Jabar Ingin Murnikan Sapi Pasundan

ilustrasi Sapi Pasundan

ilustrasi Sapi Pasundan

 


POJOKBANDUNG.com, BANDUNG– Dinas Peternakan Jawa Barat terus melakukan permunian gen pada sapi Pasundan. Sapi jenis ini merupakan andalan Jabar karena dianggap khas tatar Parahyangan.

Program pemurnian yang telah berlangsung sejak 2013 ini ditargetkan mampu menghasilkan sapi asli Jabar secara murni pada awal 2018 mendatang. Kepala Dinas Peternakan Jabar Dody Firman Nugraha mengatakan, proses pemurnian sapi Pasundan butuh waktu mengingat kegiatan reproduksi sapi ini berlangsung rata-rata setahun sekali.

Menurutnya, pemurnian dilakukan dengan melibatkan Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi. “Pemurniannya makan waktu cukup lama, bisa tiga sampai lima tahun. Tapi, kami berharap sudah terlihat di 2018, dan nanti spermanya akan dibagikan ke para peternak,” katanya di Gedung Sate, Bandung, Selasa (1/3).

Pihaknya optimistis, target tersebut bisa tercapai mengingat sapi Pasundan yang ditampung di balai telah memiliki tingkat kemurnian gen yang sudah terbilang tinggi dengan realisasi rata-rata di atas 90 persen. Dia menjelaskan, pemurnian dilakukan di Balai Pengembangan Pembibitan Ternak Sapi Potong di Kabupaten Ciamis.

Tempat ini telah menampung sebanyak 400 ekor sapi Pasundan. “Tahun ini, direncanakan akan ada penambahan sebanyak 50 ekor, sehingga jumlahnya menjadi 450 ekor,” katanya.

Menurut dia, mengingat kapasitas kandang di balai yang sangat terbatas, tempat ini tidak bisa menampung sapi dalam jumlah banyak. Selain soal jumlah kandang, pihaknya juga memikirkan ketersedian pakan hijauan bagi ternak.

Rencananya akan ada penambahan lahan hijauan pakan ternak seluas 9 Ha dari realisasi 10 Ha. “Harus tercukupi hijauan bagi ternak. Kami tidak mau mengambil risiko, populasi yang bertambah membuat ternak kekurangan hijauan,” ucapnya.

Lebih lanjut Dody katakan, sapi Pasundan sengaja dikembangkan karena memiliki keunggulan dibanding sapi impor. Sapi asli Jabar ini dikenal tahan banting dan mudah beradaptasi dengan potensi berat badan hingga 700-800 kilogram.

Hal ini berbeda dibanding sapi impor yang sangat rentan terjangkit penyakit dan repot dalam perawatan karena minumnya harus air artesis. Pengembangan sapi Pasundan juga sejalan dengan upaya pemenuhan kebutuhan daging sapi di Jabar.

Kebutuhan daging sapi di Jabar sangat tinggi yakni dalam setahun mencapai 515 ribu ekor. Dari angka tersebut, sapi lokal baru memenuhi 20 persen atau hanya sekitar 150 ribu ekor per tahun.

Selain sapi impor, pengembangan sapi Pasundan diharapkan dapat menghilangkan ketergantungan Jabar terhadap pasokan sapi dari provinsi lain seperti Jateng, Jatim, dan NTB. “Kami ingin Jabar mandiri akan kebutuhan daging sapi,” katanya.

Pengembangan sapi Pasundan juga diharapkan membantu pertumbuhan populasi sapi yang tahun ini ditargetkan sekitar 3 persen. Ini bukan perkara mudah karena permintaan pasar terhadap daging sapi terbilang sangat tinggi.

Jabar sendiri bukan tergolong provinsi produsen sapi seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, maupun Nusa Tenggara Timur. Saat ini, jumlah populasi sapi di Jabar masih stagnan pada kisaran 400 ribu ekor.

Sementara rata-rata provinsi produsen sapi memiliki populasi di atas 700 ribu hingga 4,7 juta ekor. “Permintaan tinggi karena konsumsi daging yang juga masih tinggi,” pungkasnya. (agp)

Loading...

loading...

Feeds

Sosok Habib Rizieq di Mata UAS

POJOKBANDUNG.com – Ustadz Abdull Somad (UAS) memberikan pandangannya terhadap sosok Habib Rizieq Shihab. Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu …