Aprindo Protes, Beda Penetapan Harga Kantong Plastik Berbagai Daerah

jumpers Aprindo tentang kantong plastik berbayar.

jumpers Aprindo tentang kantong plastik berbayar.

 
POJOKBANDUNG.com, BANDUNG–Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta pemerintah daerah (Pemda) untuk tidak melakukan intervensi terhadap ketentuan harga kantong plastik berbayar.


Wakil Ketua Umum Aprindo Tutum Rahanta mengatakan, ketentuan harga kantong plastik berbayar sudah ditetapkan dalam Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor S.1230/PSLB3-PS /2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar.

Tutum menyebutkan dalam surat yang diterbitkan 17 Februari 2016 itu disebutkan selama tiga bulan masa uji coba harga kantong plastik berbayar ditetapkan harga minimal Rp.200 per lembar. Namun sekarang muncul angka yang berbeda yang dilontarkan oleh sejumlah Pemda yang meminta harga yang lebih tinggi.

Akibat kesimpangsiuran tersebut, Aprindo mengaku banyak mendapat protes dari konsumen. Pasalnya, menurut dia, banyak konsumen yang merasa dirugikan akibat harus membayar kantong plastik lebih mahal.

“Kami jadi dianggap meraup untung, padahal selama ini tidak. Kami tidak mau implementasi kantong plastik berbayar itu melanggar hak konsumen. Yang selama ini jadi hak konsumen, sekarang bukan jadi hak mereka. Tapi kewajiban mereka untuk jaga lingkungan dengan tidak dapatkan kantong plastik itu,” jelas Tutum.

Oleh sebab itu, selama masa uji coba, Tutum meminta Pemda tetap memberlakukan ketentuan harga kantong plastik sebesar Rp200 per lembar.
Upaya ini dianggap secara perlahan menumbuhkan kesadaran konsumen untuk tidak lagi menggunakan kantong plastik pada saat berbelanja.

“Kami sangat mendukung pemerintah dalan pengurangan kantong plastik, tapi kalau soal harga urusan sekian. Kita khawatir akan kerusakan lingkungan akibat kantong plastik. Karena selama ini sebagian kantong plastik yang beredar sekitar 25% itu dari ritel modern,” katanya.

Pada masa percobaan ini, Tatum mengakui, pihaknya masih sering mendapatkan komplain dari
konsumen.

“Saat ini banyak keluhan di lapangan. Hal ini yang wajar, karena butuh waktu untuk sosialisasi. Ada pertanyaan dari konsumen, kemana uangnya? Nah, uang itu sebagai modal kami lagi. Kantong tidak dibebankan lagi ke kami. Ini sudah menjadi barang terpisah,” kata Tutum.

Ada juga konsumen yang keberatan membayar kantong plastik dengan harga Rp 200 per lembar. Mereka menganggap kantong plastik itu adalah hak mereka. Kepada peritel kami menganjurkan agar petugas kasir memberikan penjelasan kepada konsumen. Namun jika mereka memaksa, kasir diminta untuk memberikan saja.

“Kalau ada konsumen marah, saya minta kasir memberi kantong plastik. Tolong dijelaskan hak kantong plastik dicabut. Kalau mereka mau harus bayar,” katanya.

Tak semua konsumen keberatan dengan diberlakukannya “Kantong Plastik Berbayar” ada juga yang menganggap wajar konsumen harus membeli kantong plastik.

Bagi Aprindo soal harga kantong plastik sebesar Rp 200 itu sifatnya sementara. Anggota Aprindo hingga kini belum sepakat mengenai harga kantong plastik. Hal itu dikarenakan ukuran kantong plastik bermacam-macam, sehingga diambil harga tengah yakni Rp 200. Intinya Aprindo tak mau
membebani masyarakat dulu.

“Kita pilih minimal Rp 200. Itu sementara walaupun pilihan kita mungkin belum tepat, kita tidak ingin membebani masyarakat,” kata Tutum.

Aprindo berharap harga kantong plastik di seluruh Indonesia dibuat sama. Pasalnya jika berbeda akan menimbulkan banyak komplain “Jika harganya beda, nanti bisa ribut. Toko kami antar daerah sangat dekat, Apa tidak kacau kalau beda harga antar wilayah perbatasan. Jangan diganggu sistem
perdagangan kami,” kata Tutum.

Aprindo masih mencari solusi sebagai pengganti kantong plastik yang murah dan sesuai dengan keinginan konsumen. Dia mengajak semua masyarakat menggalakkan kampanye kantong plastik berbayar ini.

“Kami masih mencari solusi sebagai pengganti (kantong plastik) yang murah dan sesuai dengan konsumen. Yang diperlu dibangun kesadaran masyarakat,” ujar Tutum. (*)

Loading...

loading...

Feeds