea Selatan dianggap tidak fair.

“Kami mengundang mereka untuk melihat ke Turki, tapi mereka menganggap Turki bukan partner tender, hanya pendukung teknis,” ujarnya. Mengingat konsorsium Panghegar sebagian merupakan asing di antaranya Euronexis Malaysia, menurutnya berdasarkan lampiran Peraturan Menteri Luar Negeri No. 09/A/KP/XII/2006/01 tanggal 28 Desember 2006 butir 68, setiap dokumen Indonesia yang akan dipergunakan di negara lain atau dokumen asing yang akan dipergunakan di Indonesia perlu dilegalisasi oleh instansi yang berwenang.

“Ini tidak terlihat di dokumen peserta lelang konsorsium Panghegar. Ada indikasi tidak terpenuhinya syarat-syarat,” katanya.

Kepala Dinas Pemukiman dan Perumahan Jabar Bambang Riyanto membenarkan konsorsium Panghegar memenangkan lelang TPPAS Nambo dengan nilai Rp 602 miliar. Tender investasi lelang ini, menurutnya didasari pada dua penilaian, yakni teknis dan financial.

“Bukan semata-mata menilai teknis yang delapan item, dari penilaian bobot keluar nilai yang menang. Ini bukan seperti tender biasa yang hanya menghitung nilai tawaran terendah,” katanya.

Bambang mengakui penawaran JTI rendah. Namun, dari penilaian parameter financial yang tiga item, panitia menilai ada plus minus. Dari sisi model financial meski murah, namun dianggap tidak sehat oleh panitia.

Pihaknya berani memutuskan pemenang meski dari sisi Panghegar banyak kelemahan karena sudah berkonsultasi dengan KPPU dan LKPP. “Apakah ini sudah benar? Sudah tidak ada masalah,” ujarnya.

Meski mendengar informasi bahwa Panghegar tengah kesulitan keuangan, pihaknya menilai, dari sisi pendanaan, Malaysia dan Korea jauh lebih besar daripada Panghegar. “Tapi sekarang belum tanda tangan kontrak, kami masih menunggu masa sanggah dulu,” katanya.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, pihaknya memantau terus proses lelang TPPAS Nambo. Dia mengakui tender ini mengalami tarik menarik cukup alot.

Namun, kata Heryawan, penentuan pemenangnya tetap harus sesuai persyaratan. “Persyaratan menang itu salah satunya soal financial, kalau (keuangan bermasalah), ya harus bergabung dengan yang lain,” singkatnya. (agp)

Loading...

loading...

Feeds

Belajar Madu di Kedai Lebah

POJOKBANDUNG.com, RANCABALI – Tak hanya menyiapkan sajian madu asli, Kedai Lebah di Jalan Raya Ciwidey-Rancabali Kabupaten Bandung juga memberikan edukasi …