Minim Anggaran, BNPT Telusuri WNI yang Diduga ISIS

 


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG– Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) belum mau banyak berkomentar terkait dugaan 12 warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Kepala BNPT Saud Usman Nasution mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan penelusuran terkait hal itu.

Menurutnya, kepolisian bersama aparat penegak hukum lainnya tengah mencari informasi terkait hal itu. “Ini lagi dikembangkan. Kita tunggu saja penyidik mengembangkan dulu, kita enggak usah komentar dulu,” kata Saud dalam pengarahan mengenai pemahaman terorisme dan ISIS kepada guru dan pelajar se-Jawa Barat, di Sabuga, Bandung, Rabu (8/3).

Hadir dalam acara tersebut Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar serta anggota Komisi III DPR RI, Ruhut Sitompul. Saud mengaku pihaknya belum mengetahui identitas WNI yang diduga bergabung dengan ISIS tersebut.

Pihaknya masih menunggu perkembangan informasi dari tim di lapangan. “Kita lagi kejar info dengan tim di lapangan, jadi tidak usah dikomentari dulu,” katanya.

Lebih lanjut dia katakan, pemahaman terorisme ini rentan memengaruhi generasi muda khususnya pelajar. Maka dari itu, perlu adanya pemahaman sejak dini pada mereka agar tidak mudah terkena doktrin teroris.

Melalui acara seperti ini, pihaknya berharap semakin banyak generasi muda yang bisa terhindar dari paham-paham tersebut. Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar meminta semua pihak untuk terus waspada dan bersama-sama dalam mengantisipasi tumbuhnya paham radikalisme dan terorisme.

Menurutnya, saat ini paham-paham tersebut sudah masuk ke lingkungan sekolah dan berpotensi merusak generasi muda Tanah Air. “Tapi memang itu masuk ke kalangan pelajar. Kalau ada paham yg sangat mudah mengkafirkan orang dan merasa paling benar, itu kita harus hati-hati,” katanya.

Anggota Komisi III DPR RI Ruhut Sitompul menyayangkan minimnya anggaran untuk BNPT. Padahal, kata dia, BNPT memiliki tugas besar dalam menjaga keamanan dan keutuhan negara.

Hal ini berpengaruh terhadap tidak optimalnya BNPT dalam mencegah dan mengantisipasi terorisme dan paham radikalisme. “Sekarang saja anggarannya kurang dari setengah triliun (rupiah). Ini kecil, terus terang kami prihatin,” katanya. (agp)

Loading...

loading...

Feeds