Proyek Stasiun Kereta Cepat Harus Diimbangi Danau Retensi

proyek kereta cepat jakarta bandung

proyek kereta cepat jakarta bandung

POJOKBANDUNG.com, BOJONGSOANG– Pembangunan stasiun Kereta Api Cepat Jakarta Bandung di Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, harus diiringi dengan pembangunan danau retensi pengendali banjir.


Asisten daerah Pemkab Bandung Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Marlan mengatakan, Tegalluar merupakan daerah yang diperuntukan bagi industri dan pemukiman.

Namun, karena daerah tersebut sangat rawan terjadi banjir karena merupakan titik terendah cekungan Bandung, maka setiap investor yang mau melakukan pembangunan, diharuskan membuat danau retensi pengendali banjir dan limbah.

“Jadi sebelum masuk ke (sungai) Citarum, ditampung dulu ke danau itu,” tutur Marlan, Minggu (21/2).

Jika melihat luas lahan tegalluar yang hanya 3.500 hektare, maka paling tidak diperlukan danau retensi seluas 300 hektare. Dengan luas danau rentensi tersebut, maka bisa menampung air dari Wilayah Sumedang,sehinga bisa mengendalikan banjir di wilayah timur Kabupaten Bandung.

Namun, Marlan masih belum mengetahui pasti luas lahan yang akan digunakan pelaksana proyek kereta cepat untuk pembuatan danau tersebut. Sebab, saat ini Pemkab Bandung masih dalam proses penyesuaian RTRW dengan provinsi dan pusat. Kepastian luas lahan untuk danau ini tergantung pada hasil pembahasan bersama pemprov dan pemerintah pusat nanti.

“Ada beberapa penyesuaian dari pusat dan provinsi. Karena memang ini harus sejalan,” ujar dia.

RTRW Kabupaten Bandung sendiri sebetulnya sudah rampung. Tapi perlu ada perubahan untuk disesuaikan dengan proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung dan Light Rail Transit (LRT) di Bandung Raya yang dibangun secara teringrasi. Bagian yang akan diubah, kata Marlan, yakni berkaitan konsep pengembangan Tegalluar.

Sementara itu, Bupati Bandung Dadang Naser menjelaskan pembangunan proyek kereta cepat ini akan menggunakan lahan seluas 420 hektare di kawasan Tegalluar. Menurut dia, berdasarkan kesepakatan di awal, pembangunan proyek nasional tersebut tetap mewajibkan pembangunan danau retensi.

“Di sana, yang pasti, harus dibangun danau kalau berdasarkan perjanjian awalnya. Pembangunan danaunya juga harus diparsialkan,” tutur dia.

Dadang melanjutkan, danau retensi itu akan mampu menangani persoalan banjir yang kerap melanda wilayah timur Kabupaten Bandung. Sejumlah lahan pun telah dibeli pemkab Bandung untuk dibikin tempat penampungan air. Upaya pembelian lahan ini termasuk untuk menangani persoalan banjir yang selalu melanda Kampung Cieunteung Kecamatan Baleendah.

Tak hanya Baleendah, bencana banjir diakui juga kerap terjadi kecamatan Rancaekek. Khusus untuk penanganan banjir di Rancaekek, kata Dadang, perlu campur tangan pemprov untuk memediasi antara pemkab Sumedang dan pemkab Bandung. Karena, titik banjir di Rancaekek ini berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sumedang.(mld)

Loading...

loading...

Feeds